Selayang pandang
Sudah menjadi rahasia umum,
Indonesia merupakan Negara yang disebut – sebut sebagai “Benua Atlantis yang
Hilang”. Sebutan yang anggun itu lahir karena Indonesia memang Negara yang
memiliki beraenaka ragam Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, bahkan pepatah
sampai mengatakan “Tongkat Batu Jadi Tanaman” sangking suburnya Alam Indonesia.
Semua orang Indonesia mengetahui dan menyadari akan hal itu, tapi duduk manis
ketika melihat didepan mata sumber daya alamnya di kuasai oleh asing. Berbicara
SDA penulis jadi ingat Trigatra dalam wawasan nusantara (wanus), dan apabila
Trigatra tidak berjalan dengan baik maka stabilitas ketahanan Nasional yang
dipertaruhkan.
Mungkin sudah tak
asing lagi bagi sebagaian orang dengan istilah Trigatra, tapi penulis kira
masih banyak juga yang belum mengetahuinya. Alangkah lebih baik apabila penulis
sedikit memaparkan, Trigatra terdiri dari;Pertama, Letak Geografis;Kedua,Sumber
Daya Manusia:Ketiga, Sumber Daya Alam (SDA) yang harus dikelola dengan baik
untuk mencapai Ketahanan Nasional. Kali ini penulis ingin membahas komponen ke
3 dalam Trigatra, kalau komponen pertama dan kedua penulis kira pembaca sudah
cukup khatam dengan kondisi serta keadaannya. Kini saatnya membahas SDA kita
yang kian hari kian memprihatinkan.
Khususnya dalam
hal ini terkait Bahan Bakar Minyak, seperti yang telah diketahui bersama bahwa
BBM merupakan komoditi SDA yang sangat
strategis. Sangking strategisnya menjadikan BBM sebagai kebutuhan pokok masyarakat
Indonesia dan dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Maka dari itu,
Subsidi BBM dikeluarkan pada dasarnya agar terjangkau oleh semua lapisan
penduduk. Permasalahan pun muncul ketika Subsidi BBM sedikit demi sedikit mulai
dikurangi, otomatis harga BBM menjadi naik dan efek dominonya merambat kesemua sektor,
dan secara tidak langsung pasti akan menurunkan daya beli masyarakat.
Tinjauan Kritis
Perlu diketahui, Indonesia kini
bukan lagi Negara lumbung minyak, dari data yang dikeluarkan Dijen Migas
Kementrian ESDM RI tahun 2010 cadangan minyak bumi Indonesia hanya sebesar 3,7
M barel. Tentunya cadanagn sebesar itu masih sangat sedikit ketimbang Negara –
Negara lumbung minyak seperti arab Saudi yang mencapai 260 M Barel. kondisi hulu minyak Indonesia:
lifting minyak bumi Indonesia dari tahun ke tahun semakin turun, yaitu
895.000bph (2011), 860.000bph(2012), 825.000(2013). Belum lagi, banyak minyak
bumi Indonesia yang diproduksi tersebut berasal dari blok-blok migas milik
perusahaan asing.
Ketiga,
konsumsi minyak bumi Indonesia dari
tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini wajar, Indonesia merupakan Negara
berkembang menuju negara maju dimana pertumbuhan ekonomi diikuti dengan
lonjakan kebutuhan energi yang signifikan.
Seperti yang kita ketahui,konsumi BBM masih didominasi oleh sektor
transportasi. dari jumlah volume kendaraan yang dari tahun ke tahun semakin
meningkat, hal ini mengakibatkan kebutuhan akan BBM pun semakin tinggi.
Besarnya kebutuhan BBM ini membuat Pemerintah harus menyediakan minyak mentah
lebih banyak yaitu 1.420.000bph (2011), 1.470.000(2012), 1.530.000 (2013).
Dengan kebutuhan tersebut membuat Indonesia berpikir bagaimana untuk menutupi
defisit tersebut, Inpor minyak menjadi solusi untuk menutupi kebutuhan BBM
Nasional.
Keempat, untuk
menutupi kebutuhan dengan mengimpor minyak dan BBM tentu menguras cadangan
devisa Negara. Besar deficit cadangan migas dalam neraca perdagangan adalah 0,7
M USD(2011), 5,2 M USD(2012),9,7 M USD(2013). Kelima, harga minyak mentah dunia
kini mencapai 80$/barel, laju konsumsi BBM yang terus naik turut dibarengi
dengan subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah. Subsidi BBM dari tahun ke tahun
adalah Rp 130.000 Triliun (2011), Rp.211 triliun (2012) dan terahir Rp 246
triliun (2014). Subsidi BBM ini yang kemudian dianggap sebagai penyebab deficit
APBN setiap tahunnya.
Kelima, moneter
dan fiscal. Adanya kehawatiran terjadinya potensi kebocoran diruang fiskal
(APBN) menjadikan alasan pemerintah Jokowi-Jk menaikan harga BBM. kebocoran
ruang fiskal (APBN) ini berpotensi meningkatnya inflasi yang mengakibatkan
naiknya harga bahan pokok dan akan menurunkan daya beli masyarakat. Menaikan
harga BBM memang merupakan kebijakan fiskal untuk menutupi kebocoran APBN.
Namun, itu bukan satu – satunya cara, dan masih banyak cara untuk menambal post
anggaran ini untuk menyelamatkan jutaan rakyat miskin dan hampir miskin. Bisa
dengan menaikan tariff pajak perusahaan dan alat transportasi dengan pengawasan
dan pengendaliannya yang ketat.
Keenam, harga
bahan pokok (kebutuhan logistic). Data
yang dikeluarkan Bulog Tahun 2013 pada saat BBM naik RP 2. 000 (44%) saat itu
beras naik 60%, telur naik 25%, cabai naik 225%, minyak goreng naik 35%. Sudah menjadi rahasia umum, di Indonesia
memang system logistic masih jauh dari efisen. Contoh, untuk beras yang
dipasarkan secara tradisional saja bisa sampai tujuh tengkuluk (tujuh kali
perpindahan kepemilikan). Tentu, hal itulah yang menyebabkan ongkos logistic
sangat mahal. Pemerintah seharusnya memikirkan rantai tata niaga ini agar sistemnya
bisa berjalan dengan efisen sehingga bisa lebih memakmurkan petani dan harga
dipasaran tidak terlalu tajam.
Solusi yang
ditawarkan
Perlu perbaiakn dalam tata kelola migas di Indonesia, terutama
dengan merevisi UU Migas. Selain merevisi, pemerintah harus mencoba melakukan
renegoisasi atas kontrak dengan perusahaan asing agar blok-blok migas bisa
kembali dikuasai oleh pemerintah sesuai dengan amanat UUD dasar bahwa “Kekayaan
alam harus sepenuhnya dikelola oleh Negara demi kemakmuran rakyat”. Sudah
saatnya sector migas dikembalikan kepada rakyat. Korupsi pun harus segera
diberantas! Pemerintah juga abstain dalam hal memperbaiki system logistic
Indonisea, yang membuat ongkos logistic menjadi mahal. Pemerintah harusnya
mengefektifkan Bulog agar rantai tata niaga ini beserta rantai distribusi bisa
efektif dan efisien.
Selain itu hal
fundamental lainnya adalah permasalahan utama dalam BBM ini yaitu ketergantunga
terhadap BBM itu sendiri dan jumlah transportasi yang terus bertambah. Maka
seharusnya pemerintah melakukan percepatan pengembangan Energi Baru dan
Terbarukan (Ranawable energy) serta mempersiapkan pasar dan infrastruktur
pendukung lainnya, potensi Ranawable Enegi di Indonesia sangat memungkinkan
untuk dioptimlakan demi kesejahteraan rakyat. Sektor transportasi pun sudah
saatnya diperbaiki, terutama menekan jumlah pengguna kendaraan pribadi dengan
memperbaiki system transportasi yang ada. Menghapus system ekonomi Neoliberal
yang segala sesuatunya diserahkan kepada pasar jelas itu merugikan Negara. BBM
merupakan komoditi strategis, sudah sepatutnya pemerintah mengatur harga agar
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Sebelum adanya
perubahan dalam sektor – sektor yang
penulis sedikit paparkan diatas, selama itu juga penulis akan tetap menolak
kenaikan harag BBM tersebut. Mau BBM naik berapapun asal rakyatnya sejahtera
tentu tidak jadi masalah, yang harus diingat pemerintah yaitu disetiap butir
nasi, tetesan minyak goring, secuil irisan daging, baju yang dikenakan, disitu
ada Subsidi BBM. Terahir, pemerintah harus adil sejak dalam pikiran dan bertindak Hepster sejak dalam Kebijakan
maka Indonesia yang lebih baik dengan keutuhan ketahanan nasional masih menjadi
harapan kita bersama, Bukannya begitu ?Ayo Kerja Keras!!
*)Penulis adalah
Mahasiswa FE Unswagati, Sekaligus Aktivis Gemsos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar