Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Lima Pilar Kehidupan Membangun Kejayaan Bangsa




Selayang Pandang
Berbicara mengenai kejayaan bangsa, tentunya tidak lepas dari sejarah perkembangan suatu bangsa itu sendiri. Dalam pembahsan kali ini, saya akan lebih fokuskan mengenai tema “Kejayaan Bangsa” kearah peran pemuda.  Seperti yang kita ketahui bersama dalam membangun negri ini peran pemuda begitu sakral, pantas saja kalau Bung karno dalam pidatonya pernah bilang “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda, Niscaya akan kuguncangkan dunia”. Perkataan Bung karno itu membuktikan bahwa seorang pemuda memiliki kemampuan untuk merubah suatu keadaan, tapi sadarkah kita selaku pemuda Indonesia?
Santai, jangan terlalu terburu – buru untuk menjawabnya. Sebelum menjawabnya alangkah lebih baik apabila kita sedikit menilik berbagai aspek mengenai pemuda.  Ya, langsung saja kita mulai sedikit membahas tentang pemuda. Salah satu aspek dari perkembangan pemuda adalah yang berhubungan dengan hati. Dalam arti sederhana hati berarti sebuah gumpalan merah yang terdapat dalam dada manusia, namun yang lebih saya maksudkan adalah hal-hal yang terjadi di dalamnya; menyangkut aspek kejiwaan. Tapi pada umumnya, pemuda sering mengartikan bentuk hati dengan cinta. Maka dari itu  masalah hati lebih saya fokuskan kepada masalah cinta yang melanda pemuda.
Mungkin teman – teman sekalian waktu dulu pernah mendengar lontaran kata yang sering diucapkan oleh Mandra yaitu “Kalo ngomongin soal cinte, gak bakal ade matinye”. Selain itu, teman – teman sekalian pasti pernah juga menonton sinema “Kera Sakti”, dimana Chut Pat Kai sering mengatakan “Beginilah cinta, deritanya tiada henti”. Memang kita semua tidak bisa memungkiri, masalah cinta ini selalu menjadi bahan perbincangan kita; dimulai dari forum curhat, tempat tongkrongan, sinetron, lagu, bahkan sampai di WC sekalipun. Memang, cinta merupakan kata yang tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan. Bukannya begitu teman – teman sekalian?
Mengenai Cinta, teman – teman tidak usah bingung, beruntung ada orang yang telah mendefinisikan kata Cinta dengan sederhana. Siapa dia, yaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziah penulis buku Raudhatul Muhibbin (Taman Orang yang Jatuh Cinta) memberikan sebuah definisi yang sederhana “Cinta akan lenyap dengan lenyap nya sebab.” Sebab yang sembarangan hanya akan menumbuhkan cinta yang sembarangan. Cinta yang abadi memerlukan sebab yang abadi pula. Pada kenyataannya kebanyakan para pemuda/i  selalu mengartikan jika cinta itu hanya untuk lawan jenis, dan kata-kata cinta itu lebih dekat dengan nafsu, umbaran syahwat, dan perzinaan.
Pemuda dan Cinta
Diakui atau tidak, apabila kita berbicara mengenai cinta dapat memberikan kekuatan yang luar biasa, semangat yang menggelora. seperti yang pernah dijelaskan dalam buku yang berjudul “Pacaran dalam kaca mata islam” karangan Abdurahman Al-Mukafi yang menjelaskan “cinta menjadikan pengecut sebagai pemberani, yang bakhil jadi penderma, si bodoh jadi pintar, memfasihkan lidah, mentertajam pena para pengarang, menguatkan silemah, mencerdaskan, serta mendatangkan kegembiraan dalam jiwa dan perasaan.”  Tapi sekarang  kita coba lihat realitas yang ada disekeliling kita. Apakah seperti itu? cuman teman – teman sendiri yang dapat menjawabnya.
Ya, memang tidak ada ujungnya kalo kita membahas soal cinta. Tapi dalam hal ini yang jelas saya ingin menyampaikan bahwa sebagai pemuda (laki atau perempuan) ‘cinta’ kita sebagai generasi penerus bangsa memiliki peranan yang sangat strategis untuk kemajuan bangsa. Cinta dan peran dari seorang pemuda sangat dibutuhkan untuk kejayaan bangsa, dan masih banyak orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan ‘cinta’ dari kita. Coba kita tengok ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang, ke atas ke bawah di sana terdapat orang-orang lemah, kaum yang terdiskriminasi, terisolir, termiskinkan, terbodohi, terjebak dalam sistem yang abstrak ini. Mereka pun manusia, sama seperti kita, mereka pun patut untuk dicintai oleh kita. 
Krisis moral para pemimpin bangsa yang saat ini  melanda negri kita tercinta tentu saja  mengakibatkan krisis regenerasi pemuda saat ini, yang pada dasarnya akan memiliki efek menghambat kemajuan bangsa. Krisis regenerasi ini  salah satunya dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah terhadap para pemuda yang akan menjadi ‘Kader’ bangsa. Harus diakui pula pemuda saat ini  terjebak pada eksistensi diri atau kelompok. Ini melanda semua level pemuda; Baik itu pelajar, Mahasiswa, bahkan pekerja sekalipun. Pemuda saat ini mengedepankan eksistensi, tapi lupa akan tanggung jawabnya sebagai ujung tombak bangsa.
Peran Strategis Pemuda
Tampaknya perbinacangan kita kali ini mulai mengkrucut, kali ini kita akan membahas peran strategis yang diemban oleh seorang pemuda. Pemuda dalam hal ini khususnya adalah Mahasiswa. Seperti apa yang pernah diucapkan salah satu Fauding Fathers kita yaitu Sutan Syahrir yang menyebutkan bahwa mahasiswa sebagai ujung tombak dari cita – cita bangsa. Menurutnya mahasiswa adalah avant-garde dalam kemajuan bangsa, mahasiswa adalah kader-kader terbaik untuk pelaksanaan program-program pembangunan untuk produksi yang lebih banyak, dan distribusi yang lebih baik.
Menurut Syahrir mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan untuk menjadi intelegensia rakyat dan kelak diharapkan menjadi kader masyarakat. Sutan Syahrir pernah berkata kepada Subadio Sastrosastomo di Penjara Madiun, “Penyelesaian Revolusi Indonesia ada ditangan kaum muda kita, mereka lah yang menetukan hari depan bangsa dan tanah air, karena itu, Engkau jangan meremehkan mereka, bimbinglah mereka kejalan yang benar, ialah jalan pembaruan menuju masyarakat adil dan makmur tanpa penghisapan dan  penindasan.
Teman – teman mahasiswa sekalian, kita semua pasti tahu bahwa mahasiswa merupakan agent of change  dituntut bukan hanya menjadi bagian dari perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri. Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar dalam membuat perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat, apalagi saat ini dinamika masyarakat begitu cepat berubah seiring perubahan global. Dalam konteks seperti ini, pemuda dapat memfungsikan diri melalui sikap kritis, semangat berubah dan ide-ide cerdasnya mengatasi kemandekan berpikir dalam masyarakat.
Peran pemuda khususnya mahasiswa sebagai social of control terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Saat ini di Indonesia, masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus – kasus soal  hukum, KKN,  pendidikan dan kebudayaan merajalela dalam kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa pemuda yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya.
Remaja, pelajar, dan mahasiswa merupakan sekelompok makhluk yang memiliki segudang rasa optimisme, begitu kata Joni Lis Efendi dalam bukunya “Dirimu Harta Karun Yang Tak Ternilai”. Mumpung kita masih muda, banyak sekali mimpi atau cita-cita yang bisa kita wujudkan dengan mengendalikan optimisime yang kita miliki. Mumpung kita masih muda, kita lakukan yang terbaik untuk negeri kita, dan masyarakat di sekitar kita. Mumpung kita masih muda jangan sia-siakan hidup kita, lakukan lah perubahan menuju kemajuan untuk negri kita. Bagaimana caranya? Selain apa yang telah disampaikan diatas, hal yang tidak bisa kita lewatkan yaitu merawat nurani kita selaku pemuda untuk kemajuan suatu bangsa.
Lima Pilar Kehiduapan
Mariliah kita selaku pemuda/i Indonesia untuk menumbah nilai – nilai yang ada didalam nurani kita yaitu nilai “Kemanusiaa, Solidaritas, Demokrasi, Kesetaraan, dan Keadilan”. Saya sebut nilai – nilai tersebut sebagai 5 pilar kehidupan untuk berbangsa dan bernegara. Pertama; Kemanusian. Selaku pemuda harus menjungjung tinggi nilai kemanusian, kita semua memiliki nurani untuk mulai mencoba “Memanusiakan manusia”. Dimana itu yang akan menjadi modal awal kita untuk merangkai wajah tentang Indonesia.
Kedua; Solidaritas. Selaku pemuda kitapun patut memiliki rasa solidaritas. Tidak memenintang kelompok, golongan atau teman seidiologi. Dengan silidaritas latar belakang yang berbeda atau berbagai perbedaan yang lainnya kita jadikan sebagai kekuatan untuk membangun bangsa. Ketiga; Demokrasi. Sebagai pemuda bahkan siapapun itu sudah merupakan suatu kewajiban untuk berbuat demokratis. Nah, kita selaku pemuda harus bisa menjadi pelopor untuk berbuat dan bertindak demokratis dimanapun kita berada.
Keempat; Kesetaraan. Dalam hal ini setara dalam pemikiran. Sebagai pemuda juga kita harus memiliki rasa kesetaraan dalam berfikir, agar fikiran kita bisa merdeka dan tidak terbelenggu oleh rasa takut, senioritas ataupun itu yang menghambat pemikiran kita untuk berkembang. Terahir yaitu Keadilan, sudah merupakan suatu keharusan bagi kita juga selaku pemuda (Mahasiswa) untuk memegang dengan erat nilai – nilai keadilan. Seperti yang pernah dikatakan Pramoediya Ananta Toer dalam Roeman Bumi Manusia “Seorang berpendidikan harus berbuat adil sejah dalam fikiran, apalagi dalam perbuatan”.
Teman – teman sekalian, nurani kita harus tetap kita jaga demi kemajuan bangsa.  Lima pilar kehidupan itu mungkin bisa kita jadikan cinta dan menjadi salah satu solusi sebagai referensi agar kita bisa berbuat yang terbaik untuk negri kita tercinta. Semoga saja dengan 5 pilar kehidupan itu apa yang menjadi cita – cita kita bersama yatiu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” bisa tercapai, kita semua harus meyakini bahwa harapan akan selalu ada. Dan kita selaku pemuda Indonesia harus bisa membuktikan bahwa harapan itu bukan hanya omong kosong, bukannya begitu teman – temanku dan saudaraku? Untuk membangun kejayaan bangsa, kenapa tidak ?!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar