Sebelum kalian mengambil langkah gegabah dalam melihat kondisi anak yang susah makan, sebagai orangtua yang bijaksana harus melihat terlebih dahulu apa saja penyebab anak Anda sulit atau nafsu makannya berkurang. Pertama, anak tidak merasa lapar; asupan makanan berupa pendamping Air Susu Ibu (ASI), membuat anak tidak merasa laapar diwaktu jam makan tiba, apalagi kalau makanan yang diberikan itu - itu saja. Jadi ketika ingin memberika ASI, kalian harus melihat dulu jam makan anak mams, dan usahakan makanan - makanan menu baru agar si anak tertarik untuk mencobanya. Karena di usia ini rasa penasarannya begitu tinggi.
Kedua; Mulai memiliki Selera Sendiri: Nah seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa dalam pertumbuhan anak diusia kritis tersebut rasa ingin tahunya begitu besar, termasuk dalam soal makanan mams. Si anak dalam usianya tersebut mulai memiliki seleranya sendiri. Jangan sampai memberi makanan yang rasanya asrep atau tawar. Menu - menu baru harus dihidangkan, terutama makanan yang memang menjadi favoritnya. Ketiga; Anak lebih asik dengan Dunianya, Kegiatan eksplorasi anak pasti bakal meningkat di usia - usia tersebut. Berbagai jenis mainan pasti bakal dicobanya, sampai terkadang di gigit oleh anak. Mereka akan menggigit apapun yang dilihat, pengennya berjalan kemanapun Ia mau, dan mencoba hal - hal baru lainnya. Bagi si anak diusia tersebut makan merupakan suatu hal yang membosankan. Baca SELENGKAPNYA DISINI
sekedartulisan
Selasa, 08 November 2016
Selasa, 01 November 2016
loh Ko Ada ya Makanan Terbuat Dari Tanah Liat, Kuliner Khas Cirebon Ternyata!
Kuliner Cirebon, fokuscirebon.com - Cirebon, saat ini menjadi target wisata baik lokal sampai manacanegara sekalipun. Salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Kota Wali ini yaitu selain wisata religi sejarahnya, Kuliner menempati urutan kedua. Bisa dikatakan kuliner (masakan dan jajanan tradisional) Cirebon unik - unik dan menganduk magnet tersendiri. Ada yang menggunakan pasir pengganti minyak, menggunakan gentong pengganti panci. Diantaranya yaitu jamblang, lengko, kerupuk melarat, dan terahir yaitu bahan bakunya dari tanah liat yaitu AMPO, jajanan tradisional khas Cirebon. Rugi sekali apabila berkunjung ke Cirebon tidak membawa Ampo sebagai oleh - oleh. Berikut ulasan lengkap menganai Ampo yang terbuat dari TANAH LIAT!
BACA JUGA: KESENIAN BUROK KHAS CIREBON, MASIH MENJADI IDAMAN PERTUNJUKAN MASYARKAT CIREBON DAN SEKITARNYA!
Bagi warga Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan yang merupakan bagian dari wilayah tiga Cirebon (Ciayumajakuning) sangat terlalu jika tidak mengetahui jajanan tradisional kuliner satu ini. Para wisatawan di luar Ciayumajakuning [un tentunya wajib tahu mengenai kuliner yang satu ini. Apa itu Ampo dan bagaimana pembuatan serta dimana membelinya?
BACA JUGA: KESENIAN BUROK KHAS CIREBON, MASIH MENJADI IDAMAN PERTUNJUKAN MASYARKAT CIREBON DAN SEKITARNYA!
Bagi warga Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan yang merupakan bagian dari wilayah tiga Cirebon (Ciayumajakuning) sangat terlalu jika tidak mengetahui jajanan tradisional kuliner satu ini. Para wisatawan di luar Ciayumajakuning [un tentunya wajib tahu mengenai kuliner yang satu ini. Apa itu Ampo dan bagaimana pembuatan serta dimana membelinya?
Permbuatan Sertifikat Tanah Ternyata Cuman Rp 50 ribu
Sertifikat (akta) tanah, fokuscirebon . com - Tanda bukti atau sebuah dokumen begitu penting di miliki oleh setiap orang sebagai hak miliki atas suatu barang, tidak terkecuali dengan TANAH. Warga desa pada umumnya kerap sekali tidak memperdulikan atas akte tanah, sehingga sering sekali muncul kasus gugat menggugat tanah. Mulai sekarang tanah yang dimiliki Anda sesegeralah didaftarkan kepada Badan Pertanahan Nasional sekaligus pembuatan akta tanah. Mahal? Biaya mengurus sertifikat tanah hanya Rp 50 ribu, tanpa menggunakan jasa calo atau notaris. Bagaimana caranya? Simak ulasan artikel dibawah ini sampai selesai!
BACA JUGA: Ingat Semua Pembuatan Dokumen Kependudukan GRATIS! Ini Info yang Perlu Diketahui Semua Warga
Karena kesibukan, malas, atau tidak mau atas peraturan perundang - undangan yang berlaku tidak sedikit warga yang ketika ingin melakukan pembuatan sertifikat tanah menggunakan jasa pihak ketiga, bisa calo, bisa juga menggunakan notaris. Tentu pembuatan akta menggunakan jasa orang lain jelas akan lebih mahal, karena setiap orang mengambil keuntungan. Harga tiap jasanya pun berbagai macam, tergantung luas tanah. Di kota yang pada umumnya SDM lebih maju juga banyak yang menggunakan calo, apalagi di desa, jarang sekali yang memiliki sertifikat atas tanahnya.
Baca Selengkapnya Disini
BACA JUGA: Ingat Semua Pembuatan Dokumen Kependudukan GRATIS! Ini Info yang Perlu Diketahui Semua Warga
Karena kesibukan, malas, atau tidak mau atas peraturan perundang - undangan yang berlaku tidak sedikit warga yang ketika ingin melakukan pembuatan sertifikat tanah menggunakan jasa pihak ketiga, bisa calo, bisa juga menggunakan notaris. Tentu pembuatan akta menggunakan jasa orang lain jelas akan lebih mahal, karena setiap orang mengambil keuntungan. Harga tiap jasanya pun berbagai macam, tergantung luas tanah. Di kota yang pada umumnya SDM lebih maju juga banyak yang menggunakan calo, apalagi di desa, jarang sekali yang memiliki sertifikat atas tanahnya.
Baca Selengkapnya Disini
Jumat, 28 Oktober 2016
Lomba blog domainesia: Fokuscirebon
Kompetisi Blog, Fokuscirebon - Dalam rangka ulang tahun Blogger yang baru saja digelar pada tanggal 27 Oktober, berbagai kompetisi menulis blog dilakukan dalam rangka memperingatinya. Hadiahnyapun tidak tanggung - tanggung mencapai angka puluhan juta rupiah guys. Lomba yang satu ini juga tidak lah menarik, digelar oleh DomaiNesia.com dengan total hadiah puluhan juta. Sperti apa syarat dan ketentuan lombablog DomaiNesia tersebut? Ayo tunjukan kemampuanmu dan jadilah pemenang DomaiNesia blog competion, GRATIS! Simak ulasan lengkapnya dibawah ini guys, dan daftarkan blog kesayanganmu!
HADIAH LOMBA BLOG DOMAINESIA
Ada bebera hadiah keren yang diperebutkan dalam lomba blog ini guys, pasti kalian bakalan tertarik untuk mengikutinya. Berbagai hadiah yang akan diperebutkan diantaranya yaitu sebagai berikut:
Juara 1: Smartphone Xiaomi Redmi Note 3 Pro - 16GB + MicroSD 8GB
+ 1 thn Hosting SUPER + Kaos DomaiNesia + e-Certificate
Baca Selengkapnya di sini
HADIAH LOMBA BLOG DOMAINESIA
Ada bebera hadiah keren yang diperebutkan dalam lomba blog ini guys, pasti kalian bakalan tertarik untuk mengikutinya. Berbagai hadiah yang akan diperebutkan diantaranya yaitu sebagai berikut:
Juara 1: Smartphone Xiaomi Redmi Note 3 Pro - 16GB + MicroSD 8GB+ 1 thn Hosting SUPER + Kaos DomaiNesia + e-Certificate
Baca Selengkapnya di sini
Rabu, 26 Oktober 2016
Info Hotel di Cirebon yang Terjangkau, Ini Rangkumannya!
Fokuscirebon.com , fokuscirebon.blogspot.com , hotel cirebon metland - FASILITAS UNGGULAN HOTEL CIREBON METLAND Fasilitas taman yang diberikan oleh pihak manajemen hotel Metland begitu
istimewa, terlihat indah dengan luas 2.000 meter persegi. Tempat
istirahat dan berbincang-boncang indoor maupun Outdoor dengan tempat
duduk yang nyaman. Selain itu, menawarkan juga berbagai jenis makanan
dan kuliner yang menarik, enak, unik, yang akan menambah pengalaman
bersantap Anda.
2. Statsioen Koffie Lounge
Disekitaran taman juga terdapat tempat yang didesain seperti warung
dengan tampilan yang unik, tradisional, kasualm namun tetap dengan
suasana formal. Taman Umah Kebon Hotel Cirebon Metland ini merupakan
tempat yang cocok dan sempurna untuk bersantai, berbincang dengan
keluarga, teman, sahabat, dan juga berbagai resepsi seperti pernikahan,
ulang tahun, gathering dan acara Anda lainnya.
2. Statsioen Koffie Lounge
Fasilitas unggulan yang menjadi
Icon dari Hotel Cirebon Metland yang tidak kalah menarik yaitu adanya
tempat yang didsaein seperti kafe-kafe moderen. Bertempat di lantai 1,
menawarkan banyak sekali pilihan menu, mulai dari minuman segar sampai
makanan ringan juga tersedia. Secangkir kopi atau teh di Statsioen
Koffie Lounge Hotel Metland akan menambah suasana intim percakapan Anda
bersama teman, keluarga atau mitra bisnis Anda. INFO SELENGKAPNYA KLIK FOKUSCIREBON
Sabtu, 09 Januari 2016
Berjamaah Melawan Korupsi = Menyelamatkan Peradaban
Oleh Epri Fahmi Aziz[1]
Sejarah
telah membuktikan bahwa memang korupsi di Nusantara ini sudah mendarah daging.
Perilaku korup tak hanya ‘heboh’ di era modernitas saat ini. Jauh sebelum
Nusantara memerdekan diri menjadi Indonesia, prilaku korup sudah tercermin pada
era kerajaan. Dimana syahwat ingin merebut kerajaan demi kekuasaan dan
menguasai sumber ekonomi menjadi faktor utamanya[2].
Tapi,
pada era tersebut korupsi belum sampai memasuki sendi – sendi kehidupan
masyarakat. Perilaku korup hanya dilakukan oleh raja – raja dan para abdi dalem
kerajaan. Berbeda dengan era sekarang, ditengah – tengah hiruk pikuk modernitas
justru korupsi semakin meraja rela. Perilaku korup dipraktikan seumur hidup,
dari mulai mengurus akte kelahiran sampai mengurus pemakaman. Tak jarang
korupsi pun menjerat orang – orang yang menjadi simbol kenegaraan (Eksekutif
dan legislatif) dan sekaligus simbol tiang penjaga peradaban (polisi,hakim, dan
jaksa). Apa penyebabnya?
Ditengah
– tengah gegap gempita dunia moderen yang sarat akan tantangan, cobaan dan
permasalahan (terutama soal korupsi), nilai – nilai spiritual tak lagi
diindahkan. Perkembangan dan kemjauan zaman tidak diiringi dengan kesadaran
akan keberagamaan. Padahal, nilai – nilai spiritual sangatlah penting sebagai
sumber moral dalam mantra kehidupan sosial. Karena dengan nilai – nilai
spiritual itulah suara hati setiap insan tak akan terbelenggu.[3]
Budaya
modernitas ini salah satu strateginya yaitu memecah masyarakat kedalam dua
kelompok; ‘dunia saja’ atau akhirat saja. Apa yang terjadi apabila dua aspek
tersebut menjadi pilihan? Sudah bisa dipastikan bahwa erosi kehidupan
masyarakat akan terjadi. Salah satu sikap paling mengerikan yang telah
dilestarikan budaya modern yaitu manusia – dalam situasi dan kondisi apapun –
dilarang untuk mempercayai suara hatinya. Hal ini tercermin dengan hilangnya iman, dan
dibuktikan dengan lunturnya moral, integritas, dan yang lebih mengerikan yaitu
praktik korupsi semakin massif, sistematis dan terstruktur. Dikotomi pemikiran
‘dunia saja’ atau ‘akhirat saja’ yang harus kita hindari. [4]
Seperti
yang sudah dijelaskan diatas, pemikiran ‘dunia saja’menuntut masyarakat modern
membuat kasta baru. Dimana keterhormatan hidup dilambangkan dengan kekayaan.
Artinya, dalam struktur masyarakat moderen orang yang paling banyak jumlah
kekayaannya menempati posisi yang paling tinggi. Karena ‘keterhotamatan’
tersebut secara tidak sadar manusia berlomba – lomba ingin mendapatkan harta
sebanyak – banyaknya. Pekerjaan tak lagi dimaknai sebagai ‘pengabdian’, tetapi
hanya disikapi sebagai jalan untuk mendapatkan harta, dan akhirnya manusia
tereduksi hanya sebagai mesin pencari uang.
Pendapat
diatas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gus Mus, menurutnya, korupsi bisa
membudaya di Indonesia karena masyarakatnya (semua, tak terkecuali pejabat)
begitu cinta dengan harta duniawi. Materi dijdikian sebagai ukuran
kesejahteraan. Kekayaan lahir menjadi idaman, sementara kekayaan batin
terlupakan. Pada akhirnya Kepentingan duniawi
mengalahkan Tuhan, melecehkan kemanusiaan, dan mempersetankan pessatuan
dan persaudaraan.[5]
Paparan
diatas semakin kuat apabila merujuk pada
buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah, yang menempatkan
korupsi sebagai ‘syirik’ moderen. Karena manusia khususnya umat islam yang
mayoritas menghuni bumi pertiwi tak lagi meyakini Allah sebagai Tuhannya.
Tetapi, uang sebagai kekuatannya[6].
Sebagai bangsa dengan pancasila yang dijadikan falsafah dasar kehidupan
berbangsa dan bernegara, seharusnya menyelaraskan kehendak berketuhanan dan
berkemanusiaan.
Di
Asia, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup. Hal ini
berdasarkan survey yang dilakukan oleh Tranparancy
Internatioal. Indonesia mendapatkan skor 9,25 (10 terkorup), di atas India
(8,9), Filiphina (8,33) dan Thailand (7,3). Melihat kondisi seperti saaat ini,
penangan pemberantasan korupsi harus dilkukan secara multidimensional, dan
melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Penulis
berfikir untuk memberantas korupsi harus ada pemotongan generasi. Anak – anak
sebagai penerus bangsa harus diberikan pendidikan mengenai pembentukan mental,
serta karakter agar anak kelak jauh dari perilaku dan perbuatan korupsi. Pendidikan anti korupsi harus
diajarkan sedini mungkin. Penulis sudah mempraktikan hal ini dengan membuat
sebuah komunitas di Kota Cirebon, dengan diberi nama “Taman Ceria”. Maksud dari
komunitas ini yaitu memberikan pendidikan (karakter) terhadap anak – termasuk
kecerdasan emosi (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) - , serta memberikan
pengetahuan kepada para orang tua agar membiasakan anak – anaknya untuk
bersikap jujur sedini mungkin.
Kenapa
penulis membuat komunitas yang mengajarkan kepada anak terkait EQ dan SQ,
karena dibangku – bangku sekolah dari mulai SD sampai perguran tinggi dengan
kurikulum yang liberalistik hanya menekankan kepada aspek kognitif. Aspek EQ dan SQ tidak diajarkan, padahal kedua
aspek tersebut yang akan membentuk karakter manusia yang lebih humanis, dan tidak hanya kesalehan individu, juga memiliki
kesalehan sosial. Dengan pendidikan karakter (EQ dan SQ) yang mendasar dengan
pancaran rukun iman, islam dan ihsan, diharapkan membentuk pemahaman, visi,
sikap dan integritas yang didasari atas kesadaran diri dan suara hati yang
terdalam. Kemudian, memunculkan kembali rasa kebanggaan dan kesadaran bahwa
islam tuntunan keberhasilan yang sempurna, yang akan menciptakan bangunan
manusia yang ‘hebat’. Dan hadir sebagai sumber daya untuk kemajuan dan
kemakmuran bumi (pertiwi).
Oleh
karena itu, mari kita berjihad, jihadnya tuh disini, bukan ke syuriah atau
afganistan, jihad melawan korupsi, sebuah kemaksiatan yang lebih akbar. Sudahi
saja perdebatan yang berkutat dalam level simbolik, seperti menegakan negara
islam, pemerintahan islam, dan hal yang serupa dengan itu. Sebagai agama rahmatan lil alamin, dengan amar maruf
nahi mungkarnya, kita memiliki kewajiban moral untuk memberantas korupsi dalam
rangka menyelamatkan peradaban. Bukannya begitu saudaraku, sebangsa dan setanah
air? Hanya kesadaranlah syarat mutlak transfomasi sosial.
[1] Mahasiswa jurusan Akuntansi FE Unswagati, dengan moto hidup
“Memanusiakan Manusia”.
[2] Pendidikan Anti Korupsi, yang ditulis oleh Drs. Sulaiman M.Mpd
[3] Dajjal Datang Kiamat Tiba, ditulis oleh Jameela Binti Muayyad
[4] Buku ESQ, yang ditulis oleh Ari Ginanjar Agustian
[5] Wawancara terhadap Gusmus di
salah satu media online nasional, penulis lupa link wawancara tersebut.
[6] Buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah
Indonesia Sasaran Empuk MEA
Oleh Epri Fahmi Aziz
Pasar bebas (Free Market) saat ini sudah berada
dihadapan kita, terutama semenjak menginjakan kaki diawal tahun 2016 ini, Ecomoic ASEAN
Comunity (AEC) atau yang lazim disebut dan dikenal oleh halayak umum dengan sebutan
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai diberlakukan. Mau tidak mau, suka
tidak suka, keniscayaan akan pasar bebas akan kita alamai. Sudah saatnya kita,
membuka mata, pola pikir, untuk menyongsong dan melihat kehidupan di masa yang
akan datang. Pada dasarnya, pembentukan MEA memiliki tujuan yang baik yaitu
ingin mengintegrasikan negara ASEAN agar mempercepat pertumbuhan ekonomi,
kemajuan sosial, dan pengembangan budaya. Tapi, sudahkah ada persiapan dari
pemerintah atau dari diri kita pribadi untuk bersaing dan bisa bertahan dalam
kancah global tersebut?
Siapa
sangka deklarasi pembentukan ASEAN sudah ditabuh sejak tahun 1967, pada saat
itu diawali dengan disahkannya Deklarasi Bangkok. Lalu setelah itu, pada tahun
1997 digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, di Kuaa Lumpur, Malaysia.
Dengan disahkannya visi ASEAN 2020 yaitu menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang
stabil, makmur dan memiliki daya saing dengan ditandai dengan arus bebas,
barang, jasa, investasi dan tenaga kerja dan liberalisasi perdagangan.
Selanjutnya pada KTT ASEAN berikutnya membicarakan arah untuk mencapai tujuan
tersebut. Terahir pada saat KTT ASEAN di BALI, pada tahun 2003 dan dikenal
dengan sebutan BALI Concord II menyepakati untuk pembentukan AEC 2015 perwujudannya diarahkan kepada integrasi
kawasan ekonomi yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
AEC
Blueprint (2003) ini merupakan bahan yang dijadikan rujukan bagi negara ASEAN
dalam mewujudkan AEC 2015. Adapun AEC
blueprint ini mempunyai 4 pilar yaitu, (1) Sebagai Psar tunggal, berbasis
produksi tunggal, yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa,
investasi, tenaga kerja, dan aliran modal yang lebih bebas. (2) Sebagai kawasan
daya saing ekonomi tinggi. Pengembangan infrastruktur. (3) Sebagai kawasan ekonomi
yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah. (4) Sebagai
kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dalam hubungan ekonomi diluar kawasan , dan
meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global. Dari 4 poin tersebut,
persiapan sejauh mana yang sudah dilakukan ? padahal sudah puluhan tahun
digaungkan.
Semenjak Indonesia di pimpin oleh Presiden kita yang ‘naik
daun’ oleh media ini menjabat yaitu Jokowow, eh salah Joko Widodo maksudnya.
Sering sekali mengicau soal produktivitas. Seperti biasa, Presiden kita yang
satu ini memang hobi cicit – cuit, dan hasil pun seperti biasa, cuman suaranya
saja yang terdengar. Banyak sekali kebijakan – kebijakan liberal-ekonomi yang
diterapkan, terutama soal pencabutan subsidi dengan dalih untuk dialihkan ke sector
produktif. Klasik dan klise banget. Produktif yang mana Pak? Buat pembangunan
infrastruk penujang Kapitalisme itu disebut produktif? Sedangkan masyarakatnya
terus dibiarkan konsumtif.
Indonesia – secara keseluruhan – masyarakatnya memang
dibikin konsumtif, dan Pemerintah seolah tidak sadar akan hal ini. Selama
masyarakatnya masih konsumtif, dan tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk
melindungi dan membuak masyarakatnya jadi produktif, selama itu juga mau
globalisasi, mau MEA, dan apapun itu tidak akan membuat kita menjadi negara
maju, dalam hal ini masyarakatnya makmur (sandang – pangan – papan). Bohong,
dan pembohongan publik apabila MEA akan berdampak positif, apabila dampak –
dampak negatifnya tidak dibendung.
Penduduk Kita paling banyak di Negara Asean, ini
dikoar – koar sebagai potensi, ia potensi apabila dimaksmalkan, di produktifkan
SDMnya. Kenayataannya? Jauh panggang dari api. Dengan jumlah penduduk yang
mayoritas mengalami penyakit ‘konsumsi’, justru akan menjadi keuntungan bagi
importir-importir kapitalisme tulen. Apa yang kita dapat? Cuman tren, image,
gengsi, status, udah cuman itu, yang semuanya semu. Kesajteraan apalagi?
Merubah Pola Pikir dan Pola
Pembangunan
Seperti
yang kita ketahui bersama, perlu model pembangunan yang tepat dalam
menyelenggarakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Indonesia ini memiliki
Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa, model pembangunan konvesnional yang
mengeksploitasi SDA sudah saatnya untuk ditinggalkan. Kini kita sudah saatnya
beralih pada model pembangunan “Konservasi Alam”, itu yang pertama.
Selanjutnya, untuk menghadapi MEA ini perlu karakteristik bangsa yang sangat
kuat yaitu dengan mencuatkan kembali kearifan lokal dan budaya Indonesia di
kancah global. Ketiga, Ekonomi Sosialis yang pernah digagas oleh Syahrir dan
Bung Hatta masih relevan untuk dijadikan model rujukan pembangunan ekonomi.
Mari
kita bahas satu per satu, pertama yaitu pembangunan konvensional lazim
diartikan sebagai usaha eksploitasi SDA menghasilkan output produk sebesar –
besarnya dengan biaya seminimal mungkin (Sifat Dasar Kapitalisme). Tolak ukur
keberhasilan pembangunan selalu mengacu kepada Produk Domestik Bruto (PDB).
Semakin banyak SDA yang terolah maka akan semakin menaikan PDB, dan semakin
orang memiliki uang yang banyak semakin banyak pula dia bisa menikmati SDA.
Karena
itu isi Alam kita tidak digubris dalam pola pembangunan yang mengandalkan nilai
manfaat-biaya yang terbentuk dipasar. Sebagai akibatnya berlangsunglah pola
pembangunan yang merusak alam dan lahirlah Kota, Jalan, industri, pertambangan,
yang didorong oleh nafsu eksploitasi SDA untuk mengubahnya menjadi “Alam Binaan
Manusia” hasil teknoilogi otak dan pikiran manusia. Inilah yang disebut sebagai
antrhopo-centris (Manusialah pusat segala kehidupan alam). Pola pikir
antrhpo-centris inilah dasar dari nafsu hidup untuk ‘menaklukan lam’. Maka dari
itu pola pikir antrhopo-centris harus kita ubah menjadi eko-sistem centris.
Cara mengubahnya yaitu dari kepentingan manusia menjadi kepada kepentingan
sistem ekologi yang menopang peri-kehidupan manusia dan isi alam semuanya.
Pola
pembangunan eko-sistem centris ini menaikan nilai tambah SDA dengan sains dan
teknologi. Bukan pohon ditebang kemudian diekspor, atau tanah dikeruk kemudian
dijual, tapi bisa dimanfaatkan sebagai tempat hunian micro organisme yang bisa
ditransformasikan sebagai obat, kosmetik, pangan yang lebih tinggi nilainya. Cara
berfikir pembangunan tidak melulu menghitung biaya-manfaat ekonomi produk,
tetapi juga biaya-manfaat serta dampak lingkungan dalam menghasilkan produk
tersebut. Pembangunan harus jangka panjang, SDA tidak hanya untuk dinikmati generasi masa kini, tetapi
juga demi kemaslahatan generasi demi generasi masa depan.
Selain
itu, kecintaan terhadap kearifan lokal dan budaya harus benar – benar
ditingkatkan. Sebagai mana masyarakat adat pada umumnya sangat menghargai dan
menjaga alamnya. Kearifan lokan dan kecintaan kita terhadap budaya ibu pertiwi
bisa dijadikan sebagai dasar untuk menumbuhkan karakter bangsa, memuncuklan
jati diri bangsa. Di era globalisisi dengan MEA sebagai awal merupakan saatnya
kita untuk menunjukan kepada dunia global bahwa kita memiliki budaya yang
luhur, agung, kearifan lokal yang beragam, dan masyrakat yang bertika dan
bermoral. Ini perlu diperhatikan oleh semua unsur elemen, karena merupakan hal
yang tidak boleh dilewatkan. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menjaga
dan mengembangkan nilai – nilai luhurnya (Budaya dan Keraifan lokal).
Ekonomi
Sosialis atau ekonomi kerakyatan bukan semata – mata dengan menciiptakan UMKM,
akan tetapi mendirikan komunitas – komunitas ekonmi secara kolektif dengan peran
aktif dari anggota komunitas itu sendiri. Dari kesadaran berkolektif untuk
membangunan suatu perekonomian maka akan menghasilkan input yang efektif
ketimbang kesadaran individu untuk bersaing. Dengan adanya komunal – komunal
yang memiliki sistem perekonmian dan pasarnya sendiri maka pemerataan
pendapaatan bisa diwujudkan dan akhirnya kesenjangan ekonomi bisa
diminimalisir. Ekonomi sosialis sebagai contoh bisa dengan membentuk koperasi –
koperasi. Akan tetapi, sayangnya koperasi di Indonesia ibarat anak tiri yang
tidak diperhatikan keberadaannya.
Itulah
langkah kecil yang mungkin kita bisa lakukan untuk meghadapi persaingan di masa
yang akan datang. Perlu adanya kesadaran dari kita semua, terutama generasi
muda untuk memberikan kontribusi baik itu berupa gagasan, kritikan, masukan,
bahkan gugatan kepada pemerintah yang didasari atas semangat cinta-kasih kita terhadap
Indonesia, negri yang terkenal subur tanahnya. Dan karena itu kita terus –
terusan dijajah dengan berbagai bentuk dan cara yang baru
(Neo-imperialisme),salah satunya globalisasi dan MEA. Kita agar dapat dengan serius
mempersiapakan MEA.. Sudah saatnya menggunakan otak dan nurani kita untuk
Indonesia. Apa jadinya kalau kita semua
tidak siap dan tidak mempersiapkan ? Mau dibawa kemana Indonesia? Hanya
kesadranlah syarat mutlak adanya transformasi.
Langganan:
Komentar (Atom)




