Kemarin malam, ketika penulis membuka Facebook, penulis
mengkrenyutkan dahi sekaligus memandangi layar kaca dengan penuh suka
cita ketika membuka profil Fcebook. Kenapa tidak, setelah sekian lama
“fakum” di jejaring sosial tiba – tiba penulis dikagetkan dengan sebuah
poster yang di tag-kan oleh salah seorang kerabat. Poster
tersebut berisi – bisa dibilang – ajakan untuk ‘memungut’ kembali keping
– keping budaya (kususnya ke arifan lokal) suatu daerah di Indonesia,
Ya, poster itu tidak lain adalah Ekspedisi tentang data kebudayaan yang
diprakarsai oleh tim sejutadatabudaya.com
Tercengang, dalam artian bangga. Bangga masih ada yang memikirkan dan
memperjuangkan kebudayaan Indonesia. Karena memang bangsa ini kaya akan
kebudayaan yang sedari dulu terus diperjuangkan. Akan tetapi, sangat
disayangkan – tidak perlu menjelaskan panjang lebar bagaimana
kepedulian “elit” terhadap ke budayaan Indonesia – miris. Tampaknya,
kita perlu mendobrak otak beton para pemangku jabatan publik yang
“miskin” kepedulian tentang kebudayaan Indonesia. Maka dari itu penulis
senang dan mengucapkan terima kasih kepada tim sejutadatabudaya.com akan
kepeduliannya terhadap kebudayaan Indonesia.
Singkat Tentang Antropopogi Budaya
Entah mengapa, walaupun basic study penulis adalah Ekonomi
tetapi penulis tertarik akan persoalan dan pembicaraan yang berkaitan
tentang budaya. Yang jelas penulis yakin ketika berbicara kebudayaan,
tidak hanya jadi fokus pemikiran para ahli budaya, tetapi menjadi fokus
pemikiran semua (tanpa memandang istilah kelas sosial). Budaya tidak
melulu harus dipelihara dan dikembangkan oleh segelintir orang, ini
merupakan fokus perhatian bersama.
Bicara budaya tentunya tidak lepas dengan istilah Antropologi, karena keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Antropologi merupakan istilah dari bahasa Yunani (Baca: Antropos) yang berarti “Manusia” dan logos yang berarti “wacana”. Secara harfiah Antropologi merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk biologis. Secara umum Antropologi
yaitu sebuah ilmu yang mempelajari segala aspek dari manusia, yang
terdiri dari aspek fisik dan non-fisik seperti: warna rambut, warna
kulit, bentuk mata, kebudayaan, dan berbagai pengetahuan tentang corak
kehidupan yang bermanfaat lainnya.
Apabila sedikit menilik tentang ilmu ini, betapa rasisnya para peletak dasar ilmu ini. Tidak dapat dipungkiri Antropologi
datang dari kalangan Bangsa Eropa yang menilai ada perbedaan terhadap
orang – orang di luar Bangsa Eropa. Dari ilmu ini kolonialisme lahir di
negara – negara non –Eropa, karna ilmu ini pada dasarnya digunakan oleh
orang – orang Eropa untuk mempelajari segala sesuatu tentang orang –
orang di luar Eropa supaya bisa melanggengkan kolonialisme di negara –
negara dunia ke tiga, termasuk Indonesia.
Bangsa ini lebih dari 3 abad dijajah oleh Bangsa Eropa (Portugis
kemudian Belanda), tidak hanya tenaga dan Sumber Daya Alam yang dikuras
habis, budaya pun tidak terlewatkan. Bisa dilihat dari berbagai, malah
ribuan dokumen tentang kebudayaan Indonesia yang diboyong ke negeri
Belanda dan diasosiasikan oleh suatu lembaga asal Belanda, penulis lupa
apa nama lembaga tersebut. Lain waktu mungkin penulis bisa lampirkan.
Salah satu cabang dari ilmu antroplogi ada yang disebut dengan
Antroplogi Sosial Dan Budaya. Di dalamnya ada yang membahas tentang Etnolinguistik
yaitu ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan
beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi. Selain
itu ada pula tantang Etnologi yaitu ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
Ketertarikan Atas Kampung Naga
Dalam hal ini, seperti yang telah dikategorikan oleh
sejutadatabudaya.com. Penulis tertarik untuk mengkaji tentang kebudayaan
masyarakat adat Kampung Naga. Alasannya selain penulis berdomisili di
Cirebon, Jawa Barat, yang tentunya tidak terlalu jauh dengan Kampung
Naga di Tasikmalaya. Penulis juga tertarik dengan keberadaan Kampung
Naga tersebut, karena berada di daerah yang tidak terlalu jauh dengan
pusat – pusat kota. Akan tetapi, Penduduk Kampung Naga (Masyarakat
Adatnya) bisa bertahan’ mempertahankan kebudayaan “leluhur” di tengah –
tengah hiruk-pikuknya gempuran budaya dari “tetangga sebelah”.
Itu alasan penulis mengapa tertarik ingin mengkaji masyarakat adat
Kampung Naga, bukan berati penulis tidak tertarik dengan rumah adat,
cara masyarakat melakukan kegiatan sosial-ekonomi, keagamaan dan
sebagainya. Penulis tertarik terhadap itu semua. Seperti yang sudah
disinggung di atas, ekspedisi budaya ini diharapkan bisa meraup puing –
puing dan merangkainya menjadi suatu kesatuan yang utuh tentang
kebudyaan Indonesia.
Mulailah Menulis!
Pertanyaannya bagai mana caranya? Penulis sepakat, Caranya dengan
Ekspedisi data kebudayaan ini. Ekspedisi kebudayaan dengan observasi dan
wawancara langsung, tentunya turba (turun ke basis) menetap dan menjadi
bagian dari masyarakat adat, di situ sedikit demi sedikit akan
menemukan titik terang. Dalam hal ini yang tidak bisa dilewatkan yaitu
menulis. Karena dengan menulis kembali semua tentang kebudayaan dan
kearifan lokal itu kita bisa melakukan perlawanan atas penjajahan dan
penjarahan tentang Kebudayaan Indoensia.
Tidak dapat dipungkiri, selain stabilitas ekonomi,sosial dan politik.
Salah satu cara yang ampuh untuk keluar dari “krisis” dan bertahan di
era Globalisasi ini yaitu dengan kita tidak sedikitpun melupakan akar,
yaitu kebudayaan dan kearifan lokal. Karna menurut penulis dua hal itu
bisa menjadi senjata ampuh, dan modal dasarnya yaitu kemauan dari
generasi penerus bangsa untuk mulai merangkai puing – puing yang sudah
tercecer itu menjadi satu bangunan yang utuh. Sekali lagi caranya
menurut penulis yaitu dengan mulai menulis tentang kebudayaan dan
kearifan lokal di Indonesia. Dengan begitu kita akan mencoba merangkai
wajah tentang (merawat) kebudayan Indonesia, dan ditulis oleh tangan –
tangan asli Indonesia. Bukan tangan asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar