Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Pendidikan “Botol Kosong”


Tahun ini, memang merupakan tahun politik. Tahun dimana masyarakat sedang sibuk sekaligus kebingungan menentukan calon pemimpin baru yang bisa membawa kepada kesejahteraan. Dilain pihak, Capres dan Cawapres (beserta tim sukses yang dikendarai), dan gerakan – gerakan afiliasi diabawahnya sedang ‘beradu ilmu’ untuk memenagkan kursi presiden dan merebutkan kursi di parlemen. Akan tetapi, jangan lupa tahun ini pun diiringi dengan ekonomi yang kembali menurun, disusul  dengan pengumuman kelulusan tingkat sma (yang katanya sebagai patokan berhasil tidaknya suatu pendidikan) kembali mengalami penurunan sekitar 0,01 % (sebanyak 7718 siswa dinyatakan tidak lulus).
Pelaksanaan Ujian Nasional kali ini pun sama seperti biasanya, diwarnai dengan contek – mencontek masal dengan kunci jawaban (sebagai senjata utama) beredar luas ‘dipasaran’. Selain soal tentang salah satu capres muncul lagi di UN tingkat SMP, disusul dengan plagiasi soal UN SMP  Kemdikbud atas soal – soal PISA (Programme for Internatiolan Student Assessment) yang dikeluarkan tahun 2012. Soal yang dibuat hasil mencontek, cara mengerjakannya pun dengan mencontek, sempurna! (Esai Doni Koesoemaa : Pelajaran Mencontek)
Walaupun Hari Pendidikan Nasional sudah terlewat. Akan tetapi, ditengah – tengah hirup pikuknya kancah perpolitikan nasional penulis kira masih relevan apabila tulisan penulis kali ini mensoroti dunia pendidikan nasional pada umumnya khususnya dunia pendidikan daerah (Cirebon). Tahun ini,  siswa SMA/SMK yang ‘mampu’ pasti akan melanjutkan jenjang  ke perguruan tinggi. Pertanyaannya apakah akan mengambil peran sebagai agent of change atau sebaliknya menjadi kader  yang menambah sederet prestasi ‘buruk’ di negri ini.
Dunia Pendidikan Sekarang  
Andaikan saja kita ingin pergi ke Papua, tetapi tanpa sadar kita menggunakan peta menuju ke Aceh. Tentu saja, sebaik-baiknya usaha kita selama di perjalanan tidak akan pernah sampai ke tujuan. Apapun usaha yang kita lakukan, entah itu dengan menambah kecepatan atau menyetir dengan hati-hati tetap saja akan sia-sia. Permasalahannya bukan pada usaha yang kita lakukan, tetapi pada peta atau petunjuk yang salah.
Petunjuk disini penulis anologikan sebagai  paradigma berpikir, entah dikalangan elit (pemerintah), pelaksana dilapangan (lembaga pendidikan) atau tenaga pengajar sekalipun. Paradigma menurut definisi yang ada  adalah suatu teori, perspektif atau kerangka berpikir untuk menentukan bagaimana kita mamandang, menginterpretasikan, dan memahami aspek-aspek kehidupan. Dalam hal ini – khusunya  dunia pendidikan – paradigma lama memandang siswa  seperti ‘botol kosong’  yang siap diisi dengan segala ilmu pengetahuan dan kebijaksanan dari atas sampai kebijaksanaan sang guru.


Bradasarkan asumsi seperti itu, pemerintah dengan semena – mena menerapkan kebijakan yang merepotkan peserta didik, dan tidak sedikit sekolah dengan guru sebagai tenaga pengajar   yang melaksanakan kegiatan belajar- mengajar dengan apa adanya, hanya bertugas memberi pengetahuan dan siswa hanya menerima. Tidak sedikit pun memicu tumbuhnya nalar kritis apalagi budaya literasi ( Baca, Tulis, Diskusi).
Setelah itu, berdasarkan peraturan yang ada, pengajar  akan mengelompokan siswa berdasarkan nilai, kemampuan dinilai dengan ranking dan siswa direduksi menjadi angka-angka. Dengan demikian memicu siswa  untuk berkompetisi (menghalalkan segala cara). Siswa bekerja keras untuk saling mengalahkan teman sekelas nya.
Tanpa kita sadari paradigma seperti itu telah dibawa dan diadopsi ke pendidikan tinggi (universitas), banyak dosen masih menggunakan paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternative. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan mengharapkan Mahasiswa duduk,diam,dengar,catat dan hafal(3DCH) serta mengadu mahasiswa satu sama lain.Johnson,Johnson dan Smith(1991).
Dengan paradigma seperti itu pula Membuat mahasiswa untuk saling  berkompetisi satu sama lain nya, akhirnya menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi dengan imbalan nilai yang tinggi. Satu-satunya alasan kuliah yaitu mendapatkan nilai tinggi,lulus tepat waktu, setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan. Lupa akan peran dan fungsinya sebagai Mahasiswa.  Title seorang Sarjana itu untuk membuat/menghasilkan sesuatu yang baru, tapi  dengan paradigma yang seperti itu dalam dunia pendidikan hanya akan menghasilkan seorang pekerja, bisa dibilang berati  Mahasiswa di didik hanya untuk menjadi seorang pekerja (buruh).
Dunia pendidikan kita saat ini dikepung dari berbagai hal (google dan bimbel), membuatnya kurang menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan disekolah maupun di Universitas cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat kepada kepentingan industri, dan kurang peduli kepada kebutuhan masyarakat terutama kepada kelompok yang terpinggirkan. Sehingga banyak opini yang berkembang bahwa sekolah hanya tempat penitipan anak, sekolah itu candu, bahkan yang radikal mengeluarkan argumen  bubarkan saja sekolah.
Guru atau tenaga pengajar lainnya terjebak dalam rutinitas ‘kesibukan mengajar’ yang cenderung membelenggu kreatifitas dan lupa akan tugasnya sebagai pendidik.. Dilain pihak, pengurus publik sulit menunjukan visi yang utuh dan mendasar. Cenderung beparadigma formal-birokratis.Tuntutan dunia pendidikan sudah banyak berubah.  Zaman semakin maju, teknologi semakin berkembang, persaingan akan semakin hebat. Apalagi di tahun 2015 pasar bebas akan masuk ke indoneia, itu artinya kita akan bersaing dengan orang-orang di Negara lain. 
Pendidikan Baru
Pertanyaan nya apakah kita semua siap ? jangan sampai kita dijajah kembali.  Maka dari itu Untuk mempersiapkan itu semua perlu upaya dari pemerintah pusat sampai ke daerah yang bersinergi dengan lembaga pendidikan dan tenaga pengajar serta peserta didik itu sendiri. Hal pertama yang mesti dirubah yaitu paradigma pendidikan kita, pendidikan tidak melulu memandang peserta didik sebagai botol kosong yang dibiarkan kosong begitu saja.
 Langkah selanjutnya yaitu menjalankan proses pendidikan sebaik mungkin tentunya dengan sistem pendidikan yang baik pula. Tidak sekedar mencetak peserta didik menjadi pandai, cerdas, atau tenaga ahli. Sistem pendidikan yang baik adalah mencetak peserta didik menjadi dirinya dan diarahkan memahami peran dan fungsi dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu suatu cita – cita yang mustahil tercapai dalam keadaan dan sitem pendidikan indonesia saat ini.
Lalu membangkitkan Budaya Literasi. Sistem pendidikan yang baik salah satu kriterianya menurut penulis yaitu suatu sitem yang dapat memicu tumbuh dan berkembanya budaya literasi pada peserta didik. Yaitu budaya baca, tulis dan diskusi.  Tujuannya yaitu untuk membangun manusia yang berkarakter, cerdas dan kesadaran  kritis. Sebab tidak akan ada kebangkitan tanpa kesadara kritis, dan tidak akan ada kesadaran kritis tanpa suatu kebiasaan yang melatihnya. Islam mengenalnya dengan istilah iqra (BACA). Suatu kewajiban yang wajib dilakukan tanpa mengenal istilah kelas sosial.
Terahir dan paling utama yaitu Pendidikan berbasis Lokal. Pendidikan berbasis lokal yaitu pendidikan yang bisa membawa peserta didik yang memamahami, memiliki dan mencintai Kearifan Lokal daerah dimana peserta didik itu berada. Karna salah satu cara untuk menghadapai kancah global kita tidak boleh begitu saja lupa dengan akar, yaitu kearifan lokal.
Founding father pada saat memperjuangkan kemerdekaan indonesia. Salah satunya memberikan dan memperjuangkan pendidikan yang sejati. Saat ini kita sedang dibingungkan menentukan pemimpin. Tidak hanya pemimpin baru, tetapi pemimpin yang mempunyai moral baru, pola pikir baru, prilaku baru, konsep baru, gagasan baru. Tentunya,  yang dapat membawa ‘pendidikan baru’  menuju Indonesia Baru. Pertanyaannya, masihkah atau mungkinkah ada ? Semoga.
Daftar Referensi
M Mushthafa,Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimble (Yogyakarta : LkiS. 2013)
Anita Lie, Cooperative Learning ( Jakarta : Grasindo, 2008)
Esai Harapan itu Selalu Ada, Efri Fahmi Aziz, (Pemenang Lomba Esai Kebangkitan Nasional BEM FH Unswagati)
Esai Doni Koesoemaa, Pelajaran Mencontek, Kompas, edisi rabu, 21 Mei 2014
Sekolah itu candu, Room Topatipatang, (yogyakarta : insist, 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar