Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Menuju Metropolitan Cirebon Raya dengan Konsep Smartcity


Prolog

            Dalam kesempatan kali ini,  tentunya penulis memberikan apresiasi kepada  panitia yang tergabung dalam  Komunitas Bloger Cirebon, dan tentunya berkat dukungan dari berbagai pihak seperti Smartfren 4G Lite serta Aston Hotel Cirebon yang telah menggelar lomba menulis dalam rangka hari jadi Komunitas Bloger dan hari jadi Kota Cirebon dengan tajuk  “Cirebon Menuju Smart City”. Penulis kira apresiasi itu patut didapatkan oleh teman – teman panitia, yang dengan susah payah ingin membangkitkan  nalar kritis melalui lomba menulis ini, yang memang sudah mulai dikesampingkan ditengah – tengah perkembangan jaman yang semakin pesat.

Sekilas Tentang  Konsep Metropolitan Cirebon Raya

Baiklah langsung saja mari kita mendiskusikan suatu tema yang ada dalam lomba kali ini yaitu “Cirebon Smart City”. Bicara soal tema tersebut, menurut penulis tidak terlepas dari isu yang telah dibangun sejak tahun 2011 oleh Pmerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengenai konsep Metropolitan Cirebon Raya. Gubenur Jabar Ahmad Heryawan pernah mengatakan bahwa di Jabar akan dibangun beberapa wilayah dengan kategori metropolitan, diantaranya yaitu Metropolitan Bodebek Kapur, Metropolitan Bandung raya dan Metropolitan Cirebon Raya.  Ketiga daerah terebut tentunya memiliki keunggulan dan potensi yang berbeda. Metropolitan Cirebon Raya (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Indramayu dan Majalengka) sendiri akan dikembangkan sebagai metropolitan budaya sejarah, dengan sektor unggulan yaitu wisata , industri dan kerjainan.

Konsep metropolitan tersebut diyakini oleh Pemerintah akan mendonkrak pembangunan ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat. Seperti kita ketahui bersama bahwasannya konsep tersebut menjadi fenomena yang sampai saat ini belum diketahui oleh penduduk pada umumnya. Padahal, konsep tersebut digadang – gadang bisa menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi, kesejahteraan, modernisasi di wilayah Jabar. Tentunya dengan adanya fenomena tersebut bisa menjadikan peluang sekaligus tantangan bagi Pemerintah (yang tergabung dalam Cirebon metropolitan) dalam menjawab dan menyelesaikannya.

Potensi dan Keunggulan yang Dimiliki

 Wilayah III Cirebon memiliki potensi yang tentunya berbeda satu sama lain anta daerahnya. Namun, dalam mengembangkan konsep Metropolitan Cirebon Raya ditarik kesimpulan bahwa keunggulan yang dimiliki ada pada sektor  budaya dan sejarah. Dalam mengindentifikasi keunggulan-keunggulan yang dimiliki masing-masing daerah, dapat dilihat berdasarkan keunggulan absolut (absolute advantage), keunggulan komparatif (comparative advantage), dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Masing-masing keunggulan tersebut dapat berbeda satu sama lainnya. Berdasarkan sumber dari Analisis Tim WJPM-DM,2011 keunggulannya sebagai berikut.

Absolute Advantage (Keunggulan Absolut):

-Daerah iklim tropis berupa dataran rendah, pegunungan dan pantai

            -Budaya Nadran (pesta laut), Syawalan Gunung Jati, Topeng Cirebon, Tarling, Sintren, Sandiwara Cirebonan, Debus, Kesenian Gembyung, Tayuban, Wayang Golek, Kuda Lumping, Ngarot, Tari Topeng Dermayon, Genjring Akrobat, dll

            - Keraton, Situs sejarah, Bumi Perkemahan, Taman Nasional Gunung Ciremai, Gedung Perjanjian, dll

            - Perkampungan batik Trusmi

            - Sungai, situ, dan waduk

 Comparative Advantage (Keunggulan Komparatif):

-Letak geografis strategis berada di Jalur Pantura

-Bandara Cakrabuwana, Stasiun Kejaksan, Pelabuhan Perikanan Kejawanan

- Ketersediaan tenaga kerja yang terampil dalam memproduksi batik dan rotan

-SDA melimpah berupa hasil laut, kayu, bahan galian, energi panas bumi, minyak dan gas

 Competitive Advantage (Keunggulan Kompetitif)

-Pelabuhan Cirebon untuk pengangkutan batu bara

- Warisan budaya Keraton

- Pengrajin batik berpengalaman selama bertahun-tahun

-Pengrajin rotan berkelas dunia

Isu dan Permasalahan yang Harus Dihadapi

Dalam mengembangkan suatu konsep tentu harus menganalisis menganai isu – isu dan permasalahan yang kerap terjadi diwilayah tersebut. Khususnya Cirebon Metropolitan memiliki beberapa isu dan permasalahan strategis yang harus dipecahkan. Beberapa isu yang ada dan sering menjadi perbincangan diantaranya yaitu seputar transportasi, sosial, kependudukan, lingkungan, dan ketersedian infrastruktur. Pertama yaitu Transportasi, seperti yang kita ketahui bersama masih banyak jalan – jalan besar atau kecil yang msih jauh dari standard, selain itu kemacetan pun kerap terjdi di beberapa ruas jalan. Hal penting yang tak kalah pentng yaitu soal keamanan dan kenyamanan berlalu lintas, begitu juga dengan sistem trasportasi publik yang belum bisa mengakomodir atau memenuhi kebutahan masyarakat pada umumnya. Secara umum, terdapat beberapa isu strategis transportasi yang menjadi perhatian khusus di wilahan BKPP III Cirebon terutama dalam lingkup Metropolitan Cirebon Raya. Isu tersebut yaitu:

1. Perbaikan Jalan Kabupaten/Kota bersama dunia usaha

2.Jalan menuju Sentra Industri, Sentra Wisata, dan Sentra Pertanian

3.Pengembangan Transportasi Massal Perkotaan dan Terminal

4.Pembangunan Bandara Kertajati

5.Pembebasan Lahan Kertajati Sisi Darat dan Udara

6.Pembebasan Lahan Segmen: Jalan Tol Sumedang-Kertajati dan Tol Cikopo – Palimanan

7.Transportasi Multi Moda dan Reaktivasi Kereta Api

(Sumber: Musrenbang Provinsi Jawa Barat, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat, 2013)

Kedua yaitu Kependudukan, penduduk merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dihilangkan dalam mengembangkan sebuah wilayah. Metropolitan Cirebon Raya memiliki beberapa masalah kependudukan yaitu seputar angka kemiskinan, pengangguran dan Indek Pembangunan Manusia (IPM) yang masih rendah. Kualitas penduduk dapat direpresentsikan melalui IPM, karena IPM bisa mempengaruhi daya saing penduduk baik ditingkat lokal, regional, nasionl maupun Internasionl. Seperti yang kita ketahui, saat ini IPM di wilayah Cirebon Metroplitan masih sangat rendah, hanya Kota Cirebon yang memiliki IPM diatas rata-rata (Sumber:TNP2K,2011).

Ketiga yaitu Infrastruktur, sudah menjadi rahasia umum bahwa ketersedian infrastruktur menjadi faktor penting dalam mengembangkan daerah. Apalagi dalam konsep Metropolitan Cirebon Raya infrstruktur menjadi salah satu isu menarik, Pemprov Jabar telah memetakan ketersedian infratruktur sebagai akses untuk menunjang menuju cita – cita Cirebon Metropolitan. Ketersedian infratruktur yang sesuai dengan arah perkembangan Cirebon metropolitan seperti keberadaan objek wisata sejaharah, wisata budaya, wisat alam, dan indurti kerajinan telah dibagi kedalam 7 sektor, diantaranya yaitu transportasi, sektor perumahan, sektor jaringan air bersih, sektor air limbah, sektor persampahan, sektor jaringan drainase, dan sektor jaringan energi (Sumber: Analisis Tim WJP-MDM,2013). Tujuh sektor ketersedian infratruktur tersebut sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat, entah Pemprov atau Pemda yang harus menyediakan anggaran sebagai keberpihakannya kepada konsep Cirebon metropolitan.


Solusi Perkotaan dengan Smart City

Dalam  menyongsong Metropolitan Cirebon Raya tentunya perlu cara dan strategi untuk menyesaikan isu dan permasalahan yang harus diselesaikan seperti kemecetan, kesenajangan sosial, kesehatan, air bersih dan maslaha persampahan. Permasalahan - permasalahan seputar perkotaan saat ini bisa diatasi dengan konsep yang sedang buming, karena tidak sedikit yang berhasil menerapkannya, yaitu Smart City (Kota Cerdas). Konsep tersebut sudah terbukti bisa mengurang permasalahan perkotaan,  Jakarta, Bandung, Surabaya dan Malang adalah sebagian contoh yang telah menerapkan konsep Smart City dan membuahkan hasil karena berdampak langsung terhadap masyarakat.
 
Tak ubahnya dengan Kota Cirebon, penulis kira perlu rasanya mulai menerapkan konsep tersebut. Penulis mencoba akan sedikit menjelaskan terkait konsep Smart City agar bisa di mengerti dan berharap bisa diterapkan di Kota Cirebon. Konsep kota pintar ini yaitu sebuah konsep tatanan kota yang bisa berperan dalam memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. Tak hanya itu, konsep Smart City bisa membantu masyarakat yang berada di dalamnya dengan mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat/lembaga dalam melakukan kegiatannya atau pun mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya.

Pada intinya penggunaan konsep Smart City yaitu memaksimalkan perkembangan dunia informasi dan teknologi untuk kepentingan dalam membangun sebuah tatanan kota. Pemerintah daerah setempat sangat berperan aktif dalam menerapkan konsep Smart City. Akselerasi - akselerasi menggunakan konsep ini sudah berhasil diterapkan seperti jakarta dengan Jakarta Smart Citynya, Surabaya dengan beberapa program seperti e-government dan e-procuremen, Bandung dengan beberapa aplikasi moderennya yang akhirnya mencetuskan slogan "Bandung Juara" karena diawali dari akselerasi walikotanya dalam menggunakan konsep Smart City.

Sebagai konseptor, kepala daerah memiliki peran aktif dalam membangun atau megimplementasikan konsep tersebut. Dalam mengembang kota menju kota pinter suatu daerah wajib memiliki beberapa ciri agar bisa dinobatkan sebagai kota pintar. Seperti yang dijelaskan dalam makalah Nurul Hasanah, seorang mahasiswi Jurusan Perencanaan Wilayah Kota Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) Smart City mempunyai 6 dimensi, yaitu Smart Government, Smart Economy, Smart Live, Smart Living, Smart People, dan Smart Mobility. Berikut adalah penjelasan lebih lanjutnya.


1) Ekonomi pintar (inovasi dan persaingan), semakin tinggiinovasi-inovasi baru yang ditingkatkan maka akan menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal.

2) Mobilitas pintar (transportasi dan infrastruktur), pengelolaan infrastruktur kota yang dikembangkan di masa depan merupakan sebuah sistem pengelolaan terpadu dan diorientasikan untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan publik.

3) Masyarakat pintar (kreativitas dan modal sosial), pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi (economic capital), modal usaha (human capital), maupun modal sosial (social capital). Kemudahan akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM dapat meningkatkan kemampuan keterampilan mereka dalam mengembangkan usahanya. Modal sosial termasuk elemen-elemen seperti kepercayaan, gotong-royong, toleransi, penghargaan, saling memberi dan saling menerima serta kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti meningkatnya rasa tanggungjawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan menurunnya tingkat kejahatan.

4) Lingkungan pintar (keberlanjutan dan sumber daya), lingkungan pintar itu berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan, keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak, bagi masyarakat dan publik lingkungan yang bersih tertata, RTH yang stabil merupakan contoh dari penerapan lingkungan pintar.

5) Cerdas hidup (kualitas hidup dan kebudayaan), berbudaya berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam artian selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara langsung maupun tidak langsung merupakan hasil dari pendidikan. Maka kualitas pendidikan yang baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan atau budaya yang berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.

6) Pemerintahan yang cerdas (pemberdayaan dan partisipasi), kunci utama keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan adalah Good Governance, yang merupakan paradigma, sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas ditambah dengan komitmen terhadap
tegaknya nilai dan prinsip “desentralisasi, daya guna, hasil guna, pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab, dan berdaya saing”.

Adanya konsep Smart City ini sudah bisa menyelesaikan sedikit demi sedikit masalah perkotaan, dan masyarakat pun secara tidak langsung turut andil dalam pengambilan keputusan. Sekarang pertanyaannya apakah Kota Cirebon mampu? Sangat mampu. Diantara daerah lain sewilayah tiga, Kota Cirebon memilikipotensi SDM yang paling baik. Bagaimana cara menerapkan konsep smart city di Kota Cirebon.Langkah awal yang dilakukan Kota Cirebon bisa saja dengan cara - cara sederhana yang dilakukan Ridwan Kamil, Walikota Bandung yaitu mewajibkan seluruh kepala SKPD melek teknologi, dan wajib menggunakan akun media sosial. Tujuannya yaitu agar masyarakat bisa berkomunikasi langsung dengan pejabat pelayan publik, dengan itu permasalahanpublik diharapkan bisa diselesaikan cepat dan tepat.

Selain cara itu, pemanfaatan teknologi bisa mulai dilakukan. Bisa saja dengan menggandeng investor untuk melakukanpengadaan aplikasi yang bisa membantu kepala daerah dalam mengambil keputusan. Bisa juga dengan menerapkan e-budgeting, e-delivery, e-controlling, dan e-monitoring. Banyak cara untuk menuju konsep Smart City, langkah - langkah kecil awal perlu dilakukan secepat mungkin, agar Kota Cirebon bisa mulai melakukan penataan kota sebelum semua permasalahan seperti kemacetan, sampah, transformasi, air besih semakin susah dipecahkan di Kota Cirebon.  


Kesimpulan

Beberapa pembangunan infrastruktur penunjang yang penulis sebutkan diatas yaitu sudah termasuk dalam Grand Design Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Hal itu dilakukan dalam rangka menyambut pasar bebas dunia yang sudah diawali dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di awal tahun 2015 ini. Pemerintah Indonesia yang saat ini dinahkodai oleh Jokowi dan JK mewacanakan akan mengintegrasikan pulau – pulau di Indonesia dengan membangun dan mengembangkan beberapa pelabuhan. Transportasi jalur laut akan di perhatikan karena memang bisa meminimalisir cost trasportasi barang dan jasa. Pelabuhan berada di Cirebon, pusat perputaran arus barang dan jasa dimasa depan akan berada di Cirebon. Apabila disimpulkan, daerah wilayah III Cirebon bukan lagi sekedar tempat transit, akan tetapi akan menjadi tempat destinasi barang dan jasa.

Perlu dipahami, semua fasilitas yang disediakan untuk menunjang arus produksi barang dan jasa semata – mata  tidak disengaja atau kebetulan. Sudah ada Grand Design yang dirancang oleh pro- Neoliberalisme yang akan menjadikan Cirebon sebagai pusat arus perdagangan barang dan jasa yang ditopang oleh beberapa daerah disekitarnya seperti Indramayu, Majalengka dan Kuningan sebagai penyeimbangnya. Konsep Cirebon Metropolitan bahkan Megapolitan tidak hanya sebatas wacana, sudah dipersiapakan jauh – jauh hari. Daripada kita terus – terus menolak, lebih baik kita semua duduk bersama mencari solusi yang bisa ditawarkan, bahkan tidak hyanya solusi suatu konsep pembangunan pun bisa kita tawarkan. Lalu kita awasi dan terus mengawal sejauh mana konsep yang sudah kita tawarkan. Jangan sampai ketika kita menolak dengan keras, dan pada akhirnya kita tetap menjadi pembantu di rumah sendiri. Itu Pekerjaan Rumah (PR) yang harus kita kerjakan bersama – sama.

Baiklah mari kita mencoba membuka mata, dan merubah pola piker kita. Penulis dalam hal ini bermaksud mengajak kita semua untuk melihat atau mengacu pada pengalaman daerah – daerah lainnya. Coba kita tengok, Jakarta, Bekasi, Tanggerang. Apakah penduduk aslinya bisa bertahan? Tidak sedikit pribumi yang keseok – seok. Kultur, kearifan local dan adat istiadat asli daerah tersebut semakin hilang. Kita semua harus belajar dari hal tersebut. Bagaimana caranya pembangunan terus berjalan tanpa mengorbankan pribumi dan warga Negara sendiri, bagaimana meningkatkan sumber daya manusia dengan kualitas pendidikan. Bagaimana memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Bagaimana mempertahankan kearifan lokal sebagai pondasi. Cirebon Metropolitan suatu keniscayaan, kita semua harus menghadapinya dan memberikan ramuan untuk mencegah efek buruknya.

Beberapa penjelasan dan solusi yang coba penulis paparkan dalam artikel ini hanya sebagian kecil, masih banyak permasalahan dan tantangan yang akan kita hadapi. Solusi yang coba penulis tawarkan pun sama, ini hanya bentuk gagasan atau subjektifitas penulis dalam memandang permasalahan dan solusi yang coba dilemparkan kepada publik. Mau tidak mau, suka tidak suka era globalisasi sudah sejengkal dihadapan mata kita. Kita tidak lagi membicarakan dan memperdebatkan siap atau tidak siap kita dalam menyambutnya. Cirebon akan menjadi tempat destinasi dan daerah – daerah sekitarnya sebagai penopang sudah merupakan kenyataan yang akan kita hadapi bersama. Alangkah lebih baiknya saat ini kita membuka pikiran kita untuk mencarikan solusi dalam mengawalnya.

Sebagai daerah yang akan menyongsong metropolitan yang tentunya akan menjadi kota pintar (Smart City), harus mulai melakukan langkah - langkah stategis. Hal terpenting menurut penulis dalam menyongsong Metropolitan Cirebon raya dengan konsep Smart City bisa dengan 2 langkah awal yaitu Smart Goverment and Smart Society. Pemerintahan yang pintar dan sehat serta masyarakat yang cerdas akan selalu saling berkontribusi dalam membangunan kota. Untuk itu, tak kalah penting dalam hal ini yaitu solidaritas dan kerjsama antar sesama pemerintah daerah (Pemimpinnya) dalam membangun kawsan Cirebon Metropolitan yang sudah pasti akan terjadi. Sudah saatnya menghilangkn ego sektoral demi kemajuan bersama, mari kita menyongsong hari esok denga beljar dari masalalu.

Lagi lagi, dari semua contoh kota - kota yang sukses menerapkan konsep Smart City untuk menyongsong perkembangan masyarakat perkotaan yaitu membutuhkan seorang sosok pemimpin yang cerdas dan berkualitas.Dalam hari jadi Kota Cirebon ini, penulisan coba mengajak untuk berfikir mulai terbuka dan berfikir mendunia. Kota Cirebon memiliki potensial tinggi, butuh kerja keras yang ekstra dari seorang pemimpinnya, kemampuan dan kemuan untuk berpihak pada masyarakat menjadi pilarnya.  Kalau tidak sekarang, mau sampai kapan dan mau dibawa kemana Kota Cirebon (Quo Vadis)? Didalam Pemimpin yang 'sehat' terdapat Masyarakat yang 'kuat'.

3 komentar:

  1. Cirebon emang..banyak tempat menarik..dn berpotensi jadi metropolitan..

    BalasHapus
  2. Makasih bung Aji..

    Nova, sangat berpotensi sekali..

    BalasHapus