Oleh Epri Fahmi Aziz
Saudaraku, sebangsa dan setanah
air. Saya lagi galau nih, maunya sih dalam
kesempatan kali ini, saya bisa menceritakan keluh kesah yang mengganjal di
benak dan hati saya, yang mebuat saya makan jadi tak teratur, mandi apalagi,
sehari sekali juga udah untung banget.
Ceritanya mah saya tuh mau
‘curhat’ tau. Eh, eh nanti dulu, jangan
salah pikir, curhatan saya kali ini bukan soal perkara yang selalu ngehits
dibicarakan oleh kalangan muda mudi seperti kita, mulai dari fesbuk, twiter,
instagram, bbm, sekolah, kampus, kos-kosan, kafe, pojok warung kopi sampe ke
sudut wece, yaitu cinta.
Tau
sendiri kan Cinta sekarang juga
mengalami pergesaran makna, bahkan dangkal, hanya direpresentasikan dengan sebuah
kasih-sayang (katanya) dan diikat dengan sebuah tali yang sangat, ngat, ngat
sakral, yang melambangkan gelar sebagai –kalo bahasa gaulnya – pacar. Bukan seputar itu curhatan saya,
walaupun ada sedikit pembahasan seputar cinta, ntar temen – temen tau sendiri
deh cintanya seperti apa. Eh, ko jadi ngomongin soal cinte, gak bakal ada
matinye, kata mandra sih begono. Sampe komputer ini jeblug juga gak bakalan ada endingnya, heehe.
Owh iya, sebelum saya curhat ke inti
persoalan, alangkah lebih baiknya kalo kita plesbek dulu nih, tapi bukan untuk
merenung apalagi sampe galau – galauan mengingat masa lalu yang bikin kita
gagal move up, eh ngomongin cinta lagi, sory pemirsah. Sejarah kan telah membuktikan, bahwa culture (budaya)
memiliki perananan penting dalam sebuah pencapaian peradaban suatu bangsa.
Indonesia, negri saya tercinta – dan juga kalian (mungkin) - sebuah negri
dibelahan timur dunia, memiliki culture yang begitu beraneka ragam loh. Negri
yang terkenal dengan gemah ripah loh
jinawinya sampai dikenal dengan ‘samudra atlantik yang hilang’. Kita semua
tau, rumusnya seperti itu.
Mengapa?
Kita pasti mengakui negri ini memiliki keanegaraman yang sangat luar biasa,
dimulai dari; alam, budaya, suku, ras, agama, bahasan dan prilaku masyarakatnya
yang heterogen, pokoknya banyak banget deh.
Sejarah mencatat demikian, tapi itu hanya sebuah sejarah, sayangnya
cuman tercatat di buku – buku pelajaran aja. Saya juga sering dengar, dulu pas jaman sekolah sampe sekarang, baca juga
pernah, dan itu sangat sangat berguna buat saya, masuk ke otak saya, sangking masuknya
sampe hafal diluar kepala. Akhirnya saya bisa ngisi jawaban soal – soal ujian
dengan nilai yang sempurna. Hoo..rrreeeee!
Saudaraku,
sebelum curhat saya terlalu jauh, kalian pasti punya pemikiran dan pendapat
masing – masing nih terkait kebudayaan kita. Sebagai manusia –yang mengaku-
moderen, gimana pandangan kalian? Biasa saja, memprihatinkan kah, atau tak terpikiran
bahkan tak diperhatikan sama sekali? Kasian ya Indonesia kena PHP sampe baper
yang berkepanjangan, ha..haa. Temen –
temen pasti tau kan kita sekarang – mau gak mau - memasuki era globalisasi. Era ini semuanya
ditandai dengan hal – hal yang semuanya itu berbau serba moderen.
Pakaian,
hp, rumah, apa lagi, pasti banyak kan? Prilaku kita pun sama, di tuntut (secara tidak langsung dipaksa)
untuk mengikutinya. Akhirnya pergeseran nilai – nilai cultural, apalagi
spritiual, tak bisa lagi kita bendung loh. Pada titik klimaks bahkan manusia
moderen itu kaya binatang, banyak kasusunya, gak perlu diceritain, pasti udah pada
tau. percaya gak? Terserah sih, mau
percaya atau gak, gak juga gak apa – apa. Aku mah apa atuh, makan, mandi, gosok
gigi, ee juga dikampus. Sedih, ya, haha..ha.
Jadi gini
asal muasalnya, kapitalisme dengan kekuatan capital (modal) menciptakan sebuah
era yang disebut globalisasi. Dengan kekuatan modal itu bisa menciptakan pasar
(teori ekonomi). Demi kepentingan untuk meraup keuntungan sebanyak – banyaknya,
tentunya dengan mission imposiblnya untuk memporak – porandakan budaya kita
yang agung nan luhur ini. Nah, makanya
sebagai pasar (karena penduduk kita banyak) – dengan berbagai komoditi
khas modernitas – kita digempur bertubi
– tubi dari segala lini sektor dengan
prodak – prodak budaya modernnya. Prodaknya yaitu berupa industry budaya
(media) yang mencipatakan apa itu yang dimaksud budaya pop.
Sampe sini, udah bisa di tangkap belum soal
curhatan saya? Kalo gak didengerin saya mau pundung ah, gak mau dilanjut, ha..
haha. Tenang saya gak pundungan ko orangnya, sabar, tawakal, baik hati dan
tidak sombong. Dilanjut ya curhatnya, boleh kan? Gak juga saya mau maksa.
Kapitalisme itu emang pinter, bikin kita terpesona dan terlena. Gampangnya sih gini, modenitas itu anak
kandung dari kapitalisme, yang melahirkan anak cucu sampe cicit. Budaya pop
(populer), yang akan menjadi fokus curhatan saya inilah salah satunya. Budaya
pop tau? Pasti tau, paling tidak, pernah denger K-POP. Ada yang suka K-POP atau drama korea, film, musik,
sinetron, selfi, ngemall, shophing, nongkrong di kafe, pacaran? Pasti suka
semua, saja juga suka, hahaha.
Nah itu semua merupakan budaya pop yang
diciptakan oleh kapitalisme melalui modernitasnya. Makanya saya curhat, supaya
kita bisa berbagi, dan bisa mengendalikan diri, supaya gak bablas, blas. Saat ini kita
hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan identitas-identitas dari merek
global. Hp pengennya yang bermerek, nongkrong ditempat yang
bermerek, makanan minuman bermerek, sampe cinta pun kudu bermerek
(pacaran). Media massa inilah yang menjadi senjata utamanya, yang dimodali oleh
perusahaan - perusahaan kapitalis tulen bertaraf global (multinasional).
Akhrinya kita menjadi konsumen dari industri hiburan, kita jadi komoditas
ekonomi, dan menjadi alat yang diperbudak oleh capital karena sekarang tolak
ukur kita sebagai manusia moderen pasti berupa materi, yang melambang status,
gaya hidup, tren, dan akhirnya jadi membudaya diantara kita semua.
Televisi
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk pendapat umum, pola pikir,
perilaku, dan kepribadian kita, temen – temen sadar gak?. Acara televisi itu
mengusung nilai-nilai tertentu, kemudian nilai-nilai tersebut diadopsi oleh
khalayak dan menjadi budaya yang berkembang dan menjadi tren diantara kita
semua (masyarakat). Hal inilah yang dimaksud dengan budaya pop. Pengaruh media
sangatlah dominan pada kehidupan kita, tingkah laku, sikap, gaya hidup kita,
semuanya dipengeruhi, tanpa terkecuali. Modernitas dengan membawa teknologi serta
sarana dan prasarana, apabila kita tidak bisa mengontrol, maka akan tergoda,
terbuai, terlena, dan lupa akan jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang
timur, yang terkenal dengan solidaritasnya, kepekaannya, kepintarannya, dan
‘keberadabannya’ dengan nilai – nilai luhur yang kita punya. Tau gak nilai
luhur kita? Coba pelajarin deh sejarah
kebudayaan Indonesia;sosial,kultur,dan ekonomi. Kalau mau itu juga, gak juga
gpp, saya sih gak rugi, gak ngeluarin modal ko, hehe.
Budaya
pop itu memiliki berbagai dampak negative diantarnya membuat kita jadi konsumtif, contohnya
berbelanja, pacaran,nongkrong, mendengarkan musik dan film cengeng dll. Misalnya dalam dunia mahasiswa kekinian
(masyarakat pada umumnya), lebih baik nongkrong sambil ngerumpi daripada
diskusi, lebih seneng ngemall belanja yang gak – gak ketimbang beli buku, lebih
asik bbman, twiteran, instgram ketimbang nulis. Bener gak? Kalo salah maafin saya ya, please,
heehe. Alhasil apa yang terjadi? Mental kita cengeng, moral kita rendah,
individualistik, permisif, hedon, jauh terhadap nilai – nilai budaya, apalagi
spiritual. Itu semua dampak negatif yang dibawa modernitas, selain mencari
keuntungan karena kita memiliki penduduk yang luar biasa banyak dan konsumtif.
Misi paling mengerikan dari kapitalisme itu menghancurkan pondasi dari nilai – nilai luhur yang dimiliki oleh
budaya kita. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan
akan muncul fenomena kegalauan budaya pada tingkat individu dan tingkat sosial.
Seperti yang sedang saya alami, makanya
saya curhat, karena saya lagi galau nich. Saya berfikir kalo terus – terusan kaya
gini, gak bakalan ada lagi tuh manusia Indonesia, adanya robot, mending robot sih , kalo zombi-zombi
yang bermunculan kan ngeri. Hiiihhh, atut gak sih, mengerikan.
Bagiamana ya cara membendungnya kawan - kawan?
Menurut saya gampang ko, gak susah untuk membendung kapitalisme (barat), dengan
gempuran budayanya. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia Indonesia yang
sadar dan cinta atas nilai – nilai luhur budaya dan spiritual kita. Cinta pada
diri sendiri, cinta pada sesama, dan cinta pada Indonesia. Kita ini merupakan ras paling istimewa loh di dunia, makanya di bikin gak maju-maju, kalo
maju Indonesia itu bisa jadi negara adidaya dari negara adidaya yang lainnya.
Percaya gak? Peradaban dimulai dari negri kita, tidak bakal ada barat kalo
belum ada timur. Budaya timur merupakan budaya yang paling luhur, tidak hanya
untuk kita, sesama, Indonesia bahkan untuk dunia.
Jangan malu apalagi gengsi kalo kita dianggap
tidak moderen – gak kekinian - karena
manusia moderen itu hakikatnya manusia yang tidak beradab. Sementara nilai
cultur dan spiritual kita itu
mengajarkan kita jadi manusia yang bijak, bermoral dan spiritual, dan tentunya
lebih beradab. Jangan malu jadi orang Indonesia justru harus bangga. Ayo kawan, jangan muluk – muluk, cukup dimulai
dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai saat ini. Kenali,
pahami, rasakan, renungkan, dan kobarkan dalam hati, teriakan dalam dada, tekad
kan dalam sanubari , katakan dengan lantang SAYA MANUSIA, MANUSIA INDONESIA. MANUSIA
YANG PENUH RASA CINTA-KASIH UNTUK SESAMA, NUSANTARA DAN DUNIA. Ini curhatanku,
curhatanmu? Sekian dulu, nanti dilanjut lagi ya, dadaaaahhhh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar