Oleh Epri Fahmi Aziz
Pasar bebas (Free Market) saat ini sudah berada
dihadapan kita, terutama semenjak menginjakan kaki diawal tahun 2016 ini, Ecomoic ASEAN
Comunity (AEC) atau yang lazim disebut dan dikenal oleh halayak umum dengan sebutan
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai diberlakukan. Mau tidak mau, suka
tidak suka, keniscayaan akan pasar bebas akan kita alamai. Sudah saatnya kita,
membuka mata, pola pikir, untuk menyongsong dan melihat kehidupan di masa yang
akan datang. Pada dasarnya, pembentukan MEA memiliki tujuan yang baik yaitu
ingin mengintegrasikan negara ASEAN agar mempercepat pertumbuhan ekonomi,
kemajuan sosial, dan pengembangan budaya. Tapi, sudahkah ada persiapan dari
pemerintah atau dari diri kita pribadi untuk bersaing dan bisa bertahan dalam
kancah global tersebut?
Siapa
sangka deklarasi pembentukan ASEAN sudah ditabuh sejak tahun 1967, pada saat
itu diawali dengan disahkannya Deklarasi Bangkok. Lalu setelah itu, pada tahun
1997 digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, di Kuaa Lumpur, Malaysia.
Dengan disahkannya visi ASEAN 2020 yaitu menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang
stabil, makmur dan memiliki daya saing dengan ditandai dengan arus bebas,
barang, jasa, investasi dan tenaga kerja dan liberalisasi perdagangan.
Selanjutnya pada KTT ASEAN berikutnya membicarakan arah untuk mencapai tujuan
tersebut. Terahir pada saat KTT ASEAN di BALI, pada tahun 2003 dan dikenal
dengan sebutan BALI Concord II menyepakati untuk pembentukan AEC 2015 perwujudannya diarahkan kepada integrasi
kawasan ekonomi yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
AEC
Blueprint (2003) ini merupakan bahan yang dijadikan rujukan bagi negara ASEAN
dalam mewujudkan AEC 2015. Adapun AEC
blueprint ini mempunyai 4 pilar yaitu, (1) Sebagai Psar tunggal, berbasis
produksi tunggal, yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa,
investasi, tenaga kerja, dan aliran modal yang lebih bebas. (2) Sebagai kawasan
daya saing ekonomi tinggi. Pengembangan infrastruktur. (3) Sebagai kawasan ekonomi
yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah. (4) Sebagai
kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dalam hubungan ekonomi diluar kawasan , dan
meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global. Dari 4 poin tersebut,
persiapan sejauh mana yang sudah dilakukan ? padahal sudah puluhan tahun
digaungkan.
Semenjak Indonesia di pimpin oleh Presiden kita yang ‘naik
daun’ oleh media ini menjabat yaitu Jokowow, eh salah Joko Widodo maksudnya.
Sering sekali mengicau soal produktivitas. Seperti biasa, Presiden kita yang
satu ini memang hobi cicit – cuit, dan hasil pun seperti biasa, cuman suaranya
saja yang terdengar. Banyak sekali kebijakan – kebijakan liberal-ekonomi yang
diterapkan, terutama soal pencabutan subsidi dengan dalih untuk dialihkan ke sector
produktif. Klasik dan klise banget. Produktif yang mana Pak? Buat pembangunan
infrastruk penujang Kapitalisme itu disebut produktif? Sedangkan masyarakatnya
terus dibiarkan konsumtif.
Indonesia – secara keseluruhan – masyarakatnya memang
dibikin konsumtif, dan Pemerintah seolah tidak sadar akan hal ini. Selama
masyarakatnya masih konsumtif, dan tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk
melindungi dan membuak masyarakatnya jadi produktif, selama itu juga mau
globalisasi, mau MEA, dan apapun itu tidak akan membuat kita menjadi negara
maju, dalam hal ini masyarakatnya makmur (sandang – pangan – papan). Bohong,
dan pembohongan publik apabila MEA akan berdampak positif, apabila dampak –
dampak negatifnya tidak dibendung.
Penduduk Kita paling banyak di Negara Asean, ini
dikoar – koar sebagai potensi, ia potensi apabila dimaksmalkan, di produktifkan
SDMnya. Kenayataannya? Jauh panggang dari api. Dengan jumlah penduduk yang
mayoritas mengalami penyakit ‘konsumsi’, justru akan menjadi keuntungan bagi
importir-importir kapitalisme tulen. Apa yang kita dapat? Cuman tren, image,
gengsi, status, udah cuman itu, yang semuanya semu. Kesajteraan apalagi?
Merubah Pola Pikir dan Pola
Pembangunan
Seperti
yang kita ketahui bersama, perlu model pembangunan yang tepat dalam
menyelenggarakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Indonesia ini memiliki
Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa, model pembangunan konvesnional yang
mengeksploitasi SDA sudah saatnya untuk ditinggalkan. Kini kita sudah saatnya
beralih pada model pembangunan “Konservasi Alam”, itu yang pertama.
Selanjutnya, untuk menghadapi MEA ini perlu karakteristik bangsa yang sangat
kuat yaitu dengan mencuatkan kembali kearifan lokal dan budaya Indonesia di
kancah global. Ketiga, Ekonomi Sosialis yang pernah digagas oleh Syahrir dan
Bung Hatta masih relevan untuk dijadikan model rujukan pembangunan ekonomi.
Mari
kita bahas satu per satu, pertama yaitu pembangunan konvensional lazim
diartikan sebagai usaha eksploitasi SDA menghasilkan output produk sebesar –
besarnya dengan biaya seminimal mungkin (Sifat Dasar Kapitalisme). Tolak ukur
keberhasilan pembangunan selalu mengacu kepada Produk Domestik Bruto (PDB).
Semakin banyak SDA yang terolah maka akan semakin menaikan PDB, dan semakin
orang memiliki uang yang banyak semakin banyak pula dia bisa menikmati SDA.
Karena
itu isi Alam kita tidak digubris dalam pola pembangunan yang mengandalkan nilai
manfaat-biaya yang terbentuk dipasar. Sebagai akibatnya berlangsunglah pola
pembangunan yang merusak alam dan lahirlah Kota, Jalan, industri, pertambangan,
yang didorong oleh nafsu eksploitasi SDA untuk mengubahnya menjadi “Alam Binaan
Manusia” hasil teknoilogi otak dan pikiran manusia. Inilah yang disebut sebagai
antrhopo-centris (Manusialah pusat segala kehidupan alam). Pola pikir
antrhpo-centris inilah dasar dari nafsu hidup untuk ‘menaklukan lam’. Maka dari
itu pola pikir antrhopo-centris harus kita ubah menjadi eko-sistem centris.
Cara mengubahnya yaitu dari kepentingan manusia menjadi kepada kepentingan
sistem ekologi yang menopang peri-kehidupan manusia dan isi alam semuanya.
Pola
pembangunan eko-sistem centris ini menaikan nilai tambah SDA dengan sains dan
teknologi. Bukan pohon ditebang kemudian diekspor, atau tanah dikeruk kemudian
dijual, tapi bisa dimanfaatkan sebagai tempat hunian micro organisme yang bisa
ditransformasikan sebagai obat, kosmetik, pangan yang lebih tinggi nilainya. Cara
berfikir pembangunan tidak melulu menghitung biaya-manfaat ekonomi produk,
tetapi juga biaya-manfaat serta dampak lingkungan dalam menghasilkan produk
tersebut. Pembangunan harus jangka panjang, SDA tidak hanya untuk dinikmati generasi masa kini, tetapi
juga demi kemaslahatan generasi demi generasi masa depan.
Selain
itu, kecintaan terhadap kearifan lokal dan budaya harus benar – benar
ditingkatkan. Sebagai mana masyarakat adat pada umumnya sangat menghargai dan
menjaga alamnya. Kearifan lokan dan kecintaan kita terhadap budaya ibu pertiwi
bisa dijadikan sebagai dasar untuk menumbuhkan karakter bangsa, memuncuklan
jati diri bangsa. Di era globalisisi dengan MEA sebagai awal merupakan saatnya
kita untuk menunjukan kepada dunia global bahwa kita memiliki budaya yang
luhur, agung, kearifan lokal yang beragam, dan masyrakat yang bertika dan
bermoral. Ini perlu diperhatikan oleh semua unsur elemen, karena merupakan hal
yang tidak boleh dilewatkan. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menjaga
dan mengembangkan nilai – nilai luhurnya (Budaya dan Keraifan lokal).
Ekonomi
Sosialis atau ekonomi kerakyatan bukan semata – mata dengan menciiptakan UMKM,
akan tetapi mendirikan komunitas – komunitas ekonmi secara kolektif dengan peran
aktif dari anggota komunitas itu sendiri. Dari kesadaran berkolektif untuk
membangunan suatu perekonomian maka akan menghasilkan input yang efektif
ketimbang kesadaran individu untuk bersaing. Dengan adanya komunal – komunal
yang memiliki sistem perekonmian dan pasarnya sendiri maka pemerataan
pendapaatan bisa diwujudkan dan akhirnya kesenjangan ekonomi bisa
diminimalisir. Ekonomi sosialis sebagai contoh bisa dengan membentuk koperasi –
koperasi. Akan tetapi, sayangnya koperasi di Indonesia ibarat anak tiri yang
tidak diperhatikan keberadaannya.
Itulah
langkah kecil yang mungkin kita bisa lakukan untuk meghadapi persaingan di masa
yang akan datang. Perlu adanya kesadaran dari kita semua, terutama generasi
muda untuk memberikan kontribusi baik itu berupa gagasan, kritikan, masukan,
bahkan gugatan kepada pemerintah yang didasari atas semangat cinta-kasih kita terhadap
Indonesia, negri yang terkenal subur tanahnya. Dan karena itu kita terus –
terusan dijajah dengan berbagai bentuk dan cara yang baru
(Neo-imperialisme),salah satunya globalisasi dan MEA. Kita agar dapat dengan serius
mempersiapakan MEA.. Sudah saatnya menggunakan otak dan nurani kita untuk
Indonesia. Apa jadinya kalau kita semua
tidak siap dan tidak mempersiapkan ? Mau dibawa kemana Indonesia? Hanya
kesadranlah syarat mutlak adanya transformasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar