Laman

Sabtu, 09 Januari 2016

Indonesia Sasaran Empuk MEA


                                                           Oleh Epri Fahmi Aziz

Pasar bebas (Free Market) saat ini sudah berada dihadapan kita, terutama semenjak menginjakan kaki diawal tahun 2016 ini, Ecomoic ASEAN Comunity (AEC) atau yang lazim disebut dan dikenal oleh halayak umum dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai diberlakukan. Mau tidak mau, suka tidak suka, keniscayaan akan pasar bebas akan kita alamai. Sudah saatnya kita, membuka mata, pola pikir, untuk menyongsong dan melihat kehidupan di masa yang akan datang. Pada dasarnya, pembentukan MEA memiliki tujuan yang baik yaitu ingin mengintegrasikan negara ASEAN agar mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan budaya. Tapi, sudahkah ada persiapan dari pemerintah atau dari diri kita pribadi untuk bersaing dan bisa bertahan dalam kancah global tersebut?
Siapa sangka deklarasi pembentukan ASEAN sudah ditabuh sejak tahun 1967, pada saat itu diawali dengan disahkannya Deklarasi Bangkok. Lalu setelah itu, pada tahun 1997 digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, di Kuaa Lumpur, Malaysia. Dengan disahkannya visi ASEAN 2020 yaitu menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing dengan ditandai dengan arus bebas, barang, jasa, investasi dan tenaga kerja dan liberalisasi perdagangan. Selanjutnya pada KTT ASEAN berikutnya membicarakan arah untuk mencapai tujuan tersebut. Terahir pada saat KTT ASEAN di BALI, pada tahun 2003 dan dikenal dengan sebutan BALI Concord II menyepakati untuk pembentukan AEC 2015  perwujudannya diarahkan kepada integrasi kawasan ekonomi yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
AEC Blueprint (2003) ini merupakan bahan yang dijadikan rujukan bagi negara ASEAN dalam mewujudkan  AEC 2015. Adapun AEC blueprint ini mempunyai 4 pilar yaitu, (1) Sebagai Psar tunggal, berbasis produksi tunggal, yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan aliran modal yang lebih bebas. (2) Sebagai kawasan daya saing ekonomi tinggi. Pengembangan infrastruktur. (3) Sebagai kawasan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah. (4) Sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global  dalam hubungan ekonomi diluar kawasan , dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global. Dari 4 poin tersebut, persiapan sejauh mana yang sudah dilakukan ? padahal sudah puluhan tahun digaungkan.
Semenjak Indonesia di pimpin oleh Presiden kita yang ‘naik daun’ oleh media ini menjabat yaitu Jokowow, eh salah Joko Widodo maksudnya. Sering sekali mengicau soal produktivitas. Seperti biasa, Presiden kita yang satu ini memang hobi cicit – cuit, dan hasil pun seperti biasa, cuman suaranya saja yang terdengar. Banyak sekali kebijakan – kebijakan liberal-ekonomi yang diterapkan, terutama soal pencabutan subsidi dengan dalih untuk dialihkan ke sector produktif. Klasik dan klise banget. Produktif yang mana Pak? Buat pembangunan infrastruk penujang Kapitalisme itu disebut produktif? Sedangkan masyarakatnya terus dibiarkan konsumtif.
Indonesia – secara keseluruhan – masyarakatnya memang dibikin konsumtif, dan Pemerintah seolah tidak sadar akan hal ini. Selama masyarakatnya masih konsumtif, dan tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk melindungi dan membuak masyarakatnya jadi produktif, selama itu juga mau globalisasi, mau MEA, dan apapun itu tidak akan membuat kita menjadi negara maju, dalam hal ini masyarakatnya makmur (sandang – pangan – papan). Bohong, dan pembohongan publik apabila MEA akan berdampak positif, apabila dampak – dampak negatifnya tidak dibendung.
Penduduk Kita paling banyak di Negara Asean, ini dikoar – koar sebagai potensi, ia potensi apabila dimaksmalkan, di produktifkan SDMnya. Kenayataannya? Jauh panggang dari api. Dengan jumlah penduduk yang mayoritas mengalami penyakit ‘konsumsi’, justru akan menjadi keuntungan bagi importir-importir kapitalisme tulen. Apa yang kita dapat? Cuman tren, image, gengsi, status, udah cuman itu, yang semuanya semu. Kesajteraan apalagi?

Merubah Pola Pikir dan Pola Pembangunan
Seperti yang kita ketahui bersama, perlu model pembangunan yang tepat dalam menyelenggarakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Indonesia ini memiliki Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa, model pembangunan konvesnional yang mengeksploitasi SDA sudah saatnya untuk ditinggalkan. Kini kita sudah saatnya beralih pada model pembangunan “Konservasi Alam”, itu yang pertama. Selanjutnya, untuk menghadapi MEA ini perlu karakteristik bangsa yang sangat kuat yaitu dengan mencuatkan kembali kearifan lokal dan budaya Indonesia di kancah global. Ketiga, Ekonomi Sosialis yang pernah digagas oleh Syahrir dan Bung Hatta masih relevan untuk dijadikan model rujukan pembangunan ekonomi.
Mari kita bahas satu per satu, pertama yaitu pembangunan konvensional lazim diartikan sebagai usaha eksploitasi SDA menghasilkan output produk sebesar – besarnya dengan biaya seminimal mungkin (Sifat Dasar Kapitalisme). Tolak ukur keberhasilan pembangunan selalu mengacu kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Semakin banyak SDA yang terolah maka akan semakin menaikan PDB, dan semakin orang memiliki uang yang banyak semakin banyak pula dia bisa menikmati SDA.
Karena itu isi Alam kita tidak digubris dalam pola pembangunan yang mengandalkan nilai manfaat-biaya yang terbentuk dipasar. Sebagai akibatnya berlangsunglah pola pembangunan yang merusak alam dan lahirlah Kota, Jalan, industri, pertambangan, yang didorong oleh nafsu eksploitasi SDA untuk mengubahnya menjadi “Alam Binaan Manusia” hasil teknoilogi otak dan pikiran manusia. Inilah yang disebut sebagai antrhopo-centris (Manusialah pusat segala kehidupan alam). Pola pikir antrhpo-centris inilah dasar dari nafsu hidup untuk ‘menaklukan lam’. Maka dari itu pola pikir antrhopo-centris harus kita ubah menjadi eko-sistem centris. Cara mengubahnya yaitu dari kepentingan manusia menjadi kepada kepentingan sistem ekologi yang menopang peri-kehidupan manusia dan isi alam semuanya.
Pola pembangunan eko-sistem centris ini menaikan nilai tambah SDA dengan sains dan teknologi. Bukan pohon ditebang kemudian diekspor, atau tanah dikeruk kemudian dijual, tapi bisa dimanfaatkan sebagai tempat hunian micro organisme yang bisa ditransformasikan sebagai obat, kosmetik, pangan yang lebih tinggi nilainya. Cara berfikir pembangunan tidak melulu menghitung biaya-manfaat ekonomi produk, tetapi juga biaya-manfaat serta dampak lingkungan dalam menghasilkan produk tersebut. Pembangunan harus jangka panjang, SDA tidak hanya  untuk dinikmati generasi masa kini, tetapi juga demi kemaslahatan generasi demi generasi masa depan.
Selain itu, kecintaan terhadap kearifan lokal dan budaya harus benar – benar ditingkatkan. Sebagai mana masyarakat adat pada umumnya sangat menghargai dan menjaga alamnya. Kearifan lokan dan kecintaan kita terhadap budaya ibu pertiwi bisa dijadikan sebagai dasar untuk menumbuhkan karakter bangsa, memuncuklan jati diri bangsa. Di era globalisisi dengan MEA sebagai awal merupakan saatnya kita untuk menunjukan kepada dunia global bahwa kita memiliki budaya yang luhur, agung, kearifan lokal yang beragam, dan masyrakat yang bertika dan bermoral. Ini perlu diperhatikan oleh semua unsur elemen, karena merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menjaga dan mengembangkan nilai – nilai luhurnya (Budaya dan Keraifan lokal).
Ekonomi Sosialis atau ekonomi kerakyatan bukan semata – mata dengan menciiptakan UMKM, akan tetapi mendirikan komunitas – komunitas ekonmi secara kolektif dengan peran aktif dari anggota komunitas itu sendiri. Dari kesadaran berkolektif untuk membangunan suatu perekonomian maka akan menghasilkan input yang efektif ketimbang kesadaran individu untuk bersaing. Dengan adanya komunal – komunal yang memiliki sistem perekonmian dan pasarnya sendiri maka pemerataan pendapaatan bisa diwujudkan dan akhirnya kesenjangan ekonomi bisa diminimalisir. Ekonomi sosialis sebagai contoh bisa dengan membentuk koperasi – koperasi. Akan tetapi, sayangnya koperasi di Indonesia ibarat anak tiri yang tidak diperhatikan keberadaannya.
           
Itulah langkah kecil yang mungkin kita bisa lakukan untuk meghadapi persaingan di masa yang akan datang. Perlu adanya kesadaran dari kita semua, terutama generasi muda untuk memberikan kontribusi baik itu berupa gagasan, kritikan, masukan, bahkan gugatan kepada pemerintah yang didasari atas semangat cinta-kasih kita terhadap Indonesia, negri yang terkenal subur tanahnya. Dan karena itu kita terus – terusan dijajah dengan berbagai bentuk dan cara yang baru (Neo-imperialisme),salah satunya globalisasi dan MEA. Kita agar dapat dengan serius mempersiapakan MEA.. Sudah saatnya menggunakan otak dan nurani kita untuk Indonesia.  Apa jadinya kalau kita semua tidak siap dan tidak mempersiapkan ? Mau dibawa kemana Indonesia? Hanya kesadranlah syarat mutlak adanya transformasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar