Selama ini kita terus dihadapkan dengan berbagai kasus di dunia
pendidikan kita yang semakin hari semakin mengkrenyutkan dahi, membuat
dada sesak, bahkan membuat perut kita terasa mual ketika mendengar
berbagai kasus di dunia pendidikan kita saat ini, diantara kasus itu
antara lain korupsi dan sistem yang dinilai kalangan ahli masih ambigu.
Dinas pendidikan yaitu lembaga yang seharusnya bekerja keras untuk
terwujudnya visi pendidikan yang terdapat UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan
kehidupan bangsa” justru sebaliknya membodohi bahkan memiskinkan bangsa.
Secara luas ‘pendidikan’ berarti mencetak peserta didik menjadi
manusia yang bermoral dan beradab yang bertujuan melakukan transformasi
peradaban suatu bangsa. Dalam konteks ini pendidikan berpengaruh besar
dalam pembentukan kepribadian manusia dan sekaligus jati diri suatu
bangsa. Sebab menurut Benjamin S Bloom, dengan pendidikan manusia mampu
membangun diri, komunitas dan alam semesta. Dengan demikian pendidikan
tidak lain adalah media pembentukan manusia seutuhnya (insal kamil),
baik dalam hal peningkatan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),
maupun keterampilan (psikomotorik).
Tetapi, dengan mengaca pada realitas yang sering kita temui saat ini,
itu semua sangat bertolak belakang, pendidikan kita dari waktu ke
waktu tidak semakin membaik dan optimal. Bahkan wajah pendidikan kita
semakin karut-marut dan tidak tersambungkan dengan kenyataan kebutuhan
rill masyarakat. Memang lembaga pendidikan kita yang dinamakan sekolah
atau perguruan tinggi, setiap tahunnya menghasilkan banyak lulusan yang
kemudian terserap banyak ke dalam dunia kerja. Namun mereka cukup pintar
dan memiliki kemampuan yang berguna bagi bengkel-bengkel industri dan
perusahaan menurut kepentingan ekonomi semata.
Apakah sedangkal itu visi dari pendidikan kita, capaian-capaian
tersebut bukannya tidak penting, akan tetapi, terkadang, atau sering
sekali kita alpha bahwa pendidikan tidak berhenti sampai di sana.
Pendidikan tak hanya sekedar mencetak peserta didik yang handal
kognitif atau mekanik. Tetapi juga, pendidikan adalah media untuk
mendorong peserta didik untuk meningkatkan kemampuan berpikir, menggali
potensi kreatifitas, mengasah sifat-sifat luhur dan kepekaan sosialnya.
Ironisnya dalam kecakapan-kecakapan tersebut, dunia pendidikan kita
semakin tergerus dan menghilang entah ke mana. Kemudian yang tampak
akhir-akhir ini boleh dibilang pendidikan yang praktis bahkan cenderung
pragmatis.
Sistem pengajaran di sekolah-sekolah kita, cenderung mengarahkan siswa melihat sesamanya sebagai competitor. Setiap competitor,
perlu dikalahkan, tidak peduli bagaimana caranya. Sikap seperti ini
yang nantinya akan terbawa ketika peserta didik bersosialisasi dalam
masyarakat luas: memandang siapa saja sebagai pesaing yang harus
dikalahkan – sikap yang kerap kali dipertontonkan di panggung politik
ataupun dalam dunia usaha-.
Dunia pendidikan Indonesia saat ini dikepung oleh berbagai hal yang
membuatnya kurang menyasar titik mendasar yang sejati. Pendidikan di
sekolah cenderung mengarah pada pola cepat saji, terlalu berkiblat pada
kepentingan industri, dan kurang peduli menjawab kebutuhan masyarakat,
terutama kelompok yang terpinggirkan.
Para guru terjebak dalam rutinitas kesibukan mengajar yang cenderung
membelenggu kreatifitas dalam mengajar, sedang para pengurus ‘publik’
sulit menunjukan visi yang utuh dan mendasar dan sering memiliki pola
pikir formal-birokratis.
Dunia pendidikan kita semakin tergerus oleh segelintir orang yang
mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu yang bertujuan memperkaya
diri sendiri tanpa memerdulikan nasib bangsa kita. Ironisnya,
oknum-oknum tersebut banyak sekali dari kalangan kita, dari bangsa kita
sendiri, mereka melahap dengan begitu enaknya, yang sebenarnya mereka
mengerti.
Bahkan sangat mengerti dengan efek domino yang telah mereka buat, ‘tapi apalah daya apabila uang sudah merasuk kedalam dada’.
Dalam konteks yang lebih luas, mungkin akan terasa menarik jika kita
mengundang seorang tokoh yang terkenal lantang dalam mengkritik
institusi sekolah, yang terkenal dengan karyanya berjudul Sechooling
Society(1971)yakni Ivan Illich (1926-2002). Illich menyatakan bahwa
sekolah selama ini hanya menciptakan pelayan bagi kapitalisme.
Sekolah tidak mengembangkan semangat belajar, menanamkan kecintaan
kepada ilmu, atau mengajarkan keadilan. Sekolah lebih menekankan
pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh
sertifikat – selembar bukti untuk mendapakan legitimasi bagi individu
untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia..
Meminjam istilah Ignas Kleden(1988) semacam ‘klerikalisasi’. Istilah
ini ingin menunjukan bahwa proses-proses pendidikan tidak mengarah pada
pembentukan masyarakat terdidik yang dapat berperan secara produktif
bagi perkembangan kehidupan peradaban bangsa, pendidikan lebih menjadi
panggung penobatan gelar-gelar akademik. Pendidikan yang semestinya
dapat membawa masyarakat untuk terus mentradisikan pola pikir yang
jernih proporsional, dan mengedepankan nilai objektif, justru terjebak
dalam simbolisme gelar yang dangkal.
Sistem pendidikan saat ini lebih ke arah komersialisasi pendidikan,
banyak sekali sekolah-sekolah unggulan baik yang berbasis negeri atau
swasta mematok harga setinggi langit dengan alasan-alasan yang beragam.
Pendidikan menjadi komoditas yang ditawarkan kepada siswa (orang tua
siswa) dengan berbagai variasi biaya. Pendidikan kategori “unggulan”
biayanya tentu saja setinggi langit. Banyak sekolah unggulan mematok
biaya pendidikan mahal. Mulai dari sumbangan pengembangan institusi yang
besarnya jutaan rupiah, biaya seragam, biaya ekstrakulikuler, hingga
buku teks wajib yang seharusnya tidak membebani orangtua siswa.
Bagi kalangan yang mempunyai ‘uang’ pas-pasan tidak mampu untuk
bersekolah di sekolah yang bertaraf unggulan atau sekolah yang memenuhi
standar. Hanya karena biaya yang terlalu mahal, padahal sudah jelas
bahwa seluruh masyarakat berhak mendapatkan pendidikan yang layak itu
semua tercantum dalam UUD 1945, tetapi sayangnya itu semua hanya slogan.
Mereka yang tidak memiliki biaya cukup, bahkan sekolah semakin menjadi impian, dan akhirnya bagi mereka yang hanya memiliki kocek ala kadarnya, hanya bisa menikmati pendidikan yang ala kadarnya pula.
Ditambah lagi dengan peran media si ‘kotak ajaib’ itu yang terus
menonton kan atau mencontohkan seorang pegawai di sebuah perusahaan atau
instansi dengan kehidupan yang serba mewah dan mencukupi semua
kebutuhan nya, pertunjukan dan pertontonan itu berhasil merasuk ke dalam
sel-sel otak para pemuda sekarang.
Apa lagi dengan fenomena sosial yang setiap tahun nya kita jumpai
pada saat menjelang hari raya idul fitri, banyak para perantau yang
berhasil bekerja di kota pulang dengan membawa segudang kemewahan yang
semakin mengarahkan para pemuda kita untuk merantau ke kota demi
mendapatkan pekerjaan (pelayan bagi kapitalisme) itu semua menandakan
bahwa di desa sudah tidak ada lagi lahan untuk mendapatkan penghasilan,
yang seharusnya desa merupakan kekuatan ekonomi yang terus dikembangkan.
Pelayan bagi kapitalisme, kapitalis telah masuk ke dalam
rongga-rongga lembaga pendidikan kita, sistem dirancang sedemikian rupa
untuk kepentingan para kapitalis dengan beralih-alih untuk
‘mencerdaskan’, padahal golnya para peserta didik agar menjadi pelayan
bagi mereka.
Bersekolah hanya untuk mendapatkan ijazah untuk kerja, kuliah di
Universitas ternama untuk mendapatkan gelar tertentu, lagi-lagi untuk
bekerja. Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaannya pun tidak mudah,
dikarenakan persaingan yang ketat dan peluang kerja yang sangat sedikit,
harus mempunyai keterampilan, kalau hanya sekedar mengandalkan gelar
dan ijazah pasti ujung-ujungnya melanggengkan budaya ‘KKN’ yang terasa
sudah mendarah daging bahkan mengurat nadi di negeri ini.
Padahal tidak sampai di sana, visi pendidikan kita. Seharusnya di
sekolah atau di perguruan tinggi kita dididik untuk mempunyai moral yang
baik, menumbuhkan kreatifitas dalam berinovasi, menanamkan budaya
literasi, menghasilkan manusia yang tidak hanya mumpuni dalam konteks
akademis, harus mumpuni juga dalam bidang social sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang memanusiakan manusia. Bukan dicetak menjadi pelayan bagi kapitalisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar