Selayang Pandang
Berbicara mengenai kejayaan bangsa,
tentunya tidak lepas dari sejarah perkembangan suatu bangsa itu sendiri. Dalam
pembahsan kali ini, saya akan lebih fokuskan mengenai tema “Kejayaan Bangsa”
kearah peran pemuda. Seperti yang kita
ketahui bersama dalam membangun negri ini peran pemuda begitu sakral, pantas
saja kalau Bung karno dalam pidatonya pernah bilang “Berikan aku 1000 orang
tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda, Niscaya
akan kuguncangkan dunia”. Perkataan Bung karno itu membuktikan bahwa seorang
pemuda memiliki kemampuan untuk merubah suatu keadaan, tapi sadarkah kita
selaku pemuda Indonesia?
Santai, jangan terlalu terburu – buru untuk menjawabnya. Sebelum
menjawabnya alangkah lebih baik apabila kita sedikit menilik berbagai aspek
mengenai pemuda. Ya, langsung saja kita
mulai sedikit membahas tentang pemuda. Salah satu
aspek dari perkembangan pemuda adalah yang berhubungan dengan hati. Dalam arti
sederhana hati berarti sebuah gumpalan merah yang terdapat dalam dada manusia,
namun yang lebih saya maksudkan adalah hal-hal yang terjadi di dalamnya; menyangkut
aspek kejiwaan. Tapi pada umumnya, pemuda sering mengartikan bentuk hati
dengan cinta. Maka dari itu masalah hati
lebih saya fokuskan kepada masalah cinta yang melanda pemuda.
Mungkin
teman – teman sekalian waktu dulu pernah mendengar lontaran kata yang sering
diucapkan oleh Mandra yaitu “Kalo ngomongin soal cinte, gak bakal ade matinye”.
Selain itu, teman – teman sekalian pasti pernah juga menonton sinema “Kera
Sakti”, dimana Chut Pat Kai sering mengatakan “Beginilah cinta, deritanya tiada
henti”. Memang kita semua tidak bisa memungkiri, masalah cinta ini selalu
menjadi bahan perbincangan kita; dimulai dari forum curhat, tempat tongkrongan,
sinetron, lagu, bahkan sampai di WC sekalipun. Memang, cinta merupakan kata
yang tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan. Bukannya begitu teman – teman
sekalian?
Mengenai
Cinta, teman – teman
tidak usah bingung, beruntung ada orang yang telah mendefinisikan kata Cinta
dengan sederhana. Siapa dia, yaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziah penulis buku Raudhatul
Muhibbin (Taman Orang yang Jatuh Cinta) memberikan sebuah
definisi yang sederhana “Cinta akan lenyap dengan lenyap nya sebab.”
Sebab yang sembarangan hanya akan menumbuhkan cinta yang sembarangan. Cinta
yang abadi memerlukan sebab yang abadi pula. Pada kenyataannya kebanyakan para
pemuda/i selalu mengartikan jika cinta itu hanya untuk lawan jenis, dan
kata-kata cinta itu lebih dekat dengan nafsu, umbaran syahwat, dan perzinaan.
Pemuda dan Cinta
Diakui atau tidak, apabila kita
berbicara mengenai cinta dapat memberikan kekuatan yang luar biasa, semangat
yang menggelora. seperti yang pernah dijelaskan dalam buku yang berjudul
“Pacaran dalam kaca mata islam” karangan Abdurahman Al-Mukafi yang menjelaskan
“cinta menjadikan pengecut sebagai pemberani, yang bakhil
jadi penderma, si bodoh jadi pintar, memfasihkan lidah, mentertajam pena para
pengarang, menguatkan silemah, mencerdaskan, serta mendatangkan kegembiraan
dalam jiwa dan perasaan.” Tapi sekarang kita coba lihat
realitas yang ada disekeliling kita. Apakah seperti itu? cuman teman – teman
sendiri yang dapat menjawabnya.
Ya, memang tidak ada ujungnya kalo kita membahas soal cinta. Tapi
dalam hal ini yang jelas saya ingin menyampaikan bahwa sebagai pemuda (laki
atau perempuan) ‘cinta’ kita sebagai generasi penerus bangsa memiliki peranan
yang sangat strategis untuk kemajuan bangsa. Cinta dan peran dari seorang
pemuda sangat dibutuhkan untuk kejayaan bangsa, dan masih banyak orang-orang di
sekitar kita yang membutuhkan ‘cinta’ dari kita. Coba kita tengok ke kiri ke
kanan, ke depan ke belakang, ke atas ke bawah di sana terdapat orang-orang
lemah, kaum yang terdiskriminasi, terisolir, termiskinkan, terbodohi, terjebak
dalam sistem yang abstrak ini. Mereka pun manusia, sama seperti kita, mereka
pun patut untuk dicintai oleh kita.
Krisis moral
para pemimpin bangsa yang saat ini melanda
negri kita tercinta tentu saja
mengakibatkan krisis regenerasi pemuda saat ini, yang pada dasarnya akan
memiliki efek menghambat kemajuan bangsa. Krisis regenerasi ini salah satunya dikarenakan kurangnya perhatian
pemerintah terhadap para pemuda yang akan menjadi ‘Kader’ bangsa. Harus diakui
pula pemuda saat ini terjebak pada
eksistensi diri atau kelompok. Ini melanda semua level pemuda; Baik itu
pelajar, Mahasiswa, bahkan pekerja sekalipun. Pemuda saat ini mengedepankan
eksistensi, tapi lupa akan tanggung jawabnya sebagai ujung tombak bangsa.
Peran
Strategis Pemuda
Tampaknya perbinacangan kita kali ini mulai mengkrucut, kali ini
kita akan membahas peran strategis yang diemban oleh seorang pemuda. Pemuda
dalam hal ini khususnya adalah Mahasiswa. Seperti apa yang pernah diucapkan
salah satu Fauding Fathers kita yaitu Sutan Syahrir yang menyebutkan
bahwa mahasiswa sebagai ujung tombak dari cita – cita bangsa. Menurutnya
mahasiswa adalah avant-garde dalam kemajuan bangsa, mahasiswa adalah
kader-kader terbaik untuk pelaksanaan program-program pembangunan untuk
produksi yang lebih banyak, dan distribusi yang lebih baik.
Menurut Syahrir
mahasiswa memiliki kesempatan besar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman,
dan keterampilan untuk menjadi intelegensia rakyat dan kelak diharapkan menjadi
kader masyarakat. Sutan Syahrir pernah berkata kepada Subadio Sastrosastomo di
Penjara Madiun, “Penyelesaian Revolusi
Indonesia ada ditangan kaum muda kita, mereka lah yang menetukan hari depan
bangsa dan tanah air, karena itu, Engkau jangan meremehkan mereka, bimbinglah
mereka kejalan yang benar, ialah jalan pembaruan menuju masyarakat adil dan
makmur tanpa penghisapan dan penindasan.”
Teman – teman
mahasiswa sekalian, kita semua pasti tahu bahwa mahasiswa merupakan agent
of change dituntut bukan hanya
menjadi bagian dari perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri.
Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar
dalam membuat perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat, apalagi saat ini
dinamika masyarakat begitu cepat berubah seiring perubahan global. Dalam
konteks seperti ini, pemuda dapat memfungsikan diri melalui sikap kritis,
semangat berubah dan ide-ide cerdasnya mengatasi kemandekan berpikir dalam
masyarakat.
Peran pemuda
khususnya mahasiswa sebagai social of control terjadi ketika ada yang
tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Saat ini di Indonesia,
masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam
bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah
diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus – kasus soal hukum, KKN, pendidikan dan kebudayaan merajalela dalam
kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa pemuda yang notabene
sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya.
Remaja,
pelajar, dan mahasiswa merupakan sekelompok makhluk yang memiliki segudang rasa
optimisme, begitu kata Joni Lis Efendi dalam bukunya “Dirimu Harta Karun Yang Tak Ternilai”. Mumpung
kita masih muda, banyak sekali mimpi atau cita-cita yang bisa kita wujudkan
dengan mengendalikan optimisime yang kita miliki. Mumpung kita masih muda, kita
lakukan yang terbaik untuk negeri kita, dan masyarakat di sekitar kita. Mumpung
kita masih muda jangan sia-siakan hidup kita, lakukan lah perubahan
menuju kemajuan untuk negri kita. Bagaimana caranya? Selain apa yang telah
disampaikan diatas, hal yang tidak bisa kita lewatkan yaitu merawat nurani kita
selaku pemuda untuk kemajuan suatu bangsa.
Lima Pilar
Kehiduapan
Mariliah kita selaku pemuda/i Indonesia untuk menumbah nilai – nilai
yang ada didalam nurani kita yaitu nilai “Kemanusiaa, Solidaritas, Demokrasi,
Kesetaraan, dan Keadilan”. Saya sebut nilai – nilai tersebut sebagai 5 pilar
kehidupan untuk berbangsa dan bernegara. Pertama; Kemanusian. Selaku pemuda
harus menjungjung tinggi nilai kemanusian, kita semua memiliki nurani untuk
mulai mencoba “Memanusiakan manusia”. Dimana itu yang akan menjadi modal awal
kita untuk merangkai wajah tentang Indonesia.
Kedua;
Solidaritas. Selaku pemuda kitapun patut memiliki rasa solidaritas. Tidak
memenintang kelompok, golongan atau teman seidiologi. Dengan silidaritas latar
belakang yang berbeda atau berbagai perbedaan yang lainnya kita jadikan sebagai
kekuatan untuk membangun bangsa. Ketiga; Demokrasi. Sebagai pemuda bahkan
siapapun itu sudah merupakan suatu kewajiban untuk berbuat demokratis. Nah,
kita selaku pemuda harus bisa menjadi pelopor untuk berbuat dan bertindak
demokratis dimanapun kita berada.
Keempat;
Kesetaraan. Dalam hal ini setara dalam pemikiran. Sebagai pemuda juga kita
harus memiliki rasa kesetaraan dalam berfikir, agar fikiran kita bisa merdeka
dan tidak terbelenggu oleh rasa takut, senioritas ataupun itu yang menghambat
pemikiran kita untuk berkembang. Terahir yaitu Keadilan, sudah merupakan suatu
keharusan bagi kita juga selaku pemuda (Mahasiswa) untuk memegang dengan erat
nilai – nilai keadilan. Seperti yang pernah dikatakan Pramoediya Ananta Toer
dalam Roeman Bumi Manusia “Seorang berpendidikan harus berbuat adil sejah dalam
fikiran, apalagi dalam perbuatan”.
Teman – teman
sekalian, nurani kita harus tetap kita jaga demi kemajuan bangsa. Lima pilar kehidupan itu mungkin bisa kita
jadikan cinta dan menjadi salah satu solusi sebagai referensi agar kita bisa
berbuat yang terbaik untuk negri kita tercinta. Semoga saja dengan 5 pilar
kehidupan itu apa yang menjadi cita – cita kita bersama yatiu “Keadilan Sosial
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” bisa tercapai, kita semua harus meyakini bahwa
harapan akan selalu ada. Dan kita selaku pemuda Indonesia harus bisa
membuktikan bahwa harapan itu bukan hanya omong kosong, bukannya begitu teman –
temanku dan saudaraku? Untuk membangun kejayaan bangsa, kenapa tidak ?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar