Tahun ini, memang
merupakan tahun politik. Tahun dimana masyarakat sedang sibuk sekaligus
kebingungan menentukan calon pemimpin baru yang bisa membawa kepada
kesejahteraan. Dilain pihak, Capres dan Cawapres (beserta tim sukses yang
dikendarai), dan gerakan – gerakan afiliasi diabawahnya sedang ‘beradu ilmu’
untuk memenagkan kursi presiden dan merebutkan kursi di parlemen. Akan tetapi,
jangan lupa tahun ini pun diiringi dengan ekonomi yang kembali menurun,
disusul dengan pengumuman kelulusan
tingkat sma (yang katanya sebagai patokan berhasil tidaknya suatu pendidikan)
kembali mengalami penurunan sekitar 0,01 % (sebanyak 7718 siswa dinyatakan
tidak lulus).
Pelaksanaan Ujian
Nasional kali ini pun sama seperti biasanya, diwarnai dengan contek – mencontek
masal dengan kunci jawaban (sebagai senjata utama) beredar luas ‘dipasaran’.
Selain soal tentang salah satu capres muncul lagi di UN tingkat SMP, disusul
dengan plagiasi soal UN SMP Kemdikbud
atas soal – soal PISA (Programme for Internatiolan Student Assessment) yang
dikeluarkan tahun 2012. Soal yang dibuat hasil mencontek, cara mengerjakannya
pun dengan mencontek, sempurna! (Esai Doni Koesoemaa : Pelajaran Mencontek)
Walaupun Hari
Pendidikan Nasional sudah terlewat. Akan tetapi, ditengah – tengah hirup
pikuknya kancah perpolitikan nasional penulis kira masih relevan apabila
tulisan penulis kali ini mensoroti dunia pendidikan nasional pada umumnya
khususnya dunia pendidikan daerah (Cirebon). Tahun ini, siswa SMA/SMK yang ‘mampu’ pasti akan
melanjutkan jenjang ke perguruan tinggi.
Pertanyaannya apakah akan mengambil peran sebagai agent of change atau
sebaliknya menjadi kader yang menambah
sederet prestasi ‘buruk’ di negri ini.
Dunia Pendidikan Sekarang
Andaikan saja kita
ingin pergi ke Papua, tetapi tanpa sadar kita menggunakan peta menuju ke Aceh.
Tentu saja, sebaik-baiknya usaha kita selama di perjalanan tidak akan pernah
sampai ke tujuan. Apapun usaha yang kita lakukan, entah itu dengan menambah kecepatan
atau menyetir dengan hati-hati tetap saja akan sia-sia. Permasalahannya bukan
pada usaha yang kita lakukan, tetapi pada peta atau petunjuk yang salah.
Petunjuk disini
penulis anologikan sebagai paradigma
berpikir, entah dikalangan elit (pemerintah), pelaksana dilapangan (lembaga
pendidikan) atau tenaga pengajar sekalipun. Paradigma menurut definisi yang
ada adalah suatu teori, perspektif atau
kerangka berpikir untuk menentukan bagaimana kita mamandang, menginterpretasikan,
dan memahami aspek-aspek kehidupan. Dalam hal ini – khusunya dunia pendidikan – paradigma lama memandang
siswa seperti ‘botol kosong’ yang siap diisi dengan segala ilmu
pengetahuan dan kebijaksanan dari atas sampai kebijaksanaan sang guru.
Bradasarkan asumsi
seperti itu, pemerintah dengan semena – mena menerapkan kebijakan yang
merepotkan peserta didik, dan tidak sedikit sekolah dengan guru sebagai tenaga
pengajar yang melaksanakan kegiatan
belajar- mengajar dengan apa adanya, hanya bertugas memberi pengetahuan dan
siswa hanya menerima. Tidak sedikit pun memicu tumbuhnya nalar kritis apalagi
budaya literasi ( Baca, Tulis, Diskusi).
Setelah itu,
berdasarkan peraturan yang ada, pengajar
akan mengelompokan siswa berdasarkan nilai, kemampuan dinilai dengan
ranking dan siswa direduksi menjadi angka-angka. Dengan demikian memicu
siswa untuk berkompetisi (menghalalkan
segala cara). Siswa bekerja keras untuk saling mengalahkan teman sekelas nya.
Tanpa kita sadari
paradigma seperti itu telah dibawa dan diadopsi ke pendidikan tinggi
(universitas), banyak dosen masih menggunakan paradigma lama ini sebagai
satu-satunya alternative. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan
mengharapkan Mahasiswa duduk,diam,dengar,catat dan hafal(3DCH) serta mengadu
mahasiswa satu sama lain.Johnson,Johnson dan Smith(1991).
Dengan paradigma
seperti itu pula Membuat mahasiswa untuk saling
berkompetisi satu sama lain nya, akhirnya menghalalkan segala cara untuk
memenangkan kompetisi dengan imbalan nilai yang tinggi. Satu-satunya alasan kuliah
yaitu mendapatkan nilai tinggi,lulus tepat waktu, setelah lulus bisa
mendapatkan pekerjaan. Lupa akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa. Title seorang Sarjana itu untuk
membuat/menghasilkan sesuatu yang baru, tapi
dengan paradigma yang seperti itu dalam dunia pendidikan hanya akan
menghasilkan seorang pekerja, bisa dibilang berati Mahasiswa di didik hanya untuk menjadi
seorang pekerja (buruh).
Dunia pendidikan
kita saat ini dikepung dari berbagai hal (google dan bimbel), membuatnya kurang
menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan disekolah maupun di Universitas
cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat kepada kepentingan
industri, dan kurang peduli kepada kebutuhan masyarakat terutama kepada
kelompok yang terpinggirkan. Sehingga banyak opini yang berkembang bahwa
sekolah hanya tempat penitipan anak, sekolah itu candu, bahkan yang radikal
mengeluarkan argumen bubarkan saja
sekolah.
Guru atau tenaga
pengajar lainnya terjebak dalam rutinitas ‘kesibukan mengajar’ yang cenderung
membelenggu kreatifitas dan lupa akan tugasnya sebagai pendidik.. Dilain pihak,
pengurus publik sulit menunjukan visi yang utuh dan mendasar. Cenderung
beparadigma formal-birokratis.Tuntutan dunia pendidikan sudah banyak
berubah. Zaman semakin maju, teknologi
semakin berkembang, persaingan akan semakin hebat. Apalagi di tahun 2015 pasar
bebas akan masuk ke indoneia, itu artinya kita akan bersaing dengan orang-orang
di Negara lain.
Pendidikan Baru
Pertanyaan nya
apakah kita semua siap ? jangan sampai kita dijajah kembali. Maka dari itu Untuk mempersiapkan itu semua
perlu upaya dari pemerintah pusat sampai ke daerah yang bersinergi dengan
lembaga pendidikan dan tenaga pengajar serta peserta didik itu sendiri. Hal
pertama yang mesti dirubah yaitu paradigma pendidikan kita, pendidikan tidak
melulu memandang peserta didik sebagai botol kosong yang dibiarkan kosong
begitu saja.
Langkah selanjutnya yaitu menjalankan proses
pendidikan sebaik mungkin tentunya dengan sistem pendidikan yang baik pula.
Tidak sekedar mencetak peserta didik menjadi pandai, cerdas, atau tenaga ahli.
Sistem pendidikan yang baik adalah mencetak peserta didik menjadi dirinya dan
diarahkan memahami peran dan fungsi dirinya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Itu suatu cita – cita yang mustahil tercapai dalam keadaan dan sitem
pendidikan indonesia saat ini.
Lalu membangkitkan
Budaya Literasi. Sistem pendidikan yang baik salah satu kriterianya menurut
penulis yaitu suatu sitem yang dapat memicu tumbuh dan berkembanya budaya
literasi pada peserta didik. Yaitu budaya baca, tulis dan diskusi. Tujuannya yaitu untuk membangun manusia yang
berkarakter, cerdas dan kesadaran
kritis. Sebab tidak akan ada kebangkitan tanpa kesadara kritis, dan
tidak akan ada kesadaran kritis tanpa suatu kebiasaan yang melatihnya. Islam
mengenalnya dengan istilah iqra (BACA). Suatu kewajiban yang wajib dilakukan
tanpa mengenal istilah kelas sosial.
Terahir dan paling
utama yaitu Pendidikan berbasis Lokal. Pendidikan berbasis lokal yaitu
pendidikan yang bisa membawa peserta didik yang memamahami, memiliki dan
mencintai Kearifan Lokal daerah dimana peserta didik itu berada. Karna salah
satu cara untuk menghadapai kancah global kita tidak boleh begitu saja lupa
dengan akar, yaitu kearifan lokal.
Founding father
pada saat memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Salah satunya memberikan dan
memperjuangkan pendidikan yang sejati. Saat ini kita sedang dibingungkan
menentukan pemimpin. Tidak hanya pemimpin baru, tetapi pemimpin yang mempunyai
moral baru, pola pikir baru, prilaku baru, konsep baru, gagasan baru.
Tentunya, yang dapat membawa ‘pendidikan
baru’ menuju Indonesia Baru.
Pertanyaannya, masihkah atau mungkinkah ada ? Semoga.
Daftar
Referensi
M Mushthafa,Sekolah dalam Himpitan Google dan
Bimble (Yogyakarta : LkiS. 2013)
Anita Lie, Cooperative Learning ( Jakarta :
Grasindo, 2008)
Esai Harapan itu Selalu Ada, Efri Fahmi Aziz,
(Pemenang Lomba Esai Kebangkitan Nasional BEM FH Unswagati)
Esai Doni Koesoemaa, Pelajaran Mencontek,
Kompas, edisi rabu, 21 Mei 2014
Sekolah itu candu, Room Topatipatang,
(yogyakarta : insist, 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar