Pendahuluan
Sebagai daerah yang berada di ujung timur
Jawa Barat (Jabar), Ciawimajakuning memiliki banyak potensi dan keunggulan, tak
salah apabila Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar mengkalsifikasikan daerah
Cirebon (Kab/Kota) Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) atau
yang kerap disebut kawasan Metropolitan Cirebon Raya dalam rencana tata ruang
Pemprov Jabar sebagai daerah yang memiliki kekuatan ekonomi yang baru dan besar
di Jabar setelah Bandung Raya. (Kompasiana: Ciayumajakuning Masa Depan Jabar
Bagian Timur)
Beberpaa potensi yang bisa menggenjot
pertumbuhan ekonomi; Sumber Daya Alam (perikanan, pertanian, perkebunan,
perdagangan, minyak dan gas). Geografis yang strategis (berada ditengah –
tengah pulau jawa, dilalui jalur pantura, tol cipali, bandara dan pelabuhan pun
sedang disiapkan). Topografi yang mendukung (perairan, pesisir, pantai, dataran
dan pegunungan). Pemerintah daerah pun bersepakat akan memproyeksikan kawasan
ciayumajakuning sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang prestisius, baik skala
regional, nasional bahkan internasional. Hal ini bisa dibuktikan dengan mulai
menjamurnya hotel, pusat perbelanjaan di Ciayumajakuning, pembangunan akses
tol, bandara dan pelabuhan.(merawatnurani.blogspot.com: Menuju Metropilitan
Cirebon Raya)
Potensi lainnya dalam bidang
manufaktur seperti industri batik, rotan, makanan olahan dan perdagangan pun
dimiliki.Dari beberapa potensi yang dimiliki wilayah Ciayumajakuning dengan
beberapa keunggulannya maka bisa menjadi suatu potensi baru yaitu potensi pariwisata yang apabila dikelola bisa
memberikan kontribusi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar. Potensi
pariwisata; di Kota dan Kabupaten Cirebon memiliki potensi wisata budaya dan
religi, Kuningan dan Majalengka memiliki potensi wisata alamnya, dan Indramayu
potensi wisata baharinya. Tidak hanya itu, potensi budaya dan kearifan lokal di
Ciayumajakuning pun menjadi aset luar biasa. Kesemua itu apabila terintegrasi
jelas akan menghasilkan output yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi.
(kabar-cirebon.com: Pembangunan BIJB dan Tol Cipali Potensi Ekonomi Luar Biasa)
Akan tetapi, sebelum membahas lebih
lanjut terkait konsep kepariwisataan seperti apa yang bisa menggenjot
pertumbuhan ekonomi, kita akan membahas berbagai permasalahan yang akan
dihadapi untuk bisa mencapai target tersebut. Hal yang penting dalam mengembangkan
pariwisata yaitu bagaimana caanya para back
packer bisa menikmati perjalanan wisatanya dengan rasa aman dan nyaman. Karena salah satu prasarat penting dalam
kepariwisataan yaitu adanya kemudahan dan rasa aman bagi pengunjung wisata.
Untuk itu, ketersediaan infrastruktur penunjang seperti akses jalan menuju
lokasi wisata, transportasi massal, paket – paket wisata, serta isu – isu
kriminalitas dari mulai yang terkecil seperti pencopetan dan terorisme harus
bisa diatasi oleh pemerintah.
Terkadang penulis geram, tak jarang
petinggi atau pejabat di Jabar (baik pejabat daerah Kota/Kab) dalam ekspose
menggembar – gemborkan kelengkapan kekayaan dan potensi wisata di Jabar –
termasuk daerah Ciayumajakuning- yang juga memiliki potensi luar biasa. Yang
menjadi pertanyaan penulis untuk kesekian kalinya, akankah para back packer bisa menikmati perjalanan
wisatanya dalam suasana aman dan nyaman. Lebih dari pada itu yang paling utama,
sudah terbangunkah jejaring perhubungan
yang nyaman, aman, mudah, dan teragendakan? Konsep kepariwisataan seperti apa
yang bisa memberikan sumbangsih terhadap perekonomian, sudahkah dibuat grand
designnya ? Menurut penulis konsep Ekowisata mungkin bisa dijadikan alternatif
untuk menjawab pertanyan diatas.
Ekowisata
sebagai Konsep Pariwisata yang Berkelanjutan
Pariwisata
yang berkelanjutan yaitu konsep pariwisata yang dapat memenuhi kebutuhan masa
sekarang dan juga masa yang akan
datang. Konsep pariwisata ini pun
memiliki norma untuk tidak merusak alam, budaya, agar dapat diwariskan pada generasi penerus
bangsa. Pada dasarnya, pariwisata berkelanjutan sangat memperhatikan aspek
keseimbangan alam, lingkungan, budaya dan ekonomi agar pariwisata terus
berkesinambungan.
Pariwisata
berkelanjutan dapat diterapkan pada daerah tujuan wisata mana pun dan pada semua
jenis aktivitas priwisata, termasuk potensi pariwisata di Ciawimajakuning.
Pariwisata berkelanjutan memiliki prinsip mencakup kualitas, kesinambungan
serta keseimbangan aspek – aspek lingkungan, budaya dan manusia. Untuk
mewujudkannya, terdapat berbagai jenis pariwisata yang dapat kita pilih, dan
agar sektor pariwisata bisa berdampak
langsug terhadap peningkatan perekonomian masyarakat dan daerah dapat dipilih
konsep ekowisata.
Ekowisata
merupakan pariwisata bertanggung jawab yang dilakukan pada tempat – tempat
alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan
kesejahteraan bagi msyarakat setempat (TIES – The International Ecotourism Society). Hal yang perlu ditekankan
kepada para penyedia jasa pariwisata, daerah tujuan maupun pemerintah setempat
daerah yang ingin berorientasi pada ekowisata harus memiliki kebijakan dan
program tersendiri terkait pelestarian lingkungan, budaya setempat dan maanfaat
ekonomi terhadap masyarakat setempat. Karena pada banyak tempat, produk –
produk wisata yang dijual kebanyakan menyematkan kata “eko” atau dalam kata
lain “kembali ke alam” hanya sebagai label untuk menarik wisatawan yang tidak
diiringi dengan semangat melestrikan atau melibatkan masyarakat setempat dalam
produk wisata. Alhasil, dunia pariwisata tidak akan berdampak banyak
pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah.
Prinsip dan Ciri Ekowisata
Ekowisata
pun memiliki beberapa ciri yang harus dipahami oleh pemangku kebijakan atau
pengusaha yang bergerak dibidang pariwisata. Ciri atau karakterisitik ekowisata
beda dengan wisata massal/konvensional. Pertama, dalam pengembangan ekowisata
tentunya perlu sarana transportasi. Konsep ekowisata menekankan agar usaha
pariwisata lebih banyak menggunakan sarana transportasi lokal, sarana akomodasi
lokal, yang dikelola oleh masyarakat setempat dan membedakan kehidupan
masyarakat setempat dalam menumbuhkan pendapatan ekonominya.
Ke-dua,
karakteristik ekowisata pun tidak hanya menampilkan berbagai atraksi wisata,
akan tetapi menawarkan pula peluang untuk menghargai lingkungan secara
berkesinambungan. Ke-tiga, wisatawan memiliki keterlibatan langsung dalam
pelestarian lingkungan, dengan harapan agar kesadaran akan keberadaan sumber
daya dan lingkungan. Menurut Choy (1998:179) prinsip tersebut melputi: (1) lingkungan ekowisata harus bertumpu
pada lingkungan alam dan budaya yang relatif belum tercemar dan terganggu, (2) ekowisata harus dapat memberikan
manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi langsung kepada masyarakat setempat, (3) pendidikan dan pengalaman ekowisata
harus dapat meningkatkan pemahaman akan lingkungan alam dan budaya yang terkit,
sambil berolah pengalaman yang mengesankan.
Pendekatan Pengembangan Ekowisata
1. Pendekatan
partisipasi dan pemberdayaan: pendekatan ini harus mampu menghasilkan model
partisipasi masyarakat setempat. Partisipasi tersebut yaitu melibatkan
masyarakat dalam penyusunan perencanan sejak awal, dimana masyarakat bisa
menyampaikan gagasannya.
2. Pendekatan
Sektor Publik: peran sektor publik atau pemerintah pun diperlukan untuk
pengembangakn ekowisata, pemerintah memiliki otoritas untuk menyusun kebijakan
dan pengendalian tentang manfaat sumberdaya alam dan lingkungan. Terutama yaitu
pemerintah memiliki akses yang cukup tinggi dengan penyandang dana, seperti
bank, investor dan donatur.
3. Pendekatan
pengembangan infrastruktur: penyedian infrastruktur dasar adalah hal yang tak
boleh luput dari perhatian. Karena tanpa adanya sarana dan prasarana potensi
wisata akan hanya menjadi potensi tidak menjadi objek yang akan memberikan
sumbangan besar untuk warga dan juga daerah. Infrastruktur seperti jalan,
sarana transportasi, air bersih, jaringan telekomunikasi, listrik dan lainnya.
Apalagi dijaman yang modern ini bisa memanfaatkan teknologi untuk membuat
sebuah aplikasi yang memudahkan para wisatawan dan juga masyarakat setempat.
Teknologi tinggi harus mampu menghindari kerusakan lingkungan dsn kerusakan
pemandangan yang bertolak belakang dengan konfigurasi alam sekitarnya.
4. Pendekatan
pengelolaan Ekowisata: untuk terkendalinya pengelolaan ekowisata secara
professional dibutuhkan manajemen/pengelolaan kawasan ekowisata yang
berdasarkan aspek – aspek sumberdaya manusa, seperti keungan, aspek material,
aspek pengelolaan/bentuk usaha dan aspek pasar. Kelima unsur terebut dapat
diorganisasikan dalam bentuk koperasi , PT, maupun perorangan.
Standar Pembinaan Ekowisata
Roger A. Lnlaster (1983;5)
mengemukakan beberapa pembinaan terkait ekowisata, standard pembinaan ekowisata
akan diuraikan berdasarkan pendekatan melalui pembinaan antara lain:
1. Standar
pembinaan lingkungn ekowisata
a. Sektor
pemerintah berkewajiban untuk membina dan melakukan kegiatan sebagai berikut: (1) peningkatan pemahaman masyarakat
terhadap konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta budaya
lokal, (2) peningkatan pengetahuan
dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteran masyrakat, (3) menyempurnakan prasarana dasar di
wilayah sekitarnya, (4) menumbuhkan
dan meningkatkan lembaga – lembaga kemasyarakatan untuk berpartisipasi, (5) mengembangkan segmen pasar
ekowisata bersama usaha pariwisata, (6)
menetapkan lokasi ekowisata yang berdasarkan penelitian merupakan daerah yang
perlu dibuat perencanaannya lebih lanjut., (7)
menyusun kebijakan pengembangan ekowisata yng pada gilirinnya dapt dinaungi
payung hukum baik berupa Peraturan Gubernur, Wlalikota , Bupati maupun
Peraturan Daerah.
b. Swasta/
Usaha pariwisata: (1) Pemanfaatan
sarana dan fasilitas milik penduduk lokal, untuk tercapainya pemberdayaan
ekonomi masyarakat melalui bimbingan dan tuntunan dalam menata sarana, (2) mengembangkan tema-tema paket
wisata eko yang memiliki daya saing dan daya pemikat yang mencerminkn karkter
dan citra ekowisata kepada wisatawan. (3)
Mendorong tingkat pendapatan masyrakat melalui pemanfaatan hasil kreatifitas,
inovasi masyarakat (merchandise), (4) mendorong
bertumbuh kembangnya kewirausahan masyrakat setempat, (5) melakukan berbagai kegiatan promosi melalui berbagai teknik
promosi dan pemasaran pasar wisata dengan tetap mendasarkan pendekatan kosnep
pemsaran sosil.
c. Masyarakat
1. Dalam
penataan ruang ekosiwata masyarakat berhak untuk: (1) berperan serta dalam
proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang, (2) mengetahui secara terbuka rencan tata kawasan dan rencana rinci
kawasan ekowisata
2. Mendorong
partisipsi masyarakat. Menurut Brandon dalam buku yang ditulis Budi Riyanto
(2005:227) terdapat sepuluh aspek yang intinya memberikan peran partisipsi
local dalam menyusun perencanaan, penciptaan pemilikn saham, meningkatkn
keuntungn dan financial masyarakat dengan memanfaatkan agen perubaan atau kaum
intelektual dalam pengembanagn ekowisat. Kemampuan intelektual dalam
pengalamanny berorganisasi ditengah – tengah msyrakat dalAh penting.
Peranan sektor publik (Pemerintah)
Pemerintah
harus berupaya mengeluarkan paket – paket kebijakan diantaranya yaitu: (1) melakukan penelitian terhadap
sumber daya alam, (2) partisipasi
masyarakat secara berkesinambungan melalui pengembangan ekonomi kerakyatan
dalam bentuk mengelola seluruh potensi ekonomi yang menguasai hajat hidup orang
banyak, (3) peningkatan aset dan
kapabilitas masyarakat dan perlindungan masyarakat dari praktik dan kekuatan
yang memiskinkan dan meminggirkan masyarakat lokal. Pemerintah pun harus
melaksanakan fungsinya dengn baik
sebagai regulator dan fasilitator yang dapat menciptakan iklim kondusif bagi peningkatan akses partisipasi masyarakat.
Pemerintahpun harus mampu menjembatani hubungan kemitraan antara organisasi
masyarakat sipil dengn sektor bisnis.
Pemerintah
juga perlu mempersiapkan diri untuk mewujudkan suatu destinasi pariwisata yang
lebih bertanggung jawab, serta berkomitmen untuk menyediakan pelayanan yang
senantiasa mendukung pelestarian alam dan kebudayaan setempat. Menurut Unesco
untuk memnuhi kebutuhan dan pelayanan pariwisata harus didukung oleh berbagai
komponen diantaranya yaitu :
1.
Objek
dan Daya Tarik Wisata
Mengapa
wisatawan berkunjung kesuatu daerah? Setiap wisatawan pasti memiliki lasan yang
berbeda terkait kunjungannya ke suatu objek wisata. Namun kebanyakan wisatwan
datang untuk menikmati hal – hal yang tidak dpat ia temukan dalam kehidupn
keshriannya. Alam, budaya sert sejarah sutu derah merupakn bagian dari objek
dan daya tarik wisata. Objek dan daya tarik wisata dengan kata lain yaitu atraksi
wisata. Iklim, pntai, flora, fauna , gua, air terjun, sert hutan yang indah
termsuk atrksi wisata alam. Atraski wisata budaya mislny arsitektur rumah
tradisional, situs arkeologi, benda seni dan kerajinan, ritual atau upacar
budaya(Sebutkan objek dan potensi wist
di Cirebon)
2.
Trasnportasi
dan Infrastruktur
Sarana
dan prasaran trasnportasi untuk menunjang dunia pariwisata harus mulai
dikonsep, entah itu oleh pemerintah provinsi atau daerah. Akses ini begitu
penting untuk memudahkan wisatawan, selain itu bias juga mempercepat arus
perputaran ekonomi apabila antar objek wisata bias saling terhubung. Kota
Bandung contohnya mengeluarkan Bus Bandung City Tour, ini merupakan bentuk
penyediaan transportasi. Masih banyak lagi yang bias ditiru dan diterpakan di
Ciayumajakuning.
3.
Sapta
Pesona
Bagaiman
membuat wisatawan betah dan ingin terus kembali ke tempat kita? Terdapat dua
poin penting untuk menjawab ertanyaan tersebut. Pertama, pelayanan yang baik.
Pelayanan yang baik ini tidak hany meliputi fasilitas yang disediakan, namun
terkait jug kodisi sosil kultur masyarakat setempat. Bayangkan jika kita sudah
merencakanan perjalanan wisata, ketika sampai menemui supir yang kasar dan
menipu penumpang, banyak copet, pedagang asongan yang memaksa membeli
dagangannya, akomodsi yang tidak layak. Bagaimana rasanya?
Tentu
kita semua tidak ingin hal ini terjadi di tempat kita. Ke-dua, menjag keindahan
dan kelestarin alam serta budaya yng merupakan asset pariwisata. Bagaimana caranya mewujudkan hal tersebut?
Departemen Kebudayaan Pariwista RI memiliki program yang disebut sapta pesona.
Terdapat tujuh unsur yang enam diantaranya penting diterapkan untuk memberikan
pelaynan yang baik serta menjg dan merawat keindahan alam daerah wisata, yaitu:
Aman, tertib, bersih, indah, ramah dan kenangan.
Selain ke tujuh unsur tersebut terdapat pula
beberapa unsur penting yang tak bleh luput dari peahaman. Dalam mendukung
pariwisata sangat penting untuk: (1) tetap mempertahankan nilai – nilai adat
istiadat, norma dan agama yang berlaku, (2) menjaga kelestarian budaya dan
lingkungan, (3)memastikan keberlanjutan usaha pariwisata sehingga dapat meningkatkan perekonomian. Dari
berbagai penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa ekowisata memiliki
tujuan, manfaat serta sasaran yang jelas diantaranya yaitu:
Tujuan Ekowisata: (1) mendorong
usaha pelestarian dan pembangunan berkelanjutan, (2) membangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan dan budaya
di daerah tujuan wisata; baik bgi wisatawan, masyarakat setempat, maupun par
penentu kebijakan di bidang kebudayaan dan pariwisata, (3) mengurangi dampak negative berupa kerusakan atau pencemaran
lingkungan daan budaya local akibat kegiatan wisata serta memberikan keuntungan
ekonomi secara langsung, mengembangkan ekonomi masyrakat dan pemberdayaan
masyarakat dengan menciptakan produk wisata alternative yang mengedepankan
nilai – nilai dan keunikan lokal (Kearifan lokal).Manfaat Ekowisata: (1) memberikan edukasi kepada wisatawan tentang
fungsi dan manfaat lingkungan alam dan budaya, (2) meningkatkan kesadaran dan penghargaan akan lingkungan dan
budaya, (3) bermanfaat secara
ekologi, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Sasaran Ekowisata: (1) terwujudnya kesdaran antara wisatawan
dengan msyarakt setempat tentang konservasi,
(2) terwujudnya organisasi masyarakat setempat yang bertujuan mengelola
usaha pariwisata guna menunjang kebutuhan wisatawan selama berada dilokasi
wisata, (3) terwujudnya prinsip
saling pengertian melalui prinsip kemitraan dengan cara meningkatklan pemahaman
yang sama mengenai lingkungan.
Dalam
artikel ini penulis mencoba memberikan pemahaman seputar kepariwisataan yang
bisa dijadikan rujukan oleh pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata yang
ada agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Penulis hanya
mengingatkan, potensi pariwisata yang ada untuk cepat diberdayakan. Karena
kalau tidak, potensi hanyalah tinggal potensi yang sama sekali tidak akan
berpengaruh terhadap perekonomian. Pariwisata akan berdampak ketika sudah
menjadi objek (destinasi) bukan potensi. Pemerintah harus segera
mengorientasikan pikiran kewenangannya untuk mengembangkan potensi wisata
daerahnya (kerjasama dan menghilangkan ego sektoral) untuk menjadi objek wisata
yang unggul dan memberikan pertumbuhan ekonomi. Akankah pariwisata di Ciayumajakuning tetap
menjadi potensi, bukan objek?Politik sebagai bisnis tak lagi mementingkan
moralitas dan idelaisme, kecuali keuntungan individu dan kelompok, demokrasi
jelas akan kontraprodukti. So, Qou Vadis Pariwisata Ciawimajakuning?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar