Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Diantara Rindu dan Resah




Hembusan angin terus menampar sekujur tubuh,   dari atas kepala terik terus menerjang batok kepala dan menembus ubun – ubun. Asap –asap terus berterbangan, semakin menyebar ke seluruh sudut,  mengisi ruang – ruang kosong yang kini  tak lagi bertanah tapi bertuan. Ya, memang  Aku sudah terlalu terbiasa dengan kondisi seperti ini, dimana kerinduan yang kunantikan terkadang membuatku tak jarang merasa resah. Sulit bagiku untuk mencari tempat yang bisa menyejukan tubuh dan hatiku. “Tak, seindah dulu!” kata – kata itu yang sering terlontar dari mulutku. Entah mengapa, mungkin kata - kata itu yang selalu membuatku resah ketika sesuatu yang kunantikan sudah berada dihadapanku. “ini kenyataannya, tapi kamu jangan terlalu larut, Dam.” Ucap temanku. Tapi, aku sendiri tau, ucapan itu hanya ingin menghibur, berniat memecahkan suasana. Aku yakin, sebenarnya temanku merasakan hal yang sama.
Lelah, aku bersama sahabatku melangkah pergi menuju “Rumah Bersama”. Setibanya dirumah bersama, aku langusng membaringkan badan seraya memejamkan matakuku. Dengan harapan aku bisa bertemu  rinduku di alam mimpi. Suara bising kembali terdengar ditelinga, memaksa badanku untuk segera terbangun. Malas, ingin rasanya aku tidur kembali. Menikmati rasa kantuk yang terus memaksaku untuk segera memejamkan mata, agar aku bisa mencoba kembali mencari rinduku dialam bawah sadar yang tak berhasil aku jumpai  pada saat tidur waktu malam.
 Harapanku gagal, aku tak berjumpa dengan rinduku. Aku mengangkat tubuhku, sembari melihat Via yang terlihat sibuk.  Aku tersenyum tipis,  ketika sahabatku menunjuk ke arah kalender. Sahabatku lagi - lagi berusaha menghiburku, mungkin semalam ia lembur untuk membuat suatu kejutan kepadaku. Diambilnya kalender itu, dan diletakan didepan mataku. Sepidol berwarna merah melingkari tulisan “November”  serta tanda panah yang menuju kea arah tulisan. “Selamat, rindumu akan segera datang”.  “Via, via, Percuma. Semakin kamu berusaha menghiburku, justru aku semakin resah.”  Ucapku menggerutu.  Aktivitas sudah menanti didepan mata, aku harus segera menuju ke tempat dimana aku dan sahabatku memeras keringat, membanting tulang untuk mememnuhi sandang,pangan, dan papan.
***
Tak terasa dari kejuahan awan hitam terlihat mendekat, hembusan angin pun semakin kencang  menyapu bersih debu jalanan yang berserakan. Sampah – sampah berterbangan mengiringi langkah angin pembawa rindu itu. Hembusan angin itu membuat seng – seng atap rumah  berdendang beralunan, membentuk simponi yang khas. Jemuran pakaian yang bergelantungan disetiap lorong jalan sesegera diambil oleh si penghuninya.  Memang tidak bisa dipungkiri hujan adalah utusan langit untuk bumi yang mengantarkan surat rindu tak tertahankan  selama 6 bulan dalam 365 hari. Awan mendung  sudah berada tepat diatas kepalaku, gemuruh petir berteriak dengan kencang. Sontak, hidungku mencium aroma tanah yang khas. Rintikan air hujan mulai turun dari kerumunan awan hitam itu.

“Dam, ayo kita pulang” Via menarik tanganku.
“Ko, pulang?” Aku menahan tarikan via.
“Ialah, kalo gak, bisa berabe!”  Via mengingatkan.
“Padahal aku masih ingin menikmati, vi”
“Suasana seperti ini yang aku tunggu” Keluhku.
“Sama sepertimu, dam”
“Sebenarnya aku juga ingin bercumbu dengan hujan”
“Tapi, ingat kita harus pulang! ” Via kembali mengingatkan.

Dengan berat hati aku mengangkatkan badanku untuk sesegera berdiri dan berlari menuju rumah. Sambil berpegangan tangan aku dan via terus melangkah sekencang mungkin. Hujan semakin mengguyur dengan deras, awan hitam serasa mengikuti jejak langkahku. Terkadang aku berpikir kenapa aku harus tergesa – gesa seperti ini? Kerinduan akan arsiran hujan yang aku nantikan kenapa harus Aku sia – siakan begitu saja.  Terbantai oleh rasa resahku.

***

“Via, kita berhenti dulu” Aku kembali menahan diri untuk berhenti.
Gak bisa dam, ayo cepat.”
 “Orangtua kita menunggu dirumah, apa kamu gak kasian?” Via menarik – narik kaosku.
“Sebentar saja vi,” Keluhku.
“Kamu ini cowok, ko jadi manja gitu, hujan semakin besar!” Via memandangiku dengan tatapan sinis.
“Ia mungkin aku terlihat manja”
“Tapi suasana seperti ini yang kita idam – idamkan?” jelasku.
“Ia ngerti! Tapi, kondisi kita berbeda dengan orang diluaran sana!”
“Kalo kamu gak mau,  Aku pergi duluan” Ancam via.
“Jangan, hujannya besar, barang kali ada apa – apa!”
“Yaudah, ayo kita pulang” Via menarik lagi tanganku.

Panas aku terjang, tak kuhiraukan. Karna aku bisa mencari sesuap nasi. Tapi ketika hujan seperti ini, walaupun aku merindukannya, aku tidak bisa mencari uang tambahan, walaupun dengan menjadi ojeg payung sekalipun.  Disaat hujan mungkin bagi orang lain ini menjadi kesengan tersendiri (kepuasan batin).  Dengan hujan orang – orang bisa membuat alunan musik yang merdu; membuat bait – bait puisi yang menawan. Membuat goresan tinta yang mengukir cerita. Tapi, tidak denganku!

“Kita terlambat Dam” Via berhenti diperempatan jalan.
“Ia via”
“Tapi gpp, ayo kita bantu orang tua kita” Jawabku lemas.
“Ok, sampai ketemu” Via tetap terlihat semeringah.

Aku berjalan perlahan menghampiri rumah, genangan air menghambat langkah kakiku.  Kulihat sekelilingku,  orang – orang sibuk memindahkan isi rumahnya. Mengangkut sisa – sisa yang masih layak untuk terpakai.  Anak – anak sedang asik bergelimpangan di atas genangan air. Remaja se usiaku sibuk membantu orang tuanya, ada juga yang menjadi ojeg dadakan. Mereka terlihat senang, menikmati kondisi seperti ini. Padahal aku yakin, merekapun ingin menikmati hujan ini dengan nyaman, damai, dan tentram. Tidak seperti ini! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menggugat ? Segala upaya konon katanya telah dilakukan, Apa hasilnya?

 Ya, seperti layaknya orang – orang diluar sana. Aku ingin menikmati kerinduanku ini dengan syahdu. Ingin rasanya aku menyatu bersama hujan, menggoreskan arsiranku untuk membuat ukiran pelangi yang indah. Tapi, apalah daya!  Kadang aku berpikir, ini tidak adil. Tapi aku sadar, aku tidak bisa hanya mengandalkan orang lain dan terus mengeluh. ini masalah bersama, Tanggung jawab bersama, yang harus ditangani bersama pula. Aku yakin masih ada cara untuk mengatasi kerinduanku, bahkan untuk dirasakan oleh semua orang. Satu hal yang kini aku mengerti, yaitu bahwa hujan tak hanya rinai dan bau khas tanah. Juga tak hanya alam yang menjadi tumbuh subur karenanya. Termasuk, membuatku merasa rindu bercampur resah.    








Tidak ada komentar:

Posting Komentar