Hembusan angin terus menampar sekujur tubuh, dari
atas kepala terik terus menerjang batok kepala dan menembus ubun – ubun. Asap
–asap terus berterbangan, semakin menyebar ke seluruh sudut, mengisi ruang – ruang kosong yang kini tak lagi bertanah tapi bertuan. Ya,
memang Aku sudah terlalu terbiasa dengan
kondisi seperti ini, dimana kerinduan yang kunantikan terkadang membuatku tak
jarang merasa resah. Sulit bagiku untuk mencari tempat yang bisa menyejukan
tubuh dan hatiku. “Tak, seindah dulu!” kata – kata itu yang sering terlontar
dari mulutku. Entah mengapa, mungkin kata - kata itu yang selalu membuatku
resah ketika sesuatu yang kunantikan sudah berada dihadapanku. “ini
kenyataannya, tapi kamu jangan terlalu larut, Dam.” Ucap temanku. Tapi, aku
sendiri tau, ucapan itu hanya ingin menghibur, berniat memecahkan suasana. Aku
yakin, sebenarnya temanku merasakan hal yang sama.
Lelah, aku bersama sahabatku melangkah pergi menuju “Rumah Bersama”.
Setibanya dirumah bersama, aku langusng membaringkan badan seraya memejamkan
matakuku. Dengan harapan aku bisa bertemu rinduku di alam mimpi. Suara bising kembali
terdengar ditelinga, memaksa badanku untuk segera terbangun. Malas, ingin
rasanya aku tidur kembali. Menikmati rasa kantuk yang terus memaksaku untuk
segera memejamkan mata, agar aku bisa mencoba kembali mencari rinduku dialam
bawah sadar yang tak berhasil aku jumpai
pada saat tidur waktu malam.
Harapanku gagal, aku tak
berjumpa dengan rinduku. Aku mengangkat tubuhku, sembari melihat Via yang
terlihat sibuk. Aku tersenyum
tipis, ketika sahabatku menunjuk ke arah
kalender. Sahabatku lagi - lagi berusaha menghiburku, mungkin semalam ia lembur
untuk membuat suatu kejutan kepadaku. Diambilnya kalender itu, dan diletakan
didepan mataku. Sepidol berwarna merah melingkari tulisan “November” serta tanda panah yang menuju kea arah
tulisan. “Selamat, rindumu akan segera datang”. “Via, via, Percuma. Semakin kamu berusaha
menghiburku, justru aku semakin resah.”
Ucapku menggerutu. Aktivitas
sudah menanti didepan mata, aku harus segera menuju ke tempat dimana aku dan
sahabatku memeras keringat, membanting tulang untuk mememnuhi sandang,pangan,
dan papan.
***
Tak terasa dari
kejuahan awan hitam terlihat mendekat, hembusan angin pun semakin kencang menyapu bersih debu jalanan yang berserakan.
Sampah – sampah berterbangan mengiringi langkah angin pembawa rindu itu.
Hembusan angin itu membuat seng – seng atap rumah berdendang beralunan, membentuk simponi yang
khas. Jemuran pakaian yang bergelantungan disetiap lorong jalan sesegera
diambil oleh si penghuninya. Memang
tidak bisa dipungkiri hujan adalah utusan langit untuk bumi yang mengantarkan
surat rindu tak tertahankan selama 6
bulan dalam 365 hari. Awan mendung sudah
berada tepat diatas kepalaku, gemuruh petir berteriak dengan kencang. Sontak,
hidungku mencium aroma tanah yang khas. Rintikan air hujan mulai turun dari
kerumunan awan hitam itu.
“Dam, ayo kita pulang” Via menarik tanganku.
“Ko, pulang?” Aku menahan tarikan via.
“Ialah, kalo gak, bisa berabe!” Via mengingatkan.
“Padahal aku masih ingin menikmati, vi”
“Suasana seperti ini yang aku tunggu” Keluhku.
“Sama sepertimu, dam”
“Sebenarnya aku juga ingin bercumbu dengan hujan”
“Tapi, ingat kita harus pulang! ” Via kembali
mengingatkan.
Dengan berat hati aku
mengangkatkan badanku untuk sesegera berdiri dan berlari menuju rumah. Sambil
berpegangan tangan aku dan via terus melangkah sekencang mungkin. Hujan semakin
mengguyur dengan deras, awan hitam serasa mengikuti jejak langkahku. Terkadang
aku berpikir kenapa aku harus tergesa – gesa seperti ini? Kerinduan akan
arsiran hujan yang aku nantikan kenapa harus Aku sia – siakan begitu saja. Terbantai oleh rasa resahku.
***
“Via, kita berhenti dulu” Aku kembali menahan diri
untuk berhenti.
“Gak bisa dam, ayo cepat.”
“Orangtua kita
menunggu dirumah, apa kamu gak kasian?” Via menarik – narik kaosku.
“Sebentar saja vi,” Keluhku.
“Kamu ini cowok, ko jadi manja gitu, hujan semakin
besar!” Via memandangiku dengan tatapan sinis.
“Ia mungkin aku terlihat manja”
“Tapi suasana seperti ini yang kita idam – idamkan?”
jelasku.
“Ia ngerti! Tapi, kondisi kita berbeda dengan orang
diluaran sana!”
“Kalo kamu gak mau,
Aku pergi duluan” Ancam via.
“Jangan, hujannya besar, barang kali ada apa – apa!”
“Yaudah, ayo kita pulang” Via menarik lagi tanganku.
Panas aku terjang, tak kuhiraukan.
Karna aku bisa mencari sesuap nasi. Tapi ketika hujan seperti ini, walaupun aku
merindukannya, aku tidak bisa mencari uang tambahan, walaupun dengan menjadi
ojeg payung sekalipun. Disaat hujan
mungkin bagi orang lain ini menjadi kesengan tersendiri (kepuasan batin). Dengan hujan orang – orang bisa membuat alunan
musik yang merdu; membuat bait – bait puisi yang menawan. Membuat goresan tinta
yang mengukir cerita. Tapi, tidak denganku!
“Kita terlambat Dam” Via berhenti diperempatan jalan.
“Ia via”
“Tapi gpp, ayo kita bantu orang tua kita” Jawabku
lemas.
“Ok, sampai ketemu” Via tetap terlihat semeringah.
Aku berjalan perlahan menghampiri rumah,
genangan air menghambat langkah kakiku.
Kulihat sekelilingku, orang –
orang sibuk memindahkan isi rumahnya. Mengangkut sisa – sisa yang masih layak
untuk terpakai. Anak – anak sedang asik
bergelimpangan di atas genangan air. Remaja se usiaku sibuk membantu orang
tuanya, ada juga yang menjadi ojeg dadakan. Mereka terlihat senang, menikmati
kondisi seperti ini. Padahal aku yakin, merekapun ingin menikmati hujan ini
dengan nyaman, damai, dan tentram. Tidak seperti ini! Apa yang harus aku
lakukan? Aku harus menggugat ? Segala upaya konon katanya telah dilakukan, Apa
hasilnya?
Ya, seperti layaknya orang – orang diluar
sana. Aku ingin menikmati kerinduanku ini dengan syahdu. Ingin rasanya aku
menyatu bersama hujan, menggoreskan arsiranku untuk membuat ukiran pelangi yang
indah. Tapi, apalah daya! Kadang aku
berpikir, ini tidak adil. Tapi aku sadar, aku tidak bisa hanya mengandalkan
orang lain dan terus mengeluh. ini masalah bersama, Tanggung jawab bersama,
yang harus ditangani bersama pula. Aku yakin masih ada cara untuk mengatasi
kerinduanku, bahkan untuk dirasakan oleh semua orang. Satu hal yang kini aku
mengerti, yaitu bahwa hujan tak hanya rinai dan bau khas tanah. Juga tak hanya
alam yang menjadi tumbuh subur karenanya. Termasuk, membuatku merasa rindu
bercampur resah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar