Laman

Sabtu, 09 Januari 2016

Berjamaah Melawan Korupsi = Menyelamatkan Peradaban




Oleh Epri Fahmi Aziz[1]
Sejarah telah membuktikan bahwa memang korupsi di Nusantara ini sudah mendarah daging. Perilaku korup tak hanya ‘heboh’ di era modernitas saat ini. Jauh sebelum Nusantara memerdekan diri menjadi Indonesia, prilaku korup sudah tercermin pada era kerajaan. Dimana syahwat ingin merebut kerajaan demi kekuasaan dan menguasai sumber ekonomi menjadi faktor utamanya[2].
Tapi, pada era tersebut korupsi belum sampai memasuki sendi – sendi kehidupan masyarakat. Perilaku korup hanya dilakukan oleh raja – raja dan para abdi dalem kerajaan. Berbeda dengan era sekarang, ditengah – tengah hiruk pikuk modernitas justru korupsi semakin meraja rela. Perilaku korup dipraktikan seumur hidup, dari mulai mengurus akte kelahiran sampai mengurus pemakaman. Tak jarang korupsi pun menjerat orang – orang yang menjadi simbol kenegaraan (Eksekutif dan legislatif) dan sekaligus simbol tiang penjaga peradaban (polisi,hakim, dan jaksa). Apa penyebabnya?
Ditengah – tengah gegap gempita dunia moderen yang sarat akan tantangan, cobaan dan permasalahan (terutama soal korupsi), nilai – nilai spiritual tak lagi diindahkan. Perkembangan dan kemjauan zaman tidak diiringi dengan kesadaran akan keberagamaan. Padahal, nilai – nilai spiritual sangatlah penting sebagai sumber moral dalam mantra kehidupan sosial. Karena dengan nilai – nilai spiritual itulah suara hati setiap insan tak akan terbelenggu.[3]
Budaya modernitas ini salah satu strateginya yaitu memecah masyarakat kedalam dua kelompok; ‘dunia saja’ atau akhirat saja. Apa yang terjadi apabila dua aspek tersebut menjadi pilihan? Sudah bisa dipastikan bahwa erosi kehidupan masyarakat akan terjadi. Salah satu sikap paling mengerikan yang telah dilestarikan budaya modern yaitu manusia – dalam situasi dan kondisi apapun – dilarang untuk mempercayai suara hatinya.  Hal ini tercermin dengan hilangnya iman, dan dibuktikan dengan lunturnya moral, integritas, dan yang lebih mengerikan yaitu praktik korupsi semakin massif, sistematis dan terstruktur. Dikotomi pemikiran ‘dunia saja’ atau ‘akhirat saja’ yang harus kita hindari. [4]
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pemikiran ‘dunia saja’menuntut masyarakat modern membuat kasta baru. Dimana keterhormatan hidup dilambangkan dengan kekayaan. Artinya, dalam struktur masyarakat moderen orang yang paling banyak jumlah kekayaannya menempati posisi yang paling tinggi. Karena ‘keterhotamatan’ tersebut secara tidak sadar manusia berlomba – lomba ingin mendapatkan harta sebanyak – banyaknya. Pekerjaan tak lagi dimaknai sebagai ‘pengabdian’, tetapi hanya disikapi sebagai jalan untuk mendapatkan harta, dan akhirnya manusia tereduksi hanya sebagai mesin pencari uang.
Pendapat diatas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gus Mus, menurutnya, korupsi bisa membudaya di Indonesia karena masyarakatnya (semua, tak terkecuali pejabat) begitu cinta dengan harta duniawi. Materi dijdikian sebagai ukuran kesejahteraan. Kekayaan lahir menjadi idaman, sementara kekayaan batin terlupakan. Pada akhirnya Kepentingan duniawi  mengalahkan Tuhan, melecehkan kemanusiaan, dan mempersetankan pessatuan dan persaudaraan.[5]
Paparan diatas semakin kuat apabila merujuk pada  buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah, yang menempatkan korupsi sebagai ‘syirik’ moderen. Karena manusia khususnya umat islam yang mayoritas menghuni bumi pertiwi tak lagi meyakini Allah sebagai Tuhannya. Tetapi, uang sebagai kekuatannya[6]. Sebagai bangsa dengan pancasila yang dijadikan falsafah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, seharusnya menyelaraskan kehendak berketuhanan dan berkemanusiaan.      
Di Asia, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup. Hal ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Tranparancy Internatioal. Indonesia mendapatkan skor 9,25 (10 terkorup), di atas India (8,9), Filiphina (8,33) dan Thailand (7,3). Melihat kondisi seperti saaat ini, penangan pemberantasan korupsi harus dilkukan secara multidimensional, dan melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Penulis berfikir untuk memberantas korupsi harus ada pemotongan generasi. Anak – anak sebagai penerus bangsa harus diberikan pendidikan mengenai pembentukan mental, serta karakter agar anak kelak jauh dari perilaku dan perbuatan  korupsi. Pendidikan anti korupsi harus diajarkan sedini mungkin. Penulis sudah mempraktikan hal ini dengan membuat sebuah komunitas di Kota Cirebon, dengan diberi nama “Taman Ceria”. Maksud dari komunitas ini yaitu memberikan pendidikan (karakter) terhadap anak – termasuk kecerdasan emosi (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) - , serta memberikan pengetahuan kepada para orang tua agar membiasakan anak – anaknya untuk bersikap jujur sedini mungkin.
Kenapa penulis membuat komunitas yang mengajarkan kepada anak terkait EQ dan SQ, karena dibangku – bangku sekolah dari mulai SD sampai perguran tinggi dengan kurikulum yang liberalistik hanya menekankan kepada aspek kognitif. Aspek  EQ dan SQ tidak diajarkan, padahal kedua aspek tersebut yang akan membentuk karakter manusia yang lebih humanis, dan  tidak hanya kesalehan individu, juga memiliki kesalehan sosial. Dengan pendidikan karakter (EQ dan SQ) yang mendasar dengan pancaran rukun iman, islam dan ihsan, diharapkan membentuk pemahaman, visi, sikap dan integritas yang didasari atas kesadaran diri dan suara hati yang terdalam. Kemudian, memunculkan kembali rasa kebanggaan dan kesadaran bahwa islam tuntunan keberhasilan yang sempurna, yang akan menciptakan bangunan manusia yang ‘hebat’. Dan hadir sebagai sumber daya untuk kemajuan dan kemakmuran bumi (pertiwi).
Oleh karena itu, mari kita berjihad, jihadnya tuh disini, bukan ke syuriah atau afganistan, jihad melawan korupsi, sebuah kemaksiatan yang lebih akbar. Sudahi saja perdebatan yang berkutat dalam level simbolik, seperti menegakan negara islam, pemerintahan islam, dan hal yang serupa dengan itu. Sebagai agama rahmatan lil alamin, dengan amar maruf nahi mungkarnya, kita memiliki kewajiban moral untuk memberantas korupsi dalam rangka menyelamatkan peradaban. Bukannya begitu saudaraku, sebangsa dan setanah air? Hanya kesadaranlah syarat mutlak transfomasi sosial.


[1] Mahasiswa jurusan Akuntansi FE Unswagati, dengan moto hidup “Memanusiakan Manusia”.
[2] Pendidikan Anti Korupsi, yang ditulis oleh Drs. Sulaiman M.Mpd
[3] Dajjal Datang Kiamat Tiba, ditulis oleh Jameela Binti Muayyad
[4] Buku ESQ, yang ditulis oleh Ari Ginanjar Agustian
[5]  Wawancara terhadap Gusmus di salah satu media online nasional, penulis lupa link wawancara tersebut.
[6] Buku Fiqih Anti Korupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah

Indonesia Sasaran Empuk MEA


                                                           Oleh Epri Fahmi Aziz

Pasar bebas (Free Market) saat ini sudah berada dihadapan kita, terutama semenjak menginjakan kaki diawal tahun 2016 ini, Ecomoic ASEAN Comunity (AEC) atau yang lazim disebut dan dikenal oleh halayak umum dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai diberlakukan. Mau tidak mau, suka tidak suka, keniscayaan akan pasar bebas akan kita alamai. Sudah saatnya kita, membuka mata, pola pikir, untuk menyongsong dan melihat kehidupan di masa yang akan datang. Pada dasarnya, pembentukan MEA memiliki tujuan yang baik yaitu ingin mengintegrasikan negara ASEAN agar mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan budaya. Tapi, sudahkah ada persiapan dari pemerintah atau dari diri kita pribadi untuk bersaing dan bisa bertahan dalam kancah global tersebut?
Siapa sangka deklarasi pembentukan ASEAN sudah ditabuh sejak tahun 1967, pada saat itu diawali dengan disahkannya Deklarasi Bangkok. Lalu setelah itu, pada tahun 1997 digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, di Kuaa Lumpur, Malaysia. Dengan disahkannya visi ASEAN 2020 yaitu menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing dengan ditandai dengan arus bebas, barang, jasa, investasi dan tenaga kerja dan liberalisasi perdagangan. Selanjutnya pada KTT ASEAN berikutnya membicarakan arah untuk mencapai tujuan tersebut. Terahir pada saat KTT ASEAN di BALI, pada tahun 2003 dan dikenal dengan sebutan BALI Concord II menyepakati untuk pembentukan AEC 2015  perwujudannya diarahkan kepada integrasi kawasan ekonomi yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint.
AEC Blueprint (2003) ini merupakan bahan yang dijadikan rujukan bagi negara ASEAN dalam mewujudkan  AEC 2015. Adapun AEC blueprint ini mempunyai 4 pilar yaitu, (1) Sebagai Psar tunggal, berbasis produksi tunggal, yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan aliran modal yang lebih bebas. (2) Sebagai kawasan daya saing ekonomi tinggi. Pengembangan infrastruktur. (3) Sebagai kawasan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah. (4) Sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global  dalam hubungan ekonomi diluar kawasan , dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global. Dari 4 poin tersebut, persiapan sejauh mana yang sudah dilakukan ? padahal sudah puluhan tahun digaungkan.
Semenjak Indonesia di pimpin oleh Presiden kita yang ‘naik daun’ oleh media ini menjabat yaitu Jokowow, eh salah Joko Widodo maksudnya. Sering sekali mengicau soal produktivitas. Seperti biasa, Presiden kita yang satu ini memang hobi cicit – cuit, dan hasil pun seperti biasa, cuman suaranya saja yang terdengar. Banyak sekali kebijakan – kebijakan liberal-ekonomi yang diterapkan, terutama soal pencabutan subsidi dengan dalih untuk dialihkan ke sector produktif. Klasik dan klise banget. Produktif yang mana Pak? Buat pembangunan infrastruk penujang Kapitalisme itu disebut produktif? Sedangkan masyarakatnya terus dibiarkan konsumtif.
Indonesia – secara keseluruhan – masyarakatnya memang dibikin konsumtif, dan Pemerintah seolah tidak sadar akan hal ini. Selama masyarakatnya masih konsumtif, dan tidak ada kebijakan dari pemerintah untuk melindungi dan membuak masyarakatnya jadi produktif, selama itu juga mau globalisasi, mau MEA, dan apapun itu tidak akan membuat kita menjadi negara maju, dalam hal ini masyarakatnya makmur (sandang – pangan – papan). Bohong, dan pembohongan publik apabila MEA akan berdampak positif, apabila dampak – dampak negatifnya tidak dibendung.
Penduduk Kita paling banyak di Negara Asean, ini dikoar – koar sebagai potensi, ia potensi apabila dimaksmalkan, di produktifkan SDMnya. Kenayataannya? Jauh panggang dari api. Dengan jumlah penduduk yang mayoritas mengalami penyakit ‘konsumsi’, justru akan menjadi keuntungan bagi importir-importir kapitalisme tulen. Apa yang kita dapat? Cuman tren, image, gengsi, status, udah cuman itu, yang semuanya semu. Kesajteraan apalagi?

Merubah Pola Pikir dan Pola Pembangunan
Seperti yang kita ketahui bersama, perlu model pembangunan yang tepat dalam menyelenggarakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Indonesia ini memiliki Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa, model pembangunan konvesnional yang mengeksploitasi SDA sudah saatnya untuk ditinggalkan. Kini kita sudah saatnya beralih pada model pembangunan “Konservasi Alam”, itu yang pertama. Selanjutnya, untuk menghadapi MEA ini perlu karakteristik bangsa yang sangat kuat yaitu dengan mencuatkan kembali kearifan lokal dan budaya Indonesia di kancah global. Ketiga, Ekonomi Sosialis yang pernah digagas oleh Syahrir dan Bung Hatta masih relevan untuk dijadikan model rujukan pembangunan ekonomi.
Mari kita bahas satu per satu, pertama yaitu pembangunan konvensional lazim diartikan sebagai usaha eksploitasi SDA menghasilkan output produk sebesar – besarnya dengan biaya seminimal mungkin (Sifat Dasar Kapitalisme). Tolak ukur keberhasilan pembangunan selalu mengacu kepada Produk Domestik Bruto (PDB). Semakin banyak SDA yang terolah maka akan semakin menaikan PDB, dan semakin orang memiliki uang yang banyak semakin banyak pula dia bisa menikmati SDA.
Karena itu isi Alam kita tidak digubris dalam pola pembangunan yang mengandalkan nilai manfaat-biaya yang terbentuk dipasar. Sebagai akibatnya berlangsunglah pola pembangunan yang merusak alam dan lahirlah Kota, Jalan, industri, pertambangan, yang didorong oleh nafsu eksploitasi SDA untuk mengubahnya menjadi “Alam Binaan Manusia” hasil teknoilogi otak dan pikiran manusia. Inilah yang disebut sebagai antrhopo-centris (Manusialah pusat segala kehidupan alam). Pola pikir antrhpo-centris inilah dasar dari nafsu hidup untuk ‘menaklukan lam’. Maka dari itu pola pikir antrhopo-centris harus kita ubah menjadi eko-sistem centris. Cara mengubahnya yaitu dari kepentingan manusia menjadi kepada kepentingan sistem ekologi yang menopang peri-kehidupan manusia dan isi alam semuanya.
Pola pembangunan eko-sistem centris ini menaikan nilai tambah SDA dengan sains dan teknologi. Bukan pohon ditebang kemudian diekspor, atau tanah dikeruk kemudian dijual, tapi bisa dimanfaatkan sebagai tempat hunian micro organisme yang bisa ditransformasikan sebagai obat, kosmetik, pangan yang lebih tinggi nilainya. Cara berfikir pembangunan tidak melulu menghitung biaya-manfaat ekonomi produk, tetapi juga biaya-manfaat serta dampak lingkungan dalam menghasilkan produk tersebut. Pembangunan harus jangka panjang, SDA tidak hanya  untuk dinikmati generasi masa kini, tetapi juga demi kemaslahatan generasi demi generasi masa depan.
Selain itu, kecintaan terhadap kearifan lokal dan budaya harus benar – benar ditingkatkan. Sebagai mana masyarakat adat pada umumnya sangat menghargai dan menjaga alamnya. Kearifan lokan dan kecintaan kita terhadap budaya ibu pertiwi bisa dijadikan sebagai dasar untuk menumbuhkan karakter bangsa, memuncuklan jati diri bangsa. Di era globalisisi dengan MEA sebagai awal merupakan saatnya kita untuk menunjukan kepada dunia global bahwa kita memiliki budaya yang luhur, agung, kearifan lokal yang beragam, dan masyrakat yang bertika dan bermoral. Ini perlu diperhatikan oleh semua unsur elemen, karena merupakan hal yang tidak boleh dilewatkan. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menjaga dan mengembangkan nilai – nilai luhurnya (Budaya dan Keraifan lokal).
Ekonomi Sosialis atau ekonomi kerakyatan bukan semata – mata dengan menciiptakan UMKM, akan tetapi mendirikan komunitas – komunitas ekonmi secara kolektif dengan peran aktif dari anggota komunitas itu sendiri. Dari kesadaran berkolektif untuk membangunan suatu perekonomian maka akan menghasilkan input yang efektif ketimbang kesadaran individu untuk bersaing. Dengan adanya komunal – komunal yang memiliki sistem perekonmian dan pasarnya sendiri maka pemerataan pendapaatan bisa diwujudkan dan akhirnya kesenjangan ekonomi bisa diminimalisir. Ekonomi sosialis sebagai contoh bisa dengan membentuk koperasi – koperasi. Akan tetapi, sayangnya koperasi di Indonesia ibarat anak tiri yang tidak diperhatikan keberadaannya.
           
Itulah langkah kecil yang mungkin kita bisa lakukan untuk meghadapi persaingan di masa yang akan datang. Perlu adanya kesadaran dari kita semua, terutama generasi muda untuk memberikan kontribusi baik itu berupa gagasan, kritikan, masukan, bahkan gugatan kepada pemerintah yang didasari atas semangat cinta-kasih kita terhadap Indonesia, negri yang terkenal subur tanahnya. Dan karena itu kita terus – terusan dijajah dengan berbagai bentuk dan cara yang baru (Neo-imperialisme),salah satunya globalisasi dan MEA. Kita agar dapat dengan serius mempersiapakan MEA.. Sudah saatnya menggunakan otak dan nurani kita untuk Indonesia.  Apa jadinya kalau kita semua tidak siap dan tidak mempersiapkan ? Mau dibawa kemana Indonesia? Hanya kesadranlah syarat mutlak adanya transformasi. 

Gandrung Budaya Pop Biar ‘Kekinian’



Oleh Epri Fahmi Aziz
                Saudaraku, sebangsa dan setanah air.  Saya lagi galau nih, maunya sih dalam kesempatan kali ini, saya bisa menceritakan keluh kesah yang mengganjal di benak dan hati saya, yang mebuat saya makan jadi tak teratur, mandi apalagi, sehari sekali juga udah untung banget.  Ceritanya mah  saya tuh mau ‘curhat’ tau.  Eh, eh nanti dulu, jangan salah pikir, curhatan saya kali ini bukan soal perkara yang selalu ngehits dibicarakan oleh kalangan muda mudi seperti kita, mulai dari fesbuk, twiter, instagram, bbm, sekolah, kampus, kos-kosan, kafe, pojok warung kopi sampe ke sudut wece, yaitu cinta.
Tau sendiri kan Cinta sekarang  juga mengalami pergesaran makna, bahkan dangkal, hanya direpresentasikan dengan sebuah kasih-sayang (katanya) dan diikat dengan sebuah tali yang sangat, ngat, ngat sakral, yang melambangkan gelar sebagai –kalo bahasa gaulnya –  pacar. Bukan seputar itu curhatan saya, walaupun ada sedikit pembahasan seputar cinta, ntar temen – temen tau sendiri deh cintanya seperti apa. Eh, ko jadi ngomongin soal cinte, gak bakal ada matinye, kata mandra sih begono. Sampe komputer ini jeblug juga gak bakalan ada endingnya, heehe.
    Owh iya, sebelum saya curhat ke inti persoalan, alangkah lebih baiknya kalo kita plesbek dulu nih, tapi bukan untuk merenung apalagi sampe galau – galauan mengingat masa lalu yang bikin kita gagal move up, eh ngomongin cinta lagi, sory pemirsah.  Sejarah kan  telah membuktikan, bahwa culture (budaya) memiliki perananan penting dalam sebuah pencapaian peradaban suatu bangsa. Indonesia, negri saya tercinta – dan juga kalian (mungkin) - sebuah negri dibelahan timur dunia, memiliki culture yang begitu beraneka ragam loh. Negri yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawinya sampai dikenal dengan ‘samudra atlantik yang hilang’. Kita semua tau, rumusnya seperti itu.  
Mengapa? Kita pasti mengakui negri ini memiliki keanegaraman yang sangat luar biasa, dimulai dari; alam, budaya, suku, ras, agama, bahasan dan prilaku masyarakatnya yang heterogen, pokoknya banyak banget deh.  Sejarah mencatat demikian, tapi itu hanya sebuah sejarah, sayangnya cuman tercatat di buku – buku pelajaran aja. Saya juga sering dengar,  dulu  pas jaman sekolah sampe sekarang, baca juga pernah, dan itu sangat sangat berguna buat saya, masuk ke otak saya, sangking masuknya sampe hafal diluar kepala. Akhirnya saya bisa ngisi jawaban soal – soal ujian dengan nilai yang sempurna. Hoo..rrreeeee!
Saudaraku, sebelum curhat saya terlalu jauh, kalian pasti punya pemikiran dan pendapat masing – masing nih terkait kebudayaan kita. Sebagai manusia –yang mengaku- moderen, gimana pandangan kalian? Biasa saja, memprihatinkan kah, atau tak terpikiran bahkan tak diperhatikan sama sekali? Kasian ya Indonesia kena PHP sampe baper yang berkepanjangan, ha..haa.  Temen – temen pasti tau kan kita sekarang – mau gak mau -  memasuki era globalisasi. Era ini semuanya ditandai dengan hal – hal yang semuanya itu berbau serba moderen.
Pakaian, hp, rumah, apa lagi, pasti banyak kan? Prilaku kita pun sama,  di tuntut (secara tidak langsung dipaksa) untuk mengikutinya. Akhirnya pergeseran nilai – nilai cultural, apalagi spritiual, tak bisa lagi kita bendung loh. Pada titik klimaks bahkan manusia moderen itu kaya binatang, banyak kasusunya, gak perlu diceritain, pasti udah pada tau.  percaya gak? Terserah sih, mau percaya atau gak, gak juga gak apa – apa. Aku mah apa atuh, makan, mandi, gosok gigi, ee juga dikampus. Sedih, ya, haha..ha.
Jadi gini asal muasalnya, kapitalisme dengan kekuatan capital (modal) menciptakan sebuah era yang disebut globalisasi. Dengan kekuatan modal itu bisa menciptakan pasar (teori ekonomi). Demi kepentingan untuk meraup keuntungan sebanyak – banyaknya, tentunya dengan mission imposiblnya untuk memporak – porandakan budaya kita yang agung nan luhur ini. Nah, makanya  sebagai pasar (karena penduduk kita banyak) – dengan berbagai komoditi khas modernitas –  kita digempur bertubi – tubi  dari segala lini sektor dengan prodak – prodak budaya modernnya. Prodaknya yaitu berupa industry budaya (media) yang mencipatakan apa itu yang dimaksud budaya pop.
 Sampe sini, udah bisa di tangkap belum soal curhatan saya? Kalo gak didengerin saya mau pundung ah, gak mau dilanjut, ha.. haha. Tenang saya gak pundungan ko orangnya, sabar, tawakal, baik hati dan tidak sombong. Dilanjut ya curhatnya, boleh kan? Gak juga saya mau maksa. Kapitalisme itu emang pinter, bikin kita terpesona dan terlena.  Gampangnya sih gini, modenitas itu anak kandung dari kapitalisme, yang melahirkan anak cucu sampe cicit. Budaya pop (populer), yang akan menjadi fokus curhatan saya inilah salah satunya. Budaya pop tau? Pasti tau, paling tidak, pernah denger K-POP.  Ada yang suka K-POP atau drama korea, film, musik, sinetron, selfi, ngemall, shophing, nongkrong di kafe, pacaran? Pasti suka semua, saja juga suka, hahaha.
 Nah itu semua merupakan budaya pop yang diciptakan oleh kapitalisme melalui modernitasnya. Makanya saya curhat, supaya kita bisa berbagi, dan bisa mengendalikan diri, supaya gak bablas, blas. Saat ini kita hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan identitas-identitas dari merek global. Hp pengennya yang bermerek, nongkrong ditempat yang bermerek, makanan minuman bermerek, sampe cinta pun kudu bermerek (pacaran).   Media massa inilah yang menjadi senjata utamanya, yang dimodali oleh perusahaan - perusahaan kapitalis tulen bertaraf global (multinasional). Akhrinya kita menjadi konsumen dari industri hiburan, kita jadi komoditas ekonomi, dan menjadi alat yang diperbudak oleh capital karena sekarang tolak ukur kita sebagai manusia moderen pasti berupa materi, yang melambang status, gaya hidup, tren, dan akhirnya jadi membudaya diantara kita semua.
Televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pendapat umum, pola pikir, perilaku, dan kepribadian kita, temen – temen sadar gak?. Acara televisi itu mengusung nilai-nilai tertentu, kemudian nilai-nilai tersebut diadopsi oleh khalayak dan menjadi budaya yang berkembang dan menjadi tren diantara kita semua (masyarakat). Hal inilah yang dimaksud dengan budaya pop. Pengaruh media sangatlah dominan pada kehidupan kita, tingkah laku, sikap, gaya hidup kita, semuanya dipengeruhi, tanpa terkecuali.  Modernitas dengan membawa teknologi serta sarana dan prasarana, apabila kita tidak bisa mengontrol, maka akan tergoda, terbuai, terlena, dan lupa akan jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang timur, yang terkenal dengan solidaritasnya, kepekaannya, kepintarannya, dan ‘keberadabannya’ dengan nilai – nilai luhur yang kita punya. Tau gak nilai luhur kita?  Coba pelajarin deh sejarah kebudayaan Indonesia;sosial,kultur,dan ekonomi. Kalau mau itu juga, gak juga gpp, saya sih gak rugi, gak ngeluarin modal ko, hehe.
Budaya pop itu memiliki berbagai dampak negative diantarnya  membuat kita jadi konsumtif, contohnya berbelanja, pacaran,nongkrong,  mendengarkan musik dan film cengeng dll.  Misalnya dalam dunia mahasiswa kekinian (masyarakat pada umumnya), lebih baik nongkrong sambil ngerumpi daripada diskusi, lebih seneng ngemall belanja yang gak – gak ketimbang beli buku, lebih asik bbman, twiteran, instgram ketimbang nulis.  Bener gak? Kalo salah maafin saya ya, please, heehe. Alhasil apa yang terjadi? Mental kita cengeng, moral kita rendah, individualistik, permisif, hedon, jauh terhadap nilai – nilai budaya, apalagi spiritual. Itu semua dampak negatif yang dibawa modernitas, selain mencari keuntungan karena kita memiliki penduduk yang luar biasa banyak dan konsumtif. Misi paling mengerikan dari kapitalisme itu menghancurkan pondasi  dari nilai – nilai luhur yang dimiliki oleh budaya kita. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan akan muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial. Seperti yang sedang saya alami,  makanya saya curhat, karena saya lagi galau nich. Saya berfikir kalo terus – terusan kaya gini, gak bakalan ada lagi tuh manusia Indonesia,  adanya robot, mending robot sih , kalo zombi-zombi yang bermunculan kan ngeri. Hiiihhh, atut  gak sih, mengerikan.
 Bagiamana ya cara membendungnya kawan - kawan? Menurut saya gampang ko, gak susah untuk membendung kapitalisme (barat), dengan gempuran budayanya. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia Indonesia yang sadar dan cinta atas nilai – nilai luhur budaya dan spiritual kita. Cinta pada diri sendiri, cinta pada sesama, dan cinta pada Indonesia.  Kita ini merupakan ras paling istimewa loh  di dunia, makanya di bikin gak maju-maju, kalo maju Indonesia itu bisa jadi negara adidaya dari negara adidaya yang lainnya. Percaya gak? Peradaban dimulai dari negri kita, tidak bakal ada barat kalo belum ada timur. Budaya timur merupakan budaya yang paling luhur, tidak hanya untuk kita, sesama, Indonesia bahkan untuk dunia.
 Jangan malu apalagi gengsi kalo kita dianggap tidak moderen – gak kekinian -  karena manusia moderen itu hakikatnya manusia yang tidak beradab. Sementara nilai cultur dan spiritual  kita itu mengajarkan kita jadi manusia yang bijak, bermoral dan spiritual, dan tentunya lebih beradab. Jangan malu jadi orang Indonesia justru harus bangga.  Ayo kawan, jangan muluk – muluk, cukup dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini. Kenali, pahami, rasakan, renungkan, dan kobarkan dalam hati, teriakan dalam dada, tekad kan dalam sanubari , katakan dengan lantang SAYA MANUSIA, MANUSIA INDONESIA. MANUSIA YANG PENUH RASA CINTA-KASIH UNTUK SESAMA, NUSANTARA DAN DUNIA. Ini curhatanku, curhatanmu? Sekian dulu, nanti dilanjut lagi ya, dadaaaahhhh.