Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Presdiden Juga Makan Beras




Prolog
Tidak sedikit permasalahn baru yang lebih ‘parah’ terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Setelah sebelumnya menyoal fluktuatif kenaikan harga BBM karena mekanismenya diserahkan kepada pasar. Kemudian kisruh politis antara KPK VS Polri yang masih berlangsung sampai saat ini menjadi bumbu penyedap, sampai perpanjangan kontrak Freeport dan MP3EI luput dari perhatian publik. Tidak hanya itu, dan tak kalah hebohnya yang terbaru ini yaitu kenaikan harga beras yang mencapai 30%  menjadi polemik baru. Kenaikan paling tinggi  baru dialami pada masa kekuasaan Presiden Jokowi. Lagi dan lagi, kepercayaan publik (Public Trust) terhadap kinerja pemerintah sedang dipertaruhkan.
Saat ini harga beras dipasaran bermacam – macam; ada yang Rp 15 ribu/Kg untuk kualitas yang baik. Sedangkan dengan kualitas biasa dikisaran Rp 11-12 ribu/kg.  Seperti yang kita ketahui bersama beras merupakan salah satu barang logistik yang sangat fital bagi masyarakat Indonesia. Orang Indonesia apabila belum mengkonsumi nasi, maka dapat diartikan belum makan walaupun sudah mengkonsumsi 2 buah roti. Itu artinya ketersedian dan stabilitas harga beras menjadi sangat penting. Apabila terus didiamkan tanpa ada intervensi dari Pemerintah, tidak menutup kemungkinan kerusahaan akan terjadi dan tingkat kriminalitas akan semakin meningkat.
Tinjauan Kritis
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita sedikit melakukan kajian dan analisis soal sistem logistik beras. Beberapa alasan yang kerap dilontarkan soal kenaikan harga beras diantaranya;Pertama,  Adanya permainan para mafia beras. Kedua, ulah tengkulak yang memanfaatkan situasi. Ketiga, ulah para distributor yang ‘nakal’. Terahir, dikarenakan musim paceklik. Sekilas memang alasan – alasan tersebut  terlihat benar, dan selalu dijadikan senjata untuk melakukan pertahanan. Akan tetapi, belum terlihat langkah serius dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Baru sebatas WACANA!
Kemudian timbul beberapa pertanyaan mendasar yang harus kita jawab bersama. Kenapa persediaan beras tidak ada? Apakah dikarenakan musim paceklik atau gagal panen (muso)?  Apakah pemerintah sudah melakukan pragnosa dengan baik? Kenapa harga beras bisa naik? Apakah kenaikan harga beras berdampak kepada petani? Dimana peran pemerintah untuk mengendalikan harga? Apa yang bisa  kita lakukan sebagai masyarakat?
Baiklah mari kita kupas satu per satu beberapa pertanyaan diatas. Persediaan beras akan selalu tercukupi apabila pemerintah dalam hal ini bulog sebagai representasi melakukan pragnosa atau perkiraan (ramalan) untuk memperkirakan kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi. Dengan melakukan pragnosa gabah dan beras dengan maksimal, menurut penulis alasan paceklik dan gagal panen sudah bisa diperkirakan dan ada solusinya sehingga ketersediaan beras dan harga beras tetap stabil.
Berbicara soal kenaikan harga tentu tidak lepas dari teori ekonomi soal hukum permintaan dan penawaran (Suply and Demand). Dimaka ketika permintaan terhadap beras lebih tinggi ketimbang penawaran maka harga akan naik, begitupun sebaliknya. Akan tetapi, menurut statement beberapa pejabat teras istana bahwa persediaan beras masih mencukupi. Lalu kenapa harga bisa naik? Mafia beras, tengkulak dan lainnya lah yang dijadikan kambing hitam.
Sebagai   Contoh, misalnya  Bulog  melakukan pengadaan beras sebanyak 20 ribu ton. Dengan harga dari produsen (petani) Rp.4.500/kg. Kemudian dibeli oleh Pemerintah dengan harga Rp. 7 ribu/Kg harga normal di pasaran yang nantinya akan dibeli oleh masyrakat sebagai raskin Rp 1500/kg (Masyarakat mendapat subsidi Rp.6000/kg) . Akan tetapi, dari situ Bulog mendapatkan selisih (Profit) Rp 2.500/Kg. Lantas siapa yang dimaksud pemerintah sebagai mafia?
PR yang Harus Dikerjakan
Logika sederhana  seharusnya sebagai seorang produsen petani bisa lebih diuntungkan ketika barang yang ia hasilkan mengalami kenaikan harga. Akan tetapi dalam soal beras, petani hanya gigit jari sebagai produsen!  Untuk beras yang dipasarkan secara tradisional saja bisa sampai tujuh tengkuluk (tujuh kali perpindahan kepemilikan). Tentu, hal itulah yang menyebabkan ongkos logistik sangat mahal. Pemerintah seharusnya berperan dalam hali ini,  memikirkan rantai tata niaga  agar sistemnya bisa berjalan dengan efisen sehingga bisa lebih memakmurkan petani. Apakah sudah dilakukan? 
Miris memang apabila kita melihat kondisi petani, ditengah – tengah harga beras yang melonjak petani hanya bisa menontonnya di layar kaca tanpa bisa menikmatinya. Daya tawar petani untuk menentukan harga  pasar sangat lemah. Kenapa petani tidak bisa menentukan harga? Yaitu dikarenakan petani di Indonesia pada umumnya masih sebagai price taker (penerima harga) bukan sebagai price maker (pembuat harga). Tugas pemerintah dan kita semua lah yang harusnya membalikkan keadaan tersebut. Dimana petani bisa menentukan harga dan berdaulat. Lantas bagaimana agar petani bisa menentukan harga? Yaitu dengan membentuk kelompok tani yang independen, seperti yang dilakukan petani jahe di Larangan, Kabupaten Berebes. Dengan mengorganisir dan berorganisasi maka petani bisa memutus rantai tata niaga, tentu akan lebih berdaulat!
Saat ini bagaimana petani ingin berdaulat sedangkan alat produksi mereka saja tidak punya. Ditambah lagi jeratan trio macan (tengkulak,rentenir dan kredit) membuat petani semakin terpuruk. Permasalahan social inilah yang seharusnya tidak luput juga dari peran pemerintah. Karena permasalahan social tersebut akan menjadi efek domino mengapa harga beras bisa melonjak. Sebenarnya apabila pemerintah bisa menjalankan perannya dengan maksimal yaitu dengan melakukan pengendalian harga, melakukan pragnosa, Operasi Pasar, penyuluhan kepada petani untuk pentingnya berorganisasi dan masih banyak cara yang bisa dilakukan.
Sebenarnya permasalahan sistem logistick yang membuat harga menjadi tidak stabil bukan hal baru. Anehnya sampe sekarang masih belum terlihat terobosan – terobasan dari pemerintah untuk memperbaiki sitem logistik. Saat ini kinerja pemerintahan sedang menjadi bahan tontonan masyarakat, otomatis kepercayaan public terhadap kinerja pemerintahan akan meningkat seiring dengan kinerja yang lebih baik. Apabila tidak bisa mengatasi permasalahan soal beras yang menjadi kebutuhan hajat hidup seluruh masyarakat Indonesia, sudah jelas kepercayaan public terhadap pemerintah akan semakin menurun derastis. Kepercayaan public begitu penting untuk keberlangsungan suatu pemerintahaan. Bukannya begitu? jangan sampai masyarakat  berbondong – bondong menagihnya!
*Epri Fahmi Aziz Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unswagati, Sekaligus Kepala Divisi Kajian Data Strategis GEMSOS Cirebon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar